Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Mengisi cairan vape
Freepik

Intinya sih...

  • Maraknya penggunaan vape di kalangan remaja menyimpan risiko serius karena uapnya mengandung zat kimia berbahaya yang dapat memicu penyakit paru langka seperti popcorn lung

  • Paparan diacetyl melalui vape, terutama dalam penggunaan jangka panjang, dapat meningkatkan risiko terjadinya popcorn lung yang menyebabkan penyempitan saluran napas dan gangguan paru permanen

  • Peran aktif orangtua melalui komunikasi, edukasi, dan pengawasan sangat penting untuk melindungi anak remaja dari bahaya vape dan dampak kesehatannya

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Penggunaan rokok elektrik atau vape kian marak di kalangan remaja. Dengan bentuk yang simpel, pilihan rasa yang bervariasi, serta kerap dipromosikan sebagai alternatif yang lebih “aman” dibanding rokok, banyak remaja menganggap vape sebagai kebiasaan yang wajar dan minim risiko.

Melansir laman Kementerian Kesehatan, hasil Global Adult Tobacco Survey (GATS) menunjukkan bahwa prevalensi penggunaan rokok elektrik di Indonesia meningkat dari 0,3 persen pada 2019 menjadi 3 persen pada 2021.

Di balik uap beraroma tersebut tersimpan zat-zat kimia yang bukan sekadar mengiritasi paru-paru. Beberapa di antaranya bahkan telah dikaitkan dengan penyakit paru-paru serius.

Salah satu yang mulai banyak disorot adalah popcorn lung, kondisi langka namun berbahaya yang dapat menyebabkan gangguan saluran napas permanen.

Berikut Popmama.com merangkum alasan mengapa orangtua perlu mengingatkan anak remaja tentang bahaya vape, termasuk risikonya terhadap penyakit popcorn lung.

1. Apa itu popcorn lung?

Freepik/8photo

Popcorn lung adalah istilah awam untuk bronchiolitis obliterans, yaitu penyakit paru-paru langka yang menyebabkan peradangan dan jaringan parut pada saluran udara kecil di paru-paru.

Kondisi ini membuat aliran udara menyempit, sehingga penderitanya mengalami gangguan pernapasan yang bersifat menetap.

Nama popcorn lung pertama kali dikenal setelah sejumlah pekerja pabrik popcorn microwave mengalami kerusakan paru-paru akibat paparan zat kimia tertentu. Meski terdengar sepele dari namanya, penyakit ini tergolong serius karena tidak dapat disembuhkan secara total dan hanya bisa dikendalikan agar tidak semakin parah.

Pada penderita popcorn lung, jaringan parut yang terbentuk di saluran napas dapat mengganggu kemampuan paru-paru dalam menyerap oksigen. Jika paparan zat pemicunya terus berlanjut, kondisi ini berisiko berkembang menjadi gangguan pernapasan berat hingga gagal napas.

2. Kandungan berbahaya dalam vape

Freepik

Beragam rasa yang ditawarkan vape sering membuat produk ini terlihat tidak berbahaya. Padahal, cairan vape atau e-liquid mengandung berbagai bahan kimia yang jika dipanaskan dan dihirup, dapat menimbulkan dampak serius bagi paru-paru.

Salah satu zat yang menjadi perhatian adalah diacetyl, bahan kimia yang digunakan untuk memperkuat aroma dan rasa, terutama pada varian manis seperti vanila, karamel, atau mentega. Zat ini aman dikonsumsi dalam makanan, tetapi berbahaya jika terhirup langsung ke paru-paru.

“While diacetyl was removed from popcorn products, e-cigarette users are directly inhaling this harmful chemical into their lungs.” papar American Lung Association.

Jadi, meski diacetyl sudah tidak lagi digunakan dalam produk popcorn karena risikonya bagi kesehatan paru-paru, pengguna vape justru menghirup zat ini secara langsung melalui uap vape. Paparan berulang inilah yang kemudian dikaitkan dengan peningkatan risiko terjadinya popcorn lung.

Selain diacetyl, vape juga umumnya mengandung propylene glycol (PG) dan glycerol, dua bahan utama yang berfungsi menghasilkan uap. Ketika dipanaskan dan dihirup secara terus-menerus, zat ini dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu peradangan, terutama pada paru-paru anak remaja yang masih berkembang.

3. Dampak jangka panjang penggunaan vape

Freepik

Meski sering dianggap lebih ringan dibanding rokok biasa, penggunaan vape tetap membawa risiko serius bagi kesehatan paru-paru, terutama jika dilakukan dalam jangka panjang.

Uap yang dihasilkan vape mengandung partikel halus dan zat kimia yang dapat masuk hingga ke saluran napas bagian terdalam. Paparan zat tersebut secara terus-menerus berpotensi memicu peradangan kronis pada jaringan paru.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan penurunan elastisitas paru-paru, sehingga proses keluar-masuk udara menjadi tidak seoptimal seharusnya. Akibatnya, napas menjadi lebih pendek dan tubuh lebih cepat lelah saat beraktivitas.

Selain itu, penggunaan vape juga dapat mengganggu fungsi silia, yaitu rambut-rambut halus di saluran pernapasan yang berperan menyaring kotoran dan kuman. Ketika silia terganggu, paru-paru menjadi lebih rentan terhadap infeksi saluran pernapasan, iritasi berulang, dan gangguan pernapasan yang sulit sembuh.

