Mutisme Selektif Gangguan Berbicara pada Anak Disertai Kecemasan

Cari tahu yuk, sebelum terlambat!

12 September 2019

Mutisme Selektif Gangguan Berbicara Anak Disertai Kecemasan
Freepik

Anak-anak umumnya suka bermain dan aktif sekali, ada pula anak yang pendiam dan pemalu. Karakter anak memang berbeda-beda, tetapi bila anak sulit berbicara secara terus-menerus hal ini tidak wajar dan akan menjadi sebuah masalah.

Sebab dapat membuat si Kecil sulit untuk berinteraksi bersama teman-teman dan lingkungan sekitarnya. Salah satu yang dapat memengaruhi kecemasan dan perilaku bicara anak adalah Mutisme Selektif.

Apakah Mama sudah mengatahui Mutisme Selektif? Jika belum, Mama dapat mengetahui informasinya di Popmama.com, disimak yuk!

1. Apa itu Mutisme Selektif?

1. Apa itu Mutisme Selektif
Pixabay/Ddimitrova

Mutisme Selektif adalah ketidakmampuan seorang anak untuk berbicara dalam situasi atau tempat tertentu. Misalnya, seorang anak dapat menolak untuk berbicara di sekolah bahkan ketika mereka dapat berbicara dalam situasi atau tempat lain, seperti di rumah.

Hal ini dapat mengganggu kehidupan dan kegiatan sehari-hari, seperti sekolah, pekerjaan, dan kehidupan sosial. Anak yang mengalami gangguan ini menderita kecemasan yang tidak wajar sehingga membuat dirinya tidak mau untuk berbicara dengan orang di sekitarnya. Mutisme Seleksitif rentan dialami oleh anak-anak.

Jika tidak diberi penanganan secara cepat dan tepat si Kecil akan kesulitan untuk berbicara hingga ia besar nanti.

2. Sulit berkomunikasi dengan teman-temannya di sekolah

2. Sulit berkomunikasi teman-teman sekolah
Freepik

Anak yang mengalami mutisme sebenarnya dapat berbicara dengan orang yang sangat ia percaya, jika orang lain yang asing mengajaknya berbicara ia akan menjauh dan merasa cemas.

Adapun beberapa gejala mutisme yang rentan terjadi pada anak khususnya diusia dua sampai empat tahun. Perbedaan ini dapat diketahuii saat anak sudah pernah berbicara dengan orang lain seperti saat masuk sekolah. Si kecil yang mengalami gangguan ini akan menunjukan perbedaan yang signifikan.

Gejalanya ia akan menghindari kontak mata saat berhadapan dengan orang sekitarnya, si Kecil akan merasa gugup dan selalu cemas. Ia sulit berbicara dengan orang lain dan tidak memiliki teman.

Sebaiknya bila anak menunjukan gejala seperti ini Mama harus melakukan pendekatan agar si Kecil mau membuka dirinya, bila tidak bisa juga maka Mama harus cepat memeriksa si Kecil ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

Editors' Picks

3. Cara mengatasi mutisme selektif dengan terapi wicara

3. Cara mengatasi mutisme selektif terapi wicara
Pixabay/Bessi

Tentunya Mama ingin si Kecil selalu tumbuh dan berkembang dengan baik, namun bila ternyata anak Mama mengalami mutisme harus segera diberi penanganan.

Anak yang mengalami mutisme membutuhkan terapi untuk dapat berbicara, hal ini dapat membantu si Kecil untuk meningkatkan kemampuannya dalam berbicara dan mengurangi kecemasan yang dirasakan oleh dirinya.

Sebab bila tidak dilakukan terapi dikhawatirkan si Kecil memiliki kesulitan berbicara permanen sampai dewasa. Terapi ini juga dapat mengasah dan meningkatkan bahasa tubuh dan verbalnya.

Pelan-pelan untuk mengajarinya berbicara ya dan Mama perlu memahami apa yang dibutuhkan si Kecil supaya ia merasa Mama selalu ada untuknya.

4. Penerapan yang didapatkan saat melakukan terapi wicara

4. Penerapan didapatkan saat melakukan terapi wicara
Freepik/Freepic.diller

Terapi wicara merupakan salah satu penanganan untuk si Kecil yang memiliki Mutisme Selektif. Pada saat si Kecil melakukan terapi ini ia akan belajar untuk mengoordinasikan bagian mulut untuk berbicara dan menghasilkan suara berupa kata-kata atau kalimat.

Selain itu si Kecil juga akan diajarkan untuk memahami dan mengekspresikan bahasa agar ia bisa menggunakan bahasa melalui berbagai bentuk seperti tulisan, gambar, simbol, dan lainnya. Terapi seperti ini bisa pelan-pelan membuat si Kecil mengalami kemajuan dalam berbicara.

Itulah penjelasan mengenai gangguan Mutisme Selektif dan gejala-gejalanya, jangan lupa untuk aktif mengajak si Kecil berkomunikasi ya, Ma!

Baca juga:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!

;