Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Miris! Santri di Pamekasan Diduga Dipukul 7 Senior Pakai Kawat Panas

4 min read
Miris! Santri di Pamekasan Diduga Dipukul 7 Senior Pakai Kawat Panas
Instagram.com/wecarebangkalanmadura
  • Seorang santri 17 tahun di Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Pamekasan, diduga dikeroyok tujuh senior pada 28 September 2026 setelah dituduh mencuri Rp300 ribu.

  • Keluarga menyebut korban dipaksa mengaku di bawah ancaman, lalu diduga dipukul dan disiksa kawat hanger panas hingga mengalami lebam, luka bakar, serta dugaan patah tulang belakang.

  • Kasus terungkap saat ayah menjenguk korban pada 2 Oktober; setelah dirujuk ke RSUD, keluarga melapor ke Polres Pamekasan yang kini mengumpulkan bukti dan memeriksa pihak terkait.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kasus dugaan penganiayaan dan kekerasan terhadap anak kembali terjadi di lingkungan lembaga pendidikan.

Kali ini kasus yang membuat pilu ini terjadi di lingkungan pesantren. Seorang santri berusia 17 tahun diduga menjadi korban pengeroyokan oleh 7 seniornya.

Diketahui insiden pengeroyokan tersebut terjadi di Pondok Pesantren Mambaul Ulum, Desa Ponjanan Timur, Kecamatan Batumarmar, Pamekasan, Jawa Timur, pada Senin (28/9/2026) sekitar pukul 23.00 WIB.

Peristiwa ini bermula saat korban dituduh mencuri uang milik sesama santri sebesar Rp300 ribu, hingga berujung pada aksi penganiayaan fisik hingga patah tulang. Sebelum akhirnya dilaporkan keluarga ke Polres Pamekasan pada Senin (5/10/2026).

Intip kronologi santri di Pamekasan diduga dipukul 7 senior pakai kawat panas hanya di Popmama.com

  1. Berawal dari Tuduhan Pencurian Uang Rp300 Ribu

    Kronologi santri di Pamekasan berawal dari tuduhan mencuri uang
    Pinterest.com/dirnad

    Dugaan pengeroyokan ini dipicu oleh tuduhan bahwa korban mengambil uang senilai Rp300 ribu milik salah satu santri di pondok pesantren.

    Menurut keterangan pihak keluarga, korban dipaksa untuk mengakui perbuatan tersebut di bawah tekanan dan ancaman dari sejumlah oknum pengurus keamanan sekolah.

    Mengutip dari kabarmadura.id, ​kerabat korban, Halimatus Sakdiyah, mengungkapkan bahwa korban terpaksa mengaku karena merasa nyawanya terancam:

    ​"Setelah itu dapat pengakuan katanya itu dipaksa untuk mengaku sebagai pencuri uang Rp300 ribu. Setelah diselidiki, ternyata yang mencuri itu yang memukul," ujar Halimatus.

    "Bagaimana, kalau aku enggak mengaku mencuri, aku mati," tambah Halimatus menirukan ucapan korban.

  2. Dugaan Disiksa Menggunakan Kawat Panas dan Dipukuli

    Santri di Pamekasan diduga dipukul pakai kawat panas dan disiksa seniornya
    Pexels/Musa Artful

    Pelaku melakukan kekejaman dengan tindakan kekerasan fisik.

    Berdasarkan berbagai sumber, diketahui kekerasan fisik korban diduga dilakukan secara bersama-sama oleh para pelaku.

    Sebagian pelaku memegang tangan dan menutup mulut korban agar tidak berteriak, sementara yang lain melakukan pemukulan.

    Tak hanya itu, korban juga diduga disiksa menggunakan hanger atau gantungan baju kawat yang dipanaskan lalu disentuhkan ke tubuhnya.

