Bolehkah Memberi Anak Uang Sebagai Bentuk Imbalan?

Mengajarkan anak untuk menabung, atau membuatnya menjadi manja?

14 September 2021

Bolehkah Memberi Anak Uang Sebagai Bentuk Imbalan
Pexels/Karolina Grabowska

Tak sedikit orangtua selalu mencari cara untuk mendorong anak-anak mereka menyelesaikan tugas atau mengikuti aturan tertentu. Sayangnya, selalu ada informasi yang saling bertentangan di luar sana tentang cara terbaik untuk membantu anak mengembangkan perilaku positif.

Satu pertanyaan umum yang dimiliki banyak orangtua adalah bagaimana memberikan uang sebagai bentuk penghargaan atau ucapan terima kasih dapat memengaruhi anak-anak.

Sementara beberapa orangtua mungkin berpikir bahwa selalu memberikan anak-anak uang dalam berbagai kesempatan, hanya akan membuatnya menjadi manja, namun juga banyak ahli mengatakan ada beberapa contoh memberikan anak-anak uang bisa bekerja dengan cukup baik.

Lalu bolehkah anak selalu diberikan uang sebagai bentuk penghargaan atau ucapan terima kasih? Simak informasinya yang telah Popmama.com rangkum di bawah ini!

Keuntungan dari Memberikan Imbalan dalam Bentuk Uang pada Anak

Tak sedikit orangtua yang memberikan imbalan untuk anak dalam bentuk uang. Misalnya ketika anak melakukan tugas rumah dengan baik, mendapatkan peringkat tinggi di sekolah, memenangkan kompetisi, atau mendapatkan uang setelah membantu Mama di rumah.

Memberikan uang pada anak juga dapat memberikan keuntungan, apa saja manfaatnya?

1. Mengajarkan anak tentang nilai uang

1. Mengajarkan anak tentang nilai uang
Pixabay/Skitterphoto

Memberi anak sejumlah kecil uang tunai sebagai imbalan mengajarkan pentingnya nilai uang itu. Hal ini juga dapat menanamkan rasa tanggung jawab pada anak.

Duduklah bersama anak dan lihat nilai setiap uang kertas dan koin. Jika anak adalah pembelajar visual, tunjukkan kepadanya berapa uang yang dikeluarkan untuk membeli permen, dan juga berapa uang yang harus dikeluarkan ketika membeli mobil atau buku.

Ini dapat mengajarkan anak pentingnya menabung untuk pembelian yang lebih besar atau mahal.

2. Anak dapat belajar menangani uang

2. Anak dapat belajar menangani uang
Freepik/jcomp

Bukan rahasia umum lagi jika setiap anak, berapapun usianya, mengawasi orangtuanya. Banyak dari apa yang anak pelajari adalah dari menonton Mama dan Papanya setiap hari.

Jika Mama ingin anak mengelola uangnya dengan baik, berikan contoh yang baik. Hindari makan di luar setiap hari. Ajak anak berbelanja dan tunjukkan bagaimana bisa berbelanja dengan hemat tanpa harus membuang-buang uang pada hal yang tidak perlu.

Misalnya, anak memerlukan buku tulis untuk sekolahnya dengan harga Rp.10.000,-. Dan disaat yang bersamaan, ada mainan yang anak sukai dengan harga yang sama. Tanyakan mana yang anak pilih untuk dibeli.

Kemudian ajarkan anak tentang kebutuhan dan keinginan. Berikan contoh, biarkan anak mencoba, lalu ajarkan.

3. Mengajarkan anak nilai pembelian jangka panjang

3. Mengajarkan anak nilai pembelian jangka panjang
Freepik/Vulurol

Ketika anak tinggal satu atap dengan orangtuanya, ia masih bisa mengandalkan Mama jika melakukan kesalahan besar. Dengan memiliki uang, anak memiliki kesempatan untuk menyimpan uangnya, tetapi juga memiliki kesempatan untuk membeli apa yang diinginkan.

Seperti contoh sebelumnya, anak mungkin akan menggunakan uangnya untuk membeli mainan, alih-alih untuk membeli keperluan sekolah, atau untuk menabung. 

Gunakan kesempatan ini untuk mengajari anak nilai pembelian jangka panjang. Walaupun membeli mainan terasa menyenangkan di 30 menit pertama, namun anak akan merasa kesulitan ketika kehabisan buku tulis untuk belajar.

