Eksklusif: Sekolah Dimulai, Ini Panduan Dampingi Anak Belajar di Rumah

Orangtua dan guru harus berperan aktif untuk membimbing anak belajar

13 Juli 2020

Eksklusif Sekolah Dimulai, Ini Panduan Dampingi Anak Belajar Rumah
Freepik.com

Tanggal 13 Juli 2020 menjadi awal tahun ajaran 2020/2021 bagi sekolah-sekolah di Indonesia. Berkaitan dengan ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyuguhkan berbagai tayangan Belajar di Rumah (BDR) di TVRI sebagai alternatif pembelajaran selama pandemi Covid-19.

Kemendikbud sendiri telah merancang penyederhanaan yang sesuai konteks Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) agar berjalan lebih efektif.

Namun, untuk beberap sekolah yang masuk ke wilayah zona hijau bisa melakukan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka. Hanya saja, penyelenggaraan belajar mengajar di sekolah juga wajib membatasi jumlah siswa yang datang dan melaksanakan protokol kesehatan di lingkungan sekolah.

Bagaimana peran orangtua untuk mendukung kesuksesan belajar anak di rumah? Bagaiman dengan sekolah-sekolah yang sudah mulai tatap muka?

Berikut Popmama.com rangkum berita lengkapnya.

1. Apakah tahun ajaran baru 2020/2021 secara online dilaksanakan serentak?

1. Apakah tahun ajaran baru 2020/2021 secara online dilaksanakan serentak
pixabay.com/RamadhanNotonegoro

Ketika dikonfirmasi oleh Popmama.com, Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah yang dihubungi lewat pesan singkat menyatakan bahwa tahun ajaran baru 2020/2021 mengikuti ketentuan dari SKB 4 Menteri yang ditanda tangani pada 15 Juni 2020 lalu.

“SKB 4 Menteri menjadi pedoman dan arahan kepada pemerintah daerah untuk pembelajaran di semua daerah,” ujar Hamid Muhammad kepada Popmama.com, Senin (13/7/2020)

Dalam Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 01/KB/2020, Nomor 516 Tahun 2020, Nomor HK.03.01/Menkes/363/2020, dan Nomor 440-882 diatur tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran Pada Tahun Ajaran 2020/2021 dan Tahun Akademik 2020/2021 di Masa pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

SKB 4 Menteri yang ditanda tangan pada 15 Juni 2020 lalu tersebut menyebutkan sejumlah prasyarat ketika akan melakukan kegiatan belajar baik secara online maupun tatap muka selama pandemi. Secara serentak, dalam SBK tersebut disebutkan:

  • Satuan pendidikan yang berada di daerah zona hijau dapat melakukan pembelajaran tatap muka setelah mendapatkan izin dari pemerintah daerah melalui dinas pendidikan provinsi atau kabupaten/kota, kantor wilayah Kementerian Agama provinsi, dan kantor Kementerian Agama kabupaten/kota sesuai kewenangan berdasarkan persetujuan gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 setempat.
  • Satuan pendidikan yang berada di daerah zona kuning, oranye, dan merah, dilarang melakukan proses pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan dan tetap melanjutkan kegiatan Belajar dari Rumah (BDR).

2. Karena PJJ, orangtua berperan aktif dan bisa terapkan 'self-regulated learning'

2. Karena PJJ, orangtua berperan aktif bisa terapkan 'self-regulated learning'
freepik/master1305

dr. Reisa Broto Asmoro selaku Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional menyampaikan, selama belajar di rumah orangtua harus ikut berperan aktif. Sebagai orang yang paling dekat dengan anak, peran orangtua selama PJJ sangat penting dalam pola belajarnya.

“Dan semua ini sangat penting untuk orang tua, seperti saya, dan bapak ibu semua untuk harus aktif terlibat, dalam setiap proses pembelajaran, baik belajar, maupun mengajar online,” ujarnya dalam keterangan pers Senin (6/7/2020).

Peran orangtua dalam pembelajaran self-regulated learning (SLR) anak yakni membantunya untuk bisa meregulasi agar ia mau belajar. Peran Mama dan Papa juga penting untuk mengajarkan ke anak bagaimana hidup dan menyesuaikan di era new normal.

