- Rasa hormat itu harga mati. Kalau tidak ada, lebih baik pergi.
- Cinta seharusnya nggak bikin sakit. Cinta yang sehat itu bikin tenang.
- Jangan kejar-kejar. Laki-laki yang menghargai nggak bikin kamu nebak-nebak.
- Perhatiin tindakannya, bukan cuma omongannya.
- Laki-laki yang baik membangun, bukan menjatuhkan.
- Jangan gantungkan identitas dan rasa amanmu ke siapa pun.
- Kalau harus minta-minta diperjuangkan, itu bukan cinta.
- Sekali dia bohong, cek ulang kebenarannya.
- Jangan salahkan perhatian dengan niat serius.
- Nilai hidup laki-laki lebih penting dari penampilannya.
- Cara dia menghormati ibunya sering tercermin ke caranya menghormatimu.
- Jangan mengecilkan suara demi mempertahankan hubungan.
- Kamu tidak bisa mengubahnya. Percaya pada apa yang ia tunjukkan.
- Laki-laki yang tepat terasa membebaskan, bukan menakutkan.
- Laki-laki yang benar-benar peduli akan konsisten tanpa banyak drama.
- Kalau dia bikin kamu merasa kecil, berarti dia bukan untukmu.
- Ambisi penting, tapi empati jauh lebih penting.
- Laki-laki kuat tidak merasa terancam oleh perempuan yang kuat.
- Kalau kamu terus bingung, itu bukan cinta — itu manipulasi.
- Jangan turunkan standar hanya karena takut sendirian.
- Cinta yang sehat terasa tenang, bukan kacau.
- Laki-laki yang mencintai akan menjaga namamu bahkan saat kamu tidak ada.
- Kalau dia bersaing denganmu, dia bukan partner.
- Masa lalu hanya penting kalau masih mengendalikan hari ini.
- Laki-laki yang tepat tidak membuatmu merasa "opsi cadangan".
- Jangan jatuh pada potensi, jatuhlah pada konsistensi.
- Cara dia menghadapi stres menunjukkan karakter aslinya.
- Hubungan yang nyata tidak butuh permainan.
- Kalau dia menghargai batasmu, dia menghargaimu.
- Laki-laki yang tepat tidak akan meredupkan cahayamu.
- Cinta bukan kepemilikan, tapi kemitraan.
- Kalau dia baik hanya saat butuh sesuatu, hati-hati.
- Kamu pantas diperjuangkan, bukan diberi alasan.
- Percaya instingmu — sering kali insting tahu lebih dulu.
- Laki-laki yang baik merayakan kemandirianmu, bukan takut padanya.
- Kalau dia menghargai batasmu, dia menghargaimu.
- Laki-laki yang tepat tidak akan meredupkan cahayamu.
- Cinta bukan kepemilikan, tapi kemitraan.
- Kalau dia baik hanya saat butuh sesuatu, hati-hati.
- Kamu pantas diperjuangkan, bukan diberi alasan.
- Percaya instingmu — sering kali insting tahu lebih dulu.
- Laki-laki yang baik merayakan kemandirianmu, bukan takut padanya.
Papa Ini Ajarkan 42 Prinsip Memilih Pasangan ke Anak Perempuannya

- Papa Vicktor, financial planner @mindsetduit, membagikan 42 prinsip memilih pasangan yang ia tanamkan pada anak perempuannya sejak dini.
- Prinsip tersebut menekankan rasa hormat, konsistensi, empati, serta pentingnya menjaga harga diri dalam hubungan.
- Pesannya mengingatkan orangtua bahwa anak perlu dibekali pemahaman tentang relasi sehat, bukan sekadar mengejar kemapanan atau takut sendirian.
Seorang financial planner sekaligus papa di Instagram, Vicktor, CFP®, QWP™ dengan akun @mindsetduit membagikan pandangannya tentang cinta dan hubungan yang sehat. Bukan soal materi atau sekadar kemapanan, Papa Vicktor menekankan bahwa memilih pasangan hidup adalah tentang nilai, rasa aman, dan penghormatan diri.
Papa Vicktor yang punya anak perempuan ini menegarkan bahwa tugas orangtua bukan menyiapkan anak perempuan untuk “bertahan” dalam hubungan, melainkan membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang sadar saat memilih pasangannya kelak.
Apa saja prinsip-prinsip dari Papa Vicktor ini? Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya!
42 Prinsip Memilih Pasangan yang Diajarkan ke Anak Perempuan
Hal Penting yang Bisa Orangtua Lakukan Mengajari Anak Relasi Sehat
1. Mengajarkan anak perempuan memilih dengan sadar

Dalam salah satu pesannya, Papa Vicktor menuliskan bahwa rasa hormat adalah harga mati. Jika tidak ada rasa saling menghargai, maka lebih baik pergi. Ia juga menekankan bahwa cinta yang sehat tidak membuat sakit, tidak membingungkan, dan tidak memaksa seseorang menurunkan standar demi takut sendirian.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa anak perempuan perlu diajarkan mengenali tanda-tanda hubungan yang sehat sejak dini, termasuk memahami batas diri dan mempercayai instingnya.
2. Jangan hanya melihat kemapanan, tapi berprinsip

Papa Vicktor juga menolak anggapan bahwa kemapanan adalah satu-satunya tolok ukur pasangan ideal. Ia menyebutkan bahwa laki-laki yang tepat tidak akan meredupkan cahaya pasangannya, tidak merasa terancam oleh perempuan yang mandiri, dan tidak menjadikan hubungan sebagai ajang kompetisi.
Baginya, empati, konsistensi, dan cara seseorang menghadapi stres justru menunjukkan karakter asli yang jauh lebih penting daripada sekadar pencapaian.
3. Hubungan sehat membuat tenang, bukan kacau

Papa Vicktor di akhir unggahannya mengingatkan bahwa cinta bukan tentang kepemilikan, manipulasi, atau drama. Hubungan yang nyata tidak membutuhkan permainan, tidak membuat merasa “opsi cadangan”, dan tidak mengharuskan seseorang terus meminta untuk diperjuangkan.
Prinsip-prinsip ini diajarkan sebagai bekal hidup, agar anak perempuannya kelak mampu memilih pasangan yang membangun, bukan menjatuhkan.
Unggahan ini menuai respons positif di kolom komentar karena dianggap relevan untuk orangtua. Pesan ini seolah menjadi refleksi bagi orangtua dalam mendidik anak tentang cinta, harga diri, dan relasi yang sehat.
Itulah tadi informasi mengenai Papa Vicktor yang mengajarkan 42 prinsip memilih pasangan ke anak perempuannya. Semoga bisa ditiru!

















