Penggunaan rokok elektrik atau vape kian marak di kalangan remaja. Dengan bentuk yang simpel, pilihan rasa yang bervariasi, serta kerap dipromosikan sebagai alternatif yang lebih “aman” dibanding rokok, banyak remaja menganggap vape sebagai kebiasaan yang wajar dan minim risiko.
Melansir laman Kementerian Kesehatan, hasil Global Adult Tobacco Survey (GATS) menunjukkan bahwa prevalensi penggunaan rokok elektrik di Indonesia meningkat dari 0,3 persen pada 2019 menjadi 3 persen pada 2021.
Di balik uap beraroma tersebut tersimpan zat-zat kimia yang bukan sekadar mengiritasi paru-paru. Beberapa di antaranya bahkan telah dikaitkan dengan penyakit paru-paru serius.
Salah satu yang mulai banyak disorot adalah popcorn lung, kondisi langka namun berbahaya yang dapat menyebabkan gangguan saluran napas permanen.
Berikut Popmama.com merangkum alasan mengapa orangtua perlu mengingatkan anak remaja tentang bahaya vape, termasuk risikonya terhadap penyakit popcorn lung.