4. Mempelajari kerja keras dan nilai pekerjaan

4. Mempelajari kerja keras nilai pekerjaan
Freepik/Peoplecreations

Ketika memutuskan untuk memberikan uang sebagai imbalan, orangtua harus bertanya pada diri sendiri apakah akan memberikan melibatkan pekerjaan dengan uang.

Ini mungkin datang dalam bentuk mencuci piring, membersihkan kamar di rumah, atau untuk anak yang lebih besar akan menangani pekerjaan halaman di akhir pekan.

Jika Mama memilih untuk melakukan ini, itu dapat menanamkan rasa kerja keras sambil mengajari anak-anak bahwa uang tidak gratis, namun butuh kerja keras.

Menurut pembawa acara radio keuangan Dave Ramsay dalam websitenya, jika anak dapat memahami bahwa uang berasal dari pekerjaan yang dilakukannya sejak usia empat tahun, maka ia akan siap untuk terjun ke dunia nyata pada usia 24.

Editors' Picks

Kekurangan dari Memberikan Imbalan dalam Bentuk Uang pada Anak

Dibalik banyak manfaat yang bisa anak dapatkan ketika selalu diberikan uang sebagai imbalan, ada beberapa dampak negatif yang perlu orangtua ketahui. Selain berdampak pada anak, kekurangan ini juga bisa berdampak pada keuangan keluarga.

Simak kekurangannya di bawah ini!

1. Membuat anak merasa selalu berhak mendapatkan uang

1. Membuat anak merasa selalu berhak mendapatkan uang
Freepik/asier_relampagoestudio

Dengan selalu memberi anak sejumlah uang sebagai bentuk imbalan, anak berisiko mengembangkan sikap manja yang merasa selalu memiliki hak mendapatkan uang.

Jika Mama memutuskan untuk tidak memberi anak uang karena suatu alasan, ia mungkin bereaksi berlebihan dan menuntut uang.

Masih dilansir dari laman Dave Ramsay, orangtua sebaiknya tidak menggunakan kata "uang jajan/tunjangan" karena itu menyiratkan bahwa anak berhak atas sejumlah uang terlepas dari apa yang ia lakukan atau tidak lakukan.

Anak mungkin mulai menganggap orangtua sebagai "ATM berjalan". Untuk memastikan hal ini tidak terjadi, duduklah bersama anak untuk membicarakan keuangan keluarga. Ia harus memahami bahwa uang saku bukanlah pohon uang yang tidak ada habisnya.

2. Menyebabkan ketegangan finansial

2. Menyebabkan ketegangan finansial
Pexels/Karolina Grabowska

Jika Mama memiliki beberapa anak, banyak pengeluaran dapat bertambah dengan sangat cepat, terutama jika itu imbalan yang dilakukan sebagai rutinitas.

Ketika Mama memiliki tiga anak atau lebih, cobalah beralih ke tunjangan bulanan. Ini mungkin meningkatkan jumlah yang anak-anak terima, tetapi dapat menyebabkan lebih sedikit tekanan keuangan dari minggu ke minggu.

Sebelum membagikan uang, pastikan bahwa uang saku itu sesuai dengan anggaran. Jika ada pengeluaran untuk anak, seperti uang jajan sekolah, beri anak kesempatan untuk menghemat uang itu dengan membuat bekal di rumah.

Jika anak memilih untuk menyimpannya, ia juga memiliki uang saku untuk kemudian hari.

3. Bertambahnya daftar pengeluaran

3. Bertambah daftar pengeluaran
Freepik/our-team

Jika Mama dan pasangan bekerja, itu adalah dua sumber pendapatan yang harus dikelola, yang bisa jadi sulit terutama di waktu memilah daftar pengeluaran, untuk pembayaran listrik, air, kebutuhan rumah tangga, dan lain-lain. 

Ketika Mama ingin mulai memberikan uang imbalan untuk anak, aturlah ini dalam daftar pengeluaran. Ini sangat membantu jika Mama memutuskan untuk meningkatkan uang setiap tahun bertambahnya usia anak.

Jika anak mengerjakan tugas untuk mendapatkan uang saku, buatlah daftar periksa untuk memastikan anak sudah melakukan tugas yang diperlukan untuk menerima uang.