Dengan metode SLR ini anak akan diajari dan dimotivasi oleh orangtua mengenai kegiatan belajarnya. Mengutip dari The Teaching Excellence in Adult Literacy (TEAL), sebuah proyek yang didanai oleh Vocational and Adult Education (OVAE) Departemen Pendidikan Amerika Serikat menyebut beberapa aspek dalam SLR, yaitu:

  • Strategi kognitif, termasuk strategi pembelajaran yang spesifik untuk anak yang berkaitan dengan muatan belajarnya.
  • Komponen metakognitif terdiri dari pengetahuan tentang diri sebagai siswa yang merupakan faktor mempengaruhi cara belajar. Pengetahuan prosedural tentang strategi dan prosedur pendukung belajar. Terakhir, pengetahuan yang kondisonal yakni tentang mengapa dan kapan harus menyesuaikan dengan pola belajar yang baru.
  • Komponen motivasi termasuk kemanjuran belajar dari diri siswa untuk mencapai tujuannya.

Editors' Picks

3. Disiplin perlu diterapkan orangtua untuk membimbing anak di rumah

3. Disiplin perlu diterapkan orangtua membimbing anak rumah
freepik/lifeforstock

Dalam pembelajaran online, tentunya banyak hal yang berubah termasuk cara siswa mengerjakan tugas dan menyelesaikan proses belajarnya. Oleh karenanya, pembimbingan yang disiplin juga perlu diterapkan.

Ketika sebuah tugas diberikan, maka tugas orang tua adalah untuk memastikan anak berkomitmen dengan hal itu. Hal ini karena tantangan dalam belajar pun harus diberikan agar siswa merasa terpacu dalam belajar.

4. Peran guru juga tidak boleh ketinggalan untuk pembelajaran online

4. Peran guru juga tidak boleh ketinggalan pembelajaran online
Pixabay/Steve Riot

Tak ketinggalan, guru juga harus berperan aktif dalam pembelajaran selama di rumah. Mengingat karena belajar yang tidak secara tatap muka, sehingga guru pun harus berusaha ekstra untuk mengenal dan memahami bagaimana karakter muridnya.

Selain orangtua yang aktif memperhatikan perkembangan belajar anak, guru juga harus bersinergi membantu orangtua.

“Harus ada komunikasi yang baik antara guru, wali kelas dan orangtua sehingga sama-sama dapat mendampingi dan mengawasi anak-anak. Bagaimana guru juga tidak lagi mengejar ketercapaian materi, tapi bagaimana guru menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan meskipun dalam keadaan jarak jauh,” ujar Satriawan Salim selaku Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) kepada Popmama.com, Senin (13/7/2020).

Terkait tugas, guru tidak harus memberikan siswa bentuk pengerjaan tugas seperti biasanya.

“Tujuannya justru bagaimana siswa itu dapat berinteraksi dan menyesuaikan dengan berbagai media pembelajaran dan menggunakan segala yang ada di rumahnya atau akes yang bisa dia tembus,” tutur Satriawan .

Ia mengungkapkan salah satunya adalah pembelajaran bagi siswa sekolah dasar, di mana harusnya guru dan pihak sekolah bisa lebih fleksibel dalam menerapkan pembelajaran di rumah secara online.

“Terkait dengan SD bagi guru-guru yang melaksanakan PJJ, memang harus benar diperhatikan jadwal pelajarannya. SD mestinya bisa lebih menyesuaikan, dan tidak berorientasi kepada penyelesaian materi BAB saja,” pungkasnya.

5. Panduan belajar dari TVRI bagi orangtua bagi untuk SD Kelas 1-3 selama di rumah

5. Panduan belajar dari TVRI bagi orangtua bagi SD Kelas 1-3 selama rumah
Freepik/master1305

Nah, ketika belajar dari rumah Mama dan Papa bisa juga mengikuti jadwal pembelajaran yang ada di TVRI. Tentunya agar lebih bermakna, berikut panduan untuk orangtua dalam mendamping anak SD untuk belajar dari rumah:

Sebelum tayangan:

Kurang lebih 10 menit sebelum program ditayangkan, orang tua mengajak anak duduk bersama dengan sikap rileks dan menjelaskan sekilas tentang lamanya tayangan dan aktivitas yang akan dilakukan dengan anak saat dan/atau sesudah menyaksikan tayangan tersebut. Anak juga menyiapkan alat tulis.

