7 Hal yang Perlu Diajarkan pada Anak Jika Mengalami Bully di Sekolah

Sebuah video menampilkan anak perempuan cedera akibat dugaan kekerasan di sekolah, memicu diskusi luas tentang pentingnya perlindungan dan edukasi keselamatan bagi anak.
Ada beberapa hal yang perlu orangtua ajarkan kepada anak untuk terhindar dari bullying, salah satunya adalah mengajarkan bela diri.
Orangtua disarankan mengajarkan anak keterampilan dasar seperti bela diri untuk evakuasi aman, penggunaan suara tegas, pelaporan ke orang dewasa, dan kebiasaan bercerita setelah sekolah.
Belakangan ini beredar video yang memperlihatkan seorang anak perempuan mengalami cedera di bagian leher setelah diduga dijerat menggunakan tali ompreng program Makan Bergizi Gratis (MBG). Video tersebut kemudian memicu banyak diskusi di media sosial, termasuk munculnya berbagai konten yang mengajarkan teknik bela diri untuk melawan pelaku.
Meski kemampuan membela diri bisa menjadi bekal yang baik, para ahli keselamatan anak menekankan bahwa tujuan utama bukanlah mengalahkan pelaku, melainkan menyelamatkan diri dan mencari bantuan secepat mungkin. Karena itu, ada beberapa hal penting yang bisa mulai diajarkan orangtua kepada anak sejak dini.
Berikut Popmama.com rangkum 7 Hal yang Perlu Diajarkan pada Anak Jika Mengalami Kekerasan Fisik di Sekolah
1. Ajarkan anak mengenali tanda-tanda bahaya sejak dini

Tidak semua tindakan teman sebaya bisa dianggap bercanda. Ketika ada tindakan yang membuat anak kesakitan, kesulitan bernapas, merasa takut, atau terancam, anak perlu memahami bahwa situasi tersebut sudah tidak aman dan harus segera dihentikan.
2. Ajarkan anak untuk segera menjauh dari sumber bahaya

Saat menghadapi situasi berbahaya, prioritas utama adalah menyelamatkan diri. Anak perlu tahu bahwa mereka boleh berlari, berpindah tempat, atau mencari orang dewasa terdekat jika merasa terancam.
3. Bekali anak dengan kemampuan bela diri dasar
Dilansir dari akun instagram @ade_msujud, seorang instruktur martial arts yang menunjukkan cara melepaskan diri dari jeratan mengingatkan kita bahwa kemampuan bela diri juga bisa menjadi bekal penting bagi anak.
Bela diri bukan tentang mengalahkan orang lain, melainkan membantu anak melindungi dirinya saat menghadapi situasi darurat. Anak dapat belajar teknik sederhana seperti menjaga keseimbangan tubuh, melepaskan pegangan, menciptakan jarak aman, dan melarikan diri ketika ada kesempatan.
Yang terpenting, anak perlu memahami bahwa tujuan utama bela diri adalah keluar dari bahaya dengan selamat, bukan membalas atau mencari perkelahian.
4. Latih anak menggunakan suara yang tegas

Dalam situasi terancam, suara bisa menjadi alat perlindungan yang efektif. Ajarkan anak untuk mengatakan “Stop!”, “Jangan pegang aku!”, atau “Tolong!” dengan suara lantang agar menarik perhatian orang di sekitar.
5. Pastikan anak tahu kepada siapa harus melapor

Anak perlu mengetahui siapa saja orang dewasa yang bisa membantu ketika terjadi masalah, mulai dari guru, wali kelas, guru BK, petugas sekolah, hingga orangtua di rumah.
6. Bangun kebiasaan bercerita setelah pulang sekolah

Banyak kasus perundungan baru terungkap setelah berlangsung cukup lama. Karena itu, biasakan mengobrol ringan setiap hari agar anak merasa nyaman menceritakan pengalaman yang dialaminya di sekolah.
7. Jangan anggap semua konflik anak sebagai hal sepele

Kalimat seperti “namanya juga anak-anak” sering kali membuat tanda-tanda perundungan terlewat. Jika ada tindakan yang membahayakan keselamatan fisik maupun mental anak, orangtua dan sekolah perlu menanggapinya dengan serius.


















