Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Orangtua yang Sering Abaikan Pertanyaan Anak Ternyata Bisa Ganggu Perkembangan Emosional
Pexels/RDNE Stock project
  • Anak Gen Alpha sering berbicara spontan karena rasa ingin tahu tinggi, dan respons orangtua terhadap ucapan mereka berpengaruh besar pada perkembangan emosional serta rasa percaya diri anak.
  • Mengabaikan anak secara terus-menerus dapat membuat mereka merasa tidak berharga, menurunkan empati, serta menghambat kemampuan memahami situasi sosial dan emosional di masa depan.
  • Orangtua disarankan tetap memberi waktu berdialog dengan anak meski sibuk atau lelah, agar komunikasi hangat terjaga dan hubungan emosional antara keduanya semakin kuat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Anak-anak Gen Alpha dikenal aktif, kritis, dan sering kali punya banyak pertanyaan yang muncul secara spontan.

Tidak jarang juga mereka terlihat ‘asbun’ atau asal bunyi saat berbicara karena rasa penasaran yang besar terhadap banyak hal di sekitarnya.

Meski terkadang membuat orangtua kewalahan, kebiasaan ini sebenarnya menjadi bagian dari proses belajar dan perkembangan anak.

Sayangnya, masih banyak orangtua yang tanpa sadar memilih mengabaikan ocehan atau pertanyaan anak.

Padahal, respons sederhana dari Mama dan Papa bisa sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosional serta rasa percaya diri si Kecil di masa depan. 

Berikut Popmama.com siap membahas informasi lebih lanjut mengenai orangtua sering abaikan anak bisa ganggu perkembangan emosional.

1. Anak yang ‘asbun’ tidak selalu memahami ucapannya sendiri

Popmama.com/David Andrew

Anak-anak sering kali mengucapkan kata atau kalimat tertentu tanpa benar-benar memahami maknanya. Karena itu, orangtua sebaiknya tidak langsung memarahi atau menghakimi saat mendengar anak berkata sesuatu yang kurang tepat. 

Penting bagi Mama dan Papa untuk mencari tahu terlebih dahulu alasan anak mengucapkan hal tersebut. Orangtua bisa mulai dengan bertanya pelan kepada anak tentang arti kata yang mereka ucapkan. 

Setelah itu, beri penjelasan sederhana mengenai makna sebenarnya dan ajak anak berpikir apakah ucapan tersebut pantas disampaikan kepada orang lain. Cara ini membantu anak belajar memahami batasan komunikasi tanpa merasa disalahkan.

“Sebelum kita langsung marahin, kita tanya dulu itu artinya apa? Karena banyak anak kecil misalnya menyebutkan satu kata atau satu kalimat, mereka gak paham artinya apa,” kata Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt, Psikolog Klinis, saat diwawancarai dalam sesi Popmama Talk Mei 2026.  

“Padahal mungkin maknanya sebenarnya berbeda, kita perlu jelaskan dulu. Lalu setelah dijelaskan, kita kasih pertanyaan ke dia, ‘menurut kamu kata atau kalimat ini tepat gak diomongin ke orang lain? apalagi ke orang yang lebih dewasa gitu’. Sampai dia punya pemikiran, ‘iya sih sebenarnya gak boleh gitu’,” lanjutnya. 

2. Lebih baik menunda percakapan daripada mengabaikan anak

Pexels/RDNE Stock project

Di tengah aktivitas yang padat, orangtua memang tidak selalu bisa langsung fokus mendengarkan anak. Namun, dibandingkan diam atau mengabaikan, akan lebih baik jika orangtua menjelaskan kondisi kepada si Kecil dengan lembut.

Misalnya dengan mengatakan bahwa Mama atau Papa sedang menyelesaikan sesuatu dan akan mengajak anak berbicara setelah selesai. Hal sederhana seperti ini membuat anak merasa tetap diperhatikan. 

Setelah itu, orangtua juga perlu benar-benar meluangkan waktu berkualitas untuk mendengarkan apa yang ingin disampaikan anak. Hal ini perlu dilakukan agar anak merasa pikirannya didengar dan dihargai.

“Jadi pada saat mama atau papa mungkin lebih harus fokus ke satu hal, karena susah sekali untuk membagi fokus gitu, lebih baik kita bilang ke si anak ‘nanti dulu ya, ngomongnya tunggu mama selesai nanti kita ngobrol’. Dan benar-benar sediakan waktu yang berkualitas untuk menjawab dan mengajak berfikir anak kita tentang pemikiran dia daripada mengabaikannya,” ujar Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt.

3. Dampak jika terlalu sering mengabaikan ucapan anak

Pexels/Ketut Subiyanto

Mengabaikan anak secara terus-menerus dapat memberikan dampak emosional yang cukup besar. Anak bisa mulai berpikir bahwa dirinya tidak penting bagi orangtuanya.

Perasaan seperti ini perlahan dapat membentuk rasa kecewa dan kesedihan yang tersimpan dalam diri anak. Ketika orangtua sedang lelah atau tidak sanggup mendengarkan terus-menerus, sebaiknya ungkapkan kondisi tersebut secara jujur kepada anak. Dengan begitu, anak tetap memahami situasi tanpa merasa ditolak atau diacuhkan.