Kompetensi Literasi

Berikut hal yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu meningkatkan kompetensi literasi anak dari melihat tayangan:

  • Pandulah anak memahami instruksi lisan dari tayangan program dengan cara meminta anak mengulanginya. Orang tua juga perlu mengajukan pertanyaanpertanyaan kepada anak tentang kata-kata yang belum dipahami, lalu membantu menjelaskannya. Setelah anak mengerti, mintalah anak untuk membuat kalimat dari kata-kata tersebut.
  • Khusus untuk instruksi/pertanyaan tertulis (dalam bentuk teks), mintalah anak membaca kembali instruksi tersebut.
  • Pandulah anak untuk menyampaikan pendapatnya dengan melakukan diskusi.
  • Perhatikan bagaimana susunan kalimat yang dibuat anak.
  • Bantu anak agar bisa menyampaikan gagasan dengan kalimat yang benar dan runut.
  • Orang tua diharapkan bisa mengarahkan anak agar bisa mengemukakan pendapatnya lewat diskusi. Mintalah anak menyampaikan gagasannya secara lisan. Jika memungkinkan, direkam.
  • Untuk tugas tertulis, bantulah anak menuliskan baris demi baris tugasnya.

Kompetensi Numerasi

Berikut hal yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu meningkatkan kompetensi numerasi anak dari melihat tayangan:

  • Pandulah anak untuk menyimak dengan baik tayangan yang ditampilkan.
  • Dengan menyimak tayangan bersama anak, orang tua diharapkan ikut memahami materi yang disampaikan.
  • Perhatikan apakah anak memahami tugas yang disampaikan dalam tayangan.
  • Pandulah anak untuk mengerjakan tugas tersebut.
  • Berdiskusilah dengan guru jika anak membutuhkan bimbingan lebih lanjut.

Baca juga:

6. Panduan belajar dari TVRI bagi orangtua untuk anak SD Kelas 4-6 selama di rumah

6. Panduan belajar dari TVRI bagi orangtua anak SD Kelas 4-6 selama rumah
Freepik/tirachardz

Apa saja panduan belajar dari TVRI untuk orangtua yang mendampingi anak belajar di rumah? 

Sebelum tayangan

Kurang lebih 10 menit sebelum program ditayangkan, orang tua mengajak anak duduk bersama dengan sikap rileks dan menjelaskan sekilas tentang lamanya tayangan dan aktivitas yang akan dilakukan dengan anak saat dan/atau sesudah menyaksikan tayangan tersebut. Anak juga menyiapkan alat tulis.

Kompetensi Literasi

Berikut hal yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu meningkatkan kompetensi literasi anak dari melihat tayangan:

  • Dampingi anak ketika sedang menyimak tayangan, kemudian minta anak untuk mengkomunikasikan ide, gagasan, maupun perasaan sendiri, baik lisan maupun tertulis, dari tayangan tersebut. Selanjutnya, orang tua perlu mendengarkan, membaca apa yang disampaikan anak, dan memberi umpan balik berupa tanya jawab, diskusi dan pujian.
  • Lakukan diskusi dengan anak terkait hasil tulisannya. Perhatikan tema, topik, gagasan, atau ide yang dirasa belum pas dan beri waktu kepada anak untuk mengemukaan pendapatnya dan memperbaiki tulisannya.Jika orang tua mengalami kesulitan, bisa diskusi bersama keluarga dan guru.
  • Mintalah anak untuk membacakan hasil tulisannya. Perhatikan cara duduk, jarak dari buku ke mata, posisi sikap yang baik, dan intonasi pembacaan. Selanjutnya, bersama-sama orang tua dan anak menyimpulkan bacaan.

Kompetensi Numerasi

Berikut hal yang dapat dilakukan orang tua untuk membantu meningkatkan kompetensi numerasi anak dari melihat tayangan:

  • Berusahalah untuk mendampingi anak menyaksikan tayangan hingga selesai. Dengan menyimak tayangan bersama anak, orang tua diharapkan ikut memahami materi yang disampaikan.
  • Ajaklah anak berdiskusi kebermanfaatan tayangan yang disaksikan. Berilah motivasi untuk penyelesaian tugas yang diberikan dengan memeriksa kembali apa yang sudah dikerjakan anak.
  • Untuk tugas yang rumit atau perlu penyelesain, arahkan anak untuk mencari referensi lainnya dari buku. Jika memungkinkan, berdiskusilah dengan guru jika anak membutuhkan bimbingan lebih lanjut.
  • Mintalah anak membacakan hasil karya yang ditulisnya dan berikan komentar seputar penyampaian dan komunikasi yang digunakan. Berikan penghargaan untuk karya yang sudah dibuat anak.

Itulah tadi rangkuman informasi mengenai hal-hal yang harus dilakukan guru dan orangtua selama belajar di rumah saja.

Bimbingan dan pendampingan dari Mama dan Papa selama anak belajar di rumah, penting lho! Dibantu dengan guru yang bisa memberikan cara belajar yang efektif dan menyenangkan.

Demikian panduang untuk orangtua yang mendampingi anak belajar di rumah secara online. Semoga bermanfaat.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.