7 Alasan Anak Lebih Memilih Papa dari Mama, Bukan Penolakan

Ma, pernah nggak merasa tertolak oleh si Kecil ketika ia berkata, "Nggak mau sama Mama, maunya sama Papa!" Padahal, Mama yang tiap hari menemani, menyiapkan makanan, dan mengurus segala kebutuhannya.
Tenang, Ma, Mama tidak sendirian. Momen seperti ini memang kerap terjadi pada anak usia balita yang sedang dalam masa tumbuh kembang.
Meski terasa menyakitkan, sikap ini sebenarnya bukan bentuk penolakan terhadap Mama. Justru, ini adalah bagian dari proses mereka belajar mengelola emosi, membangun rasa aman, dan melatih kemandirian.
Melansir dari berbagai sumber, berikut Popmama.com rangkumkan informasinya untuk Mama agar lebih memahami sisi balita di balik sikap tersebut.
1. Cermin kedekatan dengan Mama

Saat si Kecil menolak Mama dan memilih Papa, ini justru mencerminkan rasa aman yang mendalam. Balita merasa cukup nyaman untuk menunjukkan preferensi karena mereka tahu Mama akan tetap ada, apa pun pilihannya.
Ini bukan tanda kurang sayang ya, Ma, justru sebaliknya. Si Kecil merasa aman sehingga berani mengekspresikan keinginannya.
Dalam psikologi anak, ini disebut secure attachment, di mana anak tahu bahwa orangtua akan tetap menjadi tempat aman meski ia sedang tidak memilihnya.
2. Sedang belajar merasa berkuasa

Perlu Mama pahami bahwa anak usia balita sedang dalam tahap ingin merasa memiliki kendali atas dunianya. Memilih siapa yang akan menemani, mengganti popok, atau membacakan buku adalah salah satu cara mereka melatih rasa berkuasa.
Ini adalah bagian dari perkembangan otonomi yang sehat. Jadi, ketika si Kecil bersikeras ingin Papa, itu bukan karena Mama kurang baik, melainkan karena ia sedang berlatih membuat keputusan sendiri.
3. Hanya perilaku sesuai usianya

Ingat, Ma, si Kecil sedang menjadi "ilmuwan cilik" yang terus merekam reaksi dari lingkungannya.
Mereka sedang belajar sebab-akibat. Saat memilih Papa, mereka juga akan merekam apa yang akan dilakukan Mama, ya?
Dengan memberikan respons yang tenang dan penuh kasih, anak pun akan merekam bahwa Mama adalah sosok yang bisa diandalkan, bahkan saat ia sedang dalam kondisi emosi yang bergejolak.
4. Bukan soal siapa favorit, tapi soal kontrol

Menolak Mama adalah cara si Kecil melatih kemandirian dan kontrol atas pilihannya. Di usia balita, mereka mulai menyadari bahwa mereka adalah individu yang terpisah dari Mama.
Memilih Papa kadang menjadi cara mereka menegaskan "aku bisa memilih" dan "aku punya keinginanku sendiri." Jadi, jangan langsung mengartikannya sebagai penolakan pribadi, ya, Ma.
5. Bukan momen untuk menjauhkan si Kecil

Mama boleh merasa sakit hati. Perasaan itu manusiawi dan sah-sah saja, kok.
Menjadi orangtua bukan berarti harus selalu tegar tanpa rasa sedih. Namun, cobalah untuk tidak bereaksi berlebihan di depan si Kecil agar ia tidak merasa bersalah atau bingung dengan emosi Mama.
Justru, momen ini bisa menjadi kesempatan untuk menunjukkan pada si Kecil bahwa kasih sayang Mama tidak tergantung pada pilihannya sesaat.
6. Perilaku splitting pada anak

Dalam dunia psikologi anak, perilaku ini disebut splitting, yaitu saat anak melihat dunia secara hitam-putih. Kadang Papa dianggap paling hebat, kadang Mama yang jadi segalanya.
Ini adalah mekanisme kognitif anak usia dini yang belum mampu memahami bahwa seseorang bisa memiliki banyak sisi sekaligus. Fase ini normal dan akan berlalu seiring bertambahnya usia serta matangnya cara berpikir si Kecil.
7. Tunjukkan perasaan sayang pada anak

Kunci menghadapi momen ini adalah tetap tenang dan tidak mengambil hati secara pribadi. Dengan respons yang tenang dan penuh kasih, si Kecil justru akan merekam pesan penting yakni, "Aku tetap aman bersama Mama, bahkan saat aku tidak memilihnya."
Alih-alih memaksa pilihan anak, Mama cukup berada di dekatnya dan ucapkan kalimat sederhana yang menenangkan, seperti "Mama di sini ya, kalau kamu butuh Mama." atau "Oke, sekarang sama Papa dulu. Mama tunggu di sini."
Dengan pendekatan ini, si Kecil belajar bahwa kehadiran Mama bukan sesuatu yang harus diperebutkan, melainkan sesuatu yang selalu tersedia kapan pun ia membutuhkannya.
Jadi, kalau lain kali si Kecil kembali lebih memilih Papa, tarik napas dalam-dalam, ya, Ma. Ini bukan tentang menjadi yang terfavorit, tapi tentang bagaimana mereka belajar merasa aman bersama Mama, bahkan saat ia sedang berusaha menjadi dirinya sendiri.
Kkasih sayang yang konsisten dan tenang dari Mama akan selalu menjadi fondasi terpenting dalam tumbuh kembang si Kecil, meski sesekali ia lebih dulu berlari ke pelukan Papa.
















.jpg)

