Puber Dini pada Anak, Apa Dampaknya?

Perubahan yang dialami anak dapat memengaruhi kesiapan fisik, emosional, dan sosialnya

10 November 2021

Puber Dini Anak, Apa Dampaknya
Pexels/Jonas Mohamadi

Pubertas remaja normalnya terjadi ketika anak menginjak usia 10-11 tahun. Tetapi, ada anak yang mengalami perkembangan secara fisik dan emosional lebih awal, di usia 7-9 tahun. Kondisi ini disebut dengan pubertas dini. 

Pubertas dini mungkin tampak tidak berbahaya. Tetapi para peneliti menemukan adanya keterkaitan konsekuensi kesehatan dan psikologis jika anak mengalami pubertas dini. 

Berikut ini Popmama.com merangkum dampak pubertas dini terhadap tumbuh-kembang anak, dilansir dari Very Well Family:

1. Tanda pubertas dini anak perempuan

1. Tanda pubertas dini anak perempuan
Freepik/lookstudio

Pada anak perempuan, jika mengalami tanda-tanda berikut ini sebelum usia 7-8 tahun, bisa jadi ia mengalami pubertas dini. Tanda-tandanya antara lain:

  • Pertumbuhan payudara
  • Tumbuhnya bulu kemaluan atau bulu ketiak
  • Mengalami growth spurts (lonjakan pertumbuhan) yang signfikan dalam waktu singkat
  • Mendapat menstruasi pertamanya
  • Muncul jerawat
  • Bau badan menyengat

Editors' Pick

2. Tanda pubertas dini anak laki-laki

2. Tanda pubertas dini anak laki-laki
Freepik/drobotdean

Untuk anak laki-laki yang mengalami tanda-tanda berikut ini sebelum usia 9 tahun, bisa dianggap mengalami pubertas dini:

  • Pembesaran testis atau penis
  • Tumbuhnya rambut di kemaluan, ketiak, dan wajah
  • Mengalami growth spurts (lonjakan pertumbuhan) yang signifikan dalam waktu singkat
  • Suara terdengar lebih berat
  • Muncul jerawat
  • Bau badan menyengat

3. Penyebab pubertas dini

3. Penyebab pubertas dini
Freepik/Prostooleh

Belum diketahui apa penyebab pasti sebagian anak mengalami pubertas dini. Tetapi para ahli menemukan keterkaitan pubertas dini dengan kondisi-kondisi berikut ini:

  • Genetika (5% anak laki-laki dan 1% anak perempuan di dunia mewarisi kondisi ini)
  • Masalah gizi, misalnya obesitas
  • Polusi lingkungan dan kimia 
  • Masalah struktural di otak atau cedera sistem saraf pusat
  • Masalah pada ovarium atau kelenjar tiroid, seperti tumor

Namun banyak kasus pubertas dini tidak diketahui apa penyebabnya.
 

4. Dampak fisik pubertas dini

4. Dampak fisik pubertas dini
Freepik/Olga_nikiforova

Seorang anak yang mengalami pubertas dini mungkin pada awalnya terlihat lebih tinggi ketimbang teman-teman sebayanya. Tetapi, ketika masa pubertasnya berakhir, ia akan berhenti tumbuh pula. 

Hal ini berdampak pada tinggi tubuh anak. Seorang anak yang mengalami pubertas dini tidak akan mencapai potensi tinggi badan terbaiknya karena kerangka dan pertumbuhan tulang yang sudah berhenti lebih awal dari usia seharusnya. 

5. Dampak emosional anak yang mengalami pubertas dini

5. Dampak emosional anak mengalami pubertas dini
Freepik/master1305

Setiap anak yang mengalami pubertas dini mungkin akan mengalami periode transisi yang terasa memberatkan bagi mereka. Baik itu dari segi emosional maupun sosial. 

Karena faktor hormonal, anak yang mengalami pubertas dini bisa mengalami ledakan emosional dan perubahan suasana hati yang bisa membuat perilaku mereka menjadi lebih agresif. 

Tak jarang, perubahan fisik pada anak yang lebih menonjol ketimbang teman-teman seusianya membuat anak tampak berbeda. Inilah yang memicu bullying dari teman-teman sebayanya. 

Ketidakmampuan anak mengatasi perubahan yang terjadi pada tubuhnya maupun tekanan dari lingkungan sekitarnya, dapat memicu depresi dan kecemasan pada anak. Tak hanya itu, anak pun rentan memiliki body image yang buruk terhadap dirinya sendiri, yang dapat membuat self-esteem mereka pun menjadi buruk. 

Orangtua dengan anak yang mengalami pubertas dini sebaiknya lebih memperhatikan dampak-dampak ini. Keterbukaan anak dan komunikasi yang baik antara orangtua dengan anak dapat mencegah hal-hal ini berkembang buruk yang dapat mempengaruhi tumbuh-kembang anak, terutama dari segi mental. 

Apabila mama merasa anak mengalami kesulitan menghadapi perubahan yang terjadi pada dirinya, jangan ragu diskusikan dengan dokter anak atau terapis untuk menemukan solusi yang terbaik. 

Semoga informasi ini bermanfaat. 

Baca juga:

The Latest