Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana/AI
Jembatan di lokasi tersebut telah putus akibat banjir lahar tahun lalu dan hingga kini belum tersedia jembatan pengganti yang aman digunakan warga.
Memasuki musim hujan, banjir lahar dingin Gunung Semeru memang kerap terjadi, terutama setelah hujan deras mengguyur kawasan puncak. Sepanjang Desember 2025, aliran lahar tercatat beberapa kali melanda wilayah Lumajang, termasuk pada awal, pertengahan, hingga akhir bulan, dan sempat merusak infrastruktur serta mengancam permukiman warga.
Memasuki Februari 2026, aktivitas serupa kembali terpantau. Pada awal bulan, aliran lahar sudah terjadi di sejumlah titik aliran sungai. Puncaknya pada 17–18 Februari 2026, material vulkanik meluap hingga ke kawasan Jembatan Gondoruso dan Curah Kobokan, mengganggu aktivitas masyarakat sekitar.
Hingga kini, aliran lahar dingin masih berpotensi terjadi di beberapa sungai seperti Besuk Kobokan dan Sungai Regoyo. Dengan status Gunung Semeru yang masih Siaga (Level 3), masyarakat diimbau untuk lebih waspada dan menghindari jalur sungai saat hujan deras turun demi keselamatan bersama.
Itulah, Ma, kronologi seorang anak SD dan ayahnya yang terseret lahar Semeru. Orangtua diharapkan lebih berhati-hati dan mempertimbangkan jalur alternatif demi keselamatan anak saat berangkat sekolah.