Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Anak Minta Izin Harus ke Mama atau Papa? Jangan Sampai Salah Kaprah
Freepik/Lifestylememory

Mama, pernah nggak ketika anak meminta izin lalu kita larang, kemudian anak justru lari ke Papa dan mendapat jawaban "boleh"?

Ternyata, hal ini bukan berarti Papa baik hati pada anak, melainkan tanda wibawa rumah tangga sedang diadu domba. Seperti yang dibagikan oleh Mama konten kreator @vitaherdiyanti yang kerap berbagi edukasi parenting.

Dalam salah satu unggahannya, ia menjelaskan bahwa masih banyak orangtua yang salah kaprah dalam memahami ke mana anak harus meminta izin.

Biar nggak salah kaprah lagi, berikut Popmama.com rangkumkan beberapa poin penting agar manajemen rumah tangga tetap solid.

1. Pahami struktur perusahaan rumah tangga

Freepik

Mama Vita dalam unggahannya mengibaratkan rumah tangga sebagai sebuah organisasi atau perusahaan. Dalam struktur ini, Papa berperan sebagai CEO atau kepala sekolah yang bertugas menentukan visi, aturan utama, serta kebijakan besar keluarga.

Sementara itu, Mama berperan sebagai manajer operasional atau wali kelas yang menjalankan aturan tersebut secara harian.

Secara hierarki, Papa memang pemimpin tertinggi, tapi Papa telah mendelegasikan wewenang harian kepada Mama. Oleh karena itu, kedua peran ini harus berjalan beriringan dan saling mendukung, Ma, Pa.

2. Bedakan ranah izin antara Mama dan Papa

Pexels/Gustavo Fring

Perlu diketahui bahwa nggak semua izin harus anak tanyakan langsung kepada Papa. Ada pula ranah operasional yang sepenuhnya menjadi wewenang Mama, seperti urusan makan, pakaian, waktu bermain, hingga pekerjaan rumah.

Di ranah ini, Papa nggak perlu ikut campur apalagi melakukan mikro management yang mendetail sampai anak pun bingung.

Namun sebaliknya, ada ranah prinsip yang perlu diputuskan oleh Papa setelah berdiskusi dengan Mama, misalnya pemilihan sekolah, izin menginap, kepemilikan gawai atau kendaraan, hingga aturan berpacaran.

Kalau pembagian ini sudah jelas, anak pun nggak akan bingung ketika meminta izin. Nggak cuma anak, tapi Mama dan Papa juga nggak akan lagi saling tumpang tindih karena adanya kedua perbedaan.

3. Terapkan protokol satu suara

Freepik

Kesalahan fatal yang kerap dilakukan Papa adalah menjadi penyelamat saat Mama sudah melarang. Mama pasti sering kali merasa jengkel ketika Papa bersikap demikian, kan?

Ketika Mama sudah mengatakan nggak, Papa juga nggak boleh mengatakan iya di depan anak. Tindakan itu justru bisa merusak wibawa Mama dan membuat anak belajar menyepelekan Mamanya karena merasa memiliki sandaran dari Papa.

Lebih lanjut, Mama Vita menyarankan protokol satu suara, yakni setiap kali anak merengek kepada Papa, cukup jawab dengan kalimat, "Kata Mama bagaimana? Kalau Mama bilang nggak, berarti Papa juga nggak."

Hal ini menunjukkan bahwa manajemen orangtua dalam mendidik anaknya itu solid dan tak bisa dipecah belah oleh siapa pun, termasuk anak sendiri.

Jadi, dapat digarisbawahi bahwa sebagai orangtua, kita perlu saling mendukung dan jalan beriringan untuk kepentingan anak, Ma, Pa.

Jika Papa nggak setuju dengan keputusan Mama, tegurlah Mama secara privat di dalam kamar, bukan di depan anak. Di depan anak, Mama dan Papa harus tampak sebagai satu paket yang utuh.

Jangan biarkan anak belajar 'politi'k dua kaki sejak dini, karena konsistensi dan kesatuan suara orangtualah yang menjadi fondasi utama rasa hormat anak terhadap kita sebagai orangtua.

Editorial Team