Kapan Waktu yang Tepat Memberikan Anak Imbalan?

Memutuskan untuk memberikan uang saku kepada anak bukanlah keputusan yang mudah. Beberapa orangtua mungkin ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengajari anak-anak mereka tentang penganggaran, tabungan, dan cara membelanjakan tanggung jawab.

Namun, itu bisa menjadi beban keuangan tambahan dan membutuhkan lebih banyak waktu dan usaha, daripada yang diharapkan untuk menerapkan kebiasaan yang benar.

Untuk menentukan bagaimana cara memberikan imbalan yang tepat, di bawah ini ada beberapa tips yang bisa Mama lakukan, dan ada beberapa hal yang harus di hindari.

1. Hal yang perlu dilakukan ketika ingin memberikan imbalan pada anak

1. Hal perlu dilakukan ketika ingin memberikan imbalan anak
neverdream.info

Sebuah laman CouponFollow melakukan survei orangtua untuk mengukur pandangan mereka tentang uang dan keuangan.

  • Menurut data survei, 80 persen orangtua secara finansial memberi hadiah kepada anak-anak mereka dalam beberapa cara untuk hal-hal seperti menyelesaikan tugas atau mencapai nilai bagus.
  • Lebih lanjut, sebanyak 70 persen orangtua mengatakan bahwa mereka sering memberi penghargaan kepada anak mereka secara finansial sebagai hadiah atas perilaku yang baik atau sebagai ungkapan cinta.
  • Demikian pula, hampir 50 persen orangtua yang disurvei menahan insentif keuangan atau hadiah lain ketika anak-anak berperilaku tidak pantas atau tidak memenuhi harapan orang tua mereka.

Di mata kebanyakan orangtua, penghargaan mendorong anak-anak untuk mengulangi perilaku positif, meningkatkan harga diri mereka, dan memperkuat ikatan orangtua-anak.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), semua asumsi ini sebenarnya benar dan didukung oleh penelitian bertahun-tahun.

Namun agar ini berhasil, orangtua harus memahami bahwa segala jenis hadiah harus menargetkan perilaku atau tindakan tertentu yang dilakukan anak. Juga, imbalan harus direncanakan sebelumnya dan didiskusikan secara mendetail sebelum diberikan.

2. Hal yang perlu dihindari ketika ingin memberikan imbalan pada anak

2. Hal perlu dihindari ketika ingin memberikan imbalan anak
Freepik/Jcomp

Walaupun imbalan dapat secara efektif membantu mengubah perilaku anak atau mengaturnya untuk sukses secara finansial di masa depan, imbalan bisa tidak berhasil.

Faktanya, ada banyak contoh di mana imbalan tidak efektif sama sekali. Terutama jika orangtua tidak yakin bagaimana cara memberikan imbalan yang tepat kepada anak-anak.

Dilansir dari EdNavigator, imbalan seringkali kurang efektif jika digunakan secara berlebihan. Ketika Mama memberi insentif pada segalanya, ini berisiko mengubah imbalan menjadi harapan anak alih-alih perubahan perilaku.

Untuk alasan ini, penting bagi orangtua untuk memilih perilaku apa yang ingin diubah dan menggunakan sistem penghargaan untuk hal-hal spesifik tersebut, bukan setiap langkah positif yang diambil anak sepanjang hari.

Lebih jauh lagi, imbalan juga tidak akan berhasil jika anak tidak mengerti apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkannya.

Misalnya, Mama menawarkan anak Rp.10.000 untuk mencuci piring, tetapi tidak menunjukkan kepadanya cara mencuci piring, dapatkah Anda benar-benar mengharapkan mereka untuk melakukan tugas itu?

Sebelum memberikan insentif apa pun, Mama perlu mendefinisikan dengan jelas harapan untuk anak dan memastikannya tahu cara mencapai tujuannya.

Nah, kini Mama memahami bahwa imbalan atau insentif keuangan dapat menjadi cara yang bagus untuk mendorong seorang anak untuk bekerja keras dan memberikan pelajaran yang bermanfaat dalam pengelolaan uang dan belajar literasi keuangan.

Namun, Mama juga harus tahu cara menggunakan jenis hadiah ini dengan benar, sebelum anak mendapatkannya. Karena ini bisa kebiasaan yang rumit dengan cepat.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.