  3. Kejadian Terbongkar ketika Orangtua Korban Datang Menjenguk

    Papa duduk disamping anak remaja laki-laki yang menangis
    Pexels/Kindel Media

    Peristiwa itu tidak langsung terungkap begitu saja. Usai mengalami penganiayaan fisik, korban berada di bawah tekanan psikologis yang hebat serta ancaman dari para pelaku.

    Insiden ini baru terbongkar beberapa hari kemudian, tepatnya pada Jumat (2/10/2026), ketika ayah korban, Ahmad Ramli, datang menjenguk anaknya di pesantren.

    Alangkah terkejutnya sang ayah saat mendapati kondisi fisik anaknya yang sangat memprihatinkan.

    Korban ditemukan dalam kondisi sakit parah dengan posisi tubuh membungkuk, lemah, dan bahkan tidak mampu berdiri atau berjalan dengan normal akibat cedera berat yang dialaminya.

    Kerabat korban, Halimatus Sakdiyah, menceritakan momen pilu saat pihak keluarga pertama kali melihat kondisi korban ketika dipulangkan.

    "Kagetlah orang tuanya, kok sampai separah ini," tutur Halimatus.

    Melihat anaknya kesakitan dan tak berdaya, orangtua korban langsung mengambil tindakan cepat.

    Korban akhirnya dievakuasi guna mendapatkan perawatan medis darurat serta pengusutan hukum lebih lanjut.

  4. Korban Mengalami Luka Parah dan Harus Dirujuk ke Rumah Sakit

    Kondisi terkini santri di Pamekasan diduga dikeroyok 7 seniornya
    Instagram.com/wecarebangkalanmadura

    Dampak dari dugaan tindakan penganiayaan oleh senior ini menyisakan cedera fisik yang sangat serius pada tubuh korban.

    Pihak keluarga yang mendapati kondisi anaknya dalam keadaan mengenaskan segera membawa korban ke Klinik Pratama dr. Fajar untuk memperoleh penanganan medis awal.

    ​Namun, karena skala cederanya yang terbilang parah, korban harus dirujuk ke RSUD Mohammad Noer Pamekasan. Hal ini supaya korban bisa mendapatkan perawatan intensif secara berkelanjutan.

    Melansir dari berbagai sumber, hasil pemeriksaan dan keterangan keluarga, korban mengalami luka lebam hampir di seluruh bagian tubuh.

    Luka tersebut akibat benturan keras, luka bakar membekas akibat sentuhan gantungan baju kawat yang dipanaskan, hingga dugaan patah tulang belakang serta cedera pada tangan dan lutut sampai tak sadarkan diri.

  5. Proses Hukum masih Berlanjut ditangani oleh Polres Pamekasan

    Polres Pamekasan
    Instagram.com/polres_pamekasan1

    Laporan resmi telah diterima oleh Polres Pamekasan pada Senin malam (5/10/2026).

    Personel kepolisian langsung mendatangi rumah korban, mengumpulkan barang bukti, serta memanggil para saksi dan pihak terlapor yang diperkirakan berjumlah 7 orang senior pengurus keamanan pondok.

    ​Melansir dari berbagai sumber, Kasi Humas Polres Pamekasan, IPDA Yoni Evan Pratama, menegaskan komitmen kepolisian dalam menangani perkara ini.

    ​"Kasus ini sudah ditangani oleh Satreskrim Polres Pamekasan untuk proses penyelidikan dan penyidikan lebih lanjut. Langkah awal yang dilakukan penyidik adalah mengumpulkan bukti-bukti, melakukan visum, serta memanggil saksi-saksi dan pihak terlapor untuk dimintai keterangan," tegas IPDA Yoni Evan Pratama.

    Itulah kronologi santri di Pamekasan diduga dipukul 7 senior pakai kawat panas. Sampai saat ini proses hukum masih berlanjut, namun penting untuk Mama dan Papa selalu memantau kondisi fisik dan emosional anak secara berkala.

    Serta menjaga komunikasi dengan anak, supaya ia merasa aman bercerita ketika mengalami masalah.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More