Kerusakan atau gangguan fungsi paru yang terjadi sejak usia muda dapat bersifat menetap dan meningkatkan risiko masalah pernapasan di kemudian hari, termasuk penurunan kapasitas paru saat dewasa.

4. Gejala awal popcorn lung yang perlu diwaspasdai

Freepik/stockking

Salah satu tantangan dalam mendeteksi popcorn lung adalah gejalanya yang tidak selalu muncul secara tiba-tiba. Pada tahap awal, keluhan yang dialami sering kali tampak ringan dan kerap disalahartikan sebagai masalah pernapasan biasa.

Gejala yang paling umum adalah batuk kering yang berlangsung lama dan tidak kunjung membaik meski sudah diobati. Anak juga dapat mengalami napas pendek, terutama saat beraktivitas fisik ringan, seperti naik tangga atau berolahraga, padahal sebelumnya tidak pernah mengalami keluhan serupa.

Selain itu, mengi atau bunyi napas seperti siulan bisa menjadi tanda awal gangguan pada saluran udara kecil. Pada beberapa kasus, anak juga mengeluhkan rasa tidak nyaman di dada atau cepat lelah tanpa sebab yang jelas.

Gejala popcorn lung kerap berkembang secara perlahan dan dapat memburuk jika paparan zat pemicunya terus berlanjut, termasuk dari penggunaan vape.

Karena itu, penting bagi orangtua untuk tidak mengabaikan keluhan pernapasan yang berlangsung lama pada anak remaja dan segera berkonsultasi ke tenaga medis jika gejala tidak kunjung membaik.

5. Penggunaan vape di kalangan remaja semakin mengkhawatirkan

Freepik

Penggunaan vape di kalangan anak tidak muncul begitu saja, tetapi dipengaruhi oleh berbagai faktor di lingkungan sekitar. Vape kerap dipersepsikan sebagai bagian dari gaya hidup modern, terutama karena bentuknya yang ringkas, desain menarik, dan pilihan rasa yang beragam.

Di media sosial, vape kerap ditampilkan sebagai sesuatu yang keren dan tidak berbahaya melalui konten asap tebal, desain perangkat yang unik, hingga pilihan rasa manis, sehingga membentuk anggapan bahwa vape merupakan kebiasaan yang lumrah di kalangan anak muda.

Faktor pertemanan juga memegang peran besar. Banyak anak mulai mencoba vape karena ajakan teman atau rasa ingin tahu, tanpa memahami kandungan dan dampak kesehatannya. Dalam situasi ini, vape sering dipakai sebagai simbol penerimaan sosial, bukan karena kebutuhan nikotin semata.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi orangtua. Ketika vape sudah dianggap “biasa” di lingkungan anak, risiko penggunaannya pun cenderung diremehkan. Padahal, tren yang terus meningkat ini berbanding lurus dengan potensi masalah kesehatan jangka panjang, termasuk gangguan paru-paru.

6. Mengapa remaja lebih rentan terhadap dampak vape

Freepik

Remaja berada dalam fase perkembangan fisik dan psikologis yang membuat mereka lebih rentan terhadap dampak vape. Salah satu faktor utamanya adalah perkembangan paru-paru dan otak yang belum sepenuhnya matang, sehingga lebih sensitif terhadap paparan zat kimia dari vape.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan bahwa sebagian besar vape mengandung nikotin yang memiliki efek adiktif serta dapat membahayakan perkembangan otak remaja.

Kandungan nikotin dalam vape dapat memperkuat risiko tersebut. Nikotin bersifat adiktif dan dapat memengaruhi fungsi otak, terutama pada usia remaja yang masih berada dalam masa pembentukan kemampuan berpikir dan pengendalian diri.

Dampak ini membuat remaja lebih mudah mengalami ketergantungan, sekaligus lebih sulit menghentikan kebiasaan menggunakan vape. Jika dibiarkan, paparan zat berbahaya sejak usia muda dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan di kemudian hari, termasuk masalah pada sistem pernapasan.

7. Peran orangtua dalam mencegah remaja menggunakan vape

Freepik

Langkah awal yang bisa dilakukan adalah membangun komunikasi terbuka dengan anak. Orangtua perlu menciptakan ruang aman agar anak mau bercerita tanpa takut dihakimi, termasuk soal pergaulan dan kebiasaan yang sedang tren di lingkungannya.

Memberikan edukasi berbasis fakta juga tidak kalah penting. Anak perlu memahami bahwa vape bukan sekadar uap beraroma, tetapi mengandung zat kimia yang berisiko bagi kesehatan paru-paru. Penyampaian informasi sebaiknya dilakukan dengan bahasa yang mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan anak sehari-hari, bukan sekadar larangan.

Selain itu, orangtua juga perlu peka terhadap perubahan perilaku dan kondisi kesehatan anak, seperti batuk berkepanjangan, mudah sesak, atau penurunan stamina. Tanda-tanda ini tidak boleh diabaikan dan sebaiknya segera dikonsultasikan ke tenaga medis jika terus berulang.

Orangtua dapat menjadi contoh dengan menerapkan gaya hidup sehat di rumah. Dukungan lingkungan keluarga yang positif dapat membantu anak lebih bijak dalam mengambil keputusan dan tidak mudah terpengaruh oleh tren yang berisiko.

Dengan pemahaman yang tepat dan peran aktif orangtua, anak dapat lebih terlindungi dari risiko kesehatan jangka panjang, termasuk penyakit paru-paru seperti popcorn lung.

Editorial Team