“Kalau memang sengaja mengabaikan anak, itu suatu hal yang berbahaya. Berbahaya dalam bentuk anak akan merasa ‘aku tuh kurang berharga’ atau ‘aku tidak sepenting itu bagi mama papa aku sampai mereka nggak mau ngedengerin aku’,” jelas Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt.

“Lebih baik kita kasih tahu kalau memang lagi capek. Jadi misalnya sudah benar-benar capek, sudah 2 jam ngedengerin anak ngomong terus, lebih baik kita bilang ke anak,” sambungnya. 

4. Kebiasaan diabaikan bisa memengaruhi perkembangan emosional anak

Pexels/RDNE Stock project

Anak yang sering tidak didengarkan berisiko mengalami hambatan dalam perkembangan emosionalnya. Mereka menjadi kurang terlatih memahami empati dan situasi sosial karena jarang mendapat stimulasi komunikasi yang sehat dari lingkungan terdekatnya.

“Mengabaikan anak itu bisa berpengaruh untuk perkembangan dia di masa depan, dia tidak terbiasa terstimulasi emosinya. Empati dia jadi lebih dingin, karena anak nggak bisa ngelihat ‘kapan aku boleh ngajak ngomong orang, kapan tidak?’” kata Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt.

“Anak juga merasa tidak cukup berharga untuk orangtua karena mereka berpikir ‘Mama dan papa nggak mau dengerin perkataan aku. Memang aku nggak sepenting itu ya’,” lanjutnya. 

Anak pun jadi lebih terbiasa memendam pikiran dan perasaannya sendiri. Ketika menghadapi masalah atau situasi berbahaya, mereka kemungkinan besar akan memilih diam karena merasa orangtua tidak akan mendengarkan. Kondisi ini tentu bisa berdampak pada hubungan anak dan orangtua dalam jangka panjang.

“Anak juga jadi nggak terbiasa mengungkapkan pemikiran mereka. Jadi mereka kalau ada pikiran apapun, ada bahaya apapun yang mereka mau ungkapin, mereka simpan sendiri, karena mereka pikir mama papa nggak mau dengerin juga kok,” sambungnya. 

5. Rasa percaya diri anak dapat menurun akibat terlalu sering diabaikan orangtua

Pexels/MART PRODUCTION

Perasaan tidak dihargai membuat anak perlahan kehilangan kepercayaan diri. Terlebih, jika sebelumnya mereka pernah mendapatkan respons ketus atau nada bicara yang tidak menyenangkan saat mencoba berbicara dengan orangtua.

Akibatnya, anak menjadi takut mengungkapkan pendapat karena khawatir akan dimarahi atau diabaikan lagi. Mereka akhirnya memilih diam dan menyimpan banyak hal sendiri dibanding cerita ke orangtua. 

“Ketika anak merasa nggak penting dan tidak berharga, jelas kepercayaan dirinya akan menurun. Apalagi, kalau anak pernah punya pengalaman dapat respon ketus atau nggak ngenakin dari orangtua. Nah, mereka jadi berpikir, kalau ngomong sesuatu atau mengungkapkan sesuatu, orang bisa marah nih, jadi mendingan aku diem aja,” jelas Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt.

6. Pertanyaan anak adalah tanda mereka sedang belajar

Pexels/Ketut Subiyanto

Perlu orangtua ingat bahwa di balik semua pertanyaan dan ocehan anak, sebenarnya mereka sedang mencoba memahami dunia di sekitarnya. Rasa penasaran itu menjadi bagian penting dari proses tumbuh kembang otak mereka.

Setiap pertanyaan yang keluar dari anak menunjukkan kalau mereka sedang belajar dan mencari informasi baru. Karena itu, meski orangtua sedang lelah, tetap penting menyediakan waktu untuk berdialog dan berdiskusi bersama anak agar mereka merasa didengar dari orangtuanya.

Dengan komunikasi yang hangat, anak akan merasa lebih aman untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Kebiasaan sederhana ini juga dapat membantu membangun hubungan yang lebih dekat antara orangtua dan anak sejak dini.

“Percayalah bahwa setiap pertanyaan yang keluar dari anak, itu memperlihatkan kalau dia lagi belajar. Otak mereka yang kecil itu lagi mengembangkan dirinya untuk bisa dapat sebuah informasi yang nantinya mereka akan pakai di masa depan. Jadi, walaupun kita capek, tetap ada baiknya sediakan waktu untuk berdialog dan berdiskusi sama mereka supaya anak merasa dapat jawaban dari orang tuanya,” pungkas Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt. 

Demikian pembahasan mengenai orangtua sering abaikan anak bisa ganggu perkembangan emosional. Dengan komunikasi yang hangat, anak akan merasa lebih dihargai, dicintai, dan tumbuh dengan rasa percaya diri yang lebih baik. 

POPMAMA TALK Mei 2026 - Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt

Psikolog Klinis

  

Senior Editor - Novy Agrina

Host - Novy Agrina  

Editor - Onic Metheany & Denisa Permataningtias  

Content Writer - Putri Syifa Nurfadilah & Sania Chandra Nurfitriana   

Script - Sania Chandra Nurfitriana   

Social Media - Mayang Ulfah 

Photographer - David Andrew

Videographer - Bellinna Putri, David Andrew & Albertus Olav

Video Editor - David Andrew

Design - Aristika Medinasari

Editorial Team