Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
dad and his kids
Freepik

Mama Papa pasti sering mengalami momen di mana si Kecil tiba-tiba sangat rewel, takut, clingy atau menempel terus. Sebenarnya, ini hal wajar yang kerap dialami balita, Ma, Pa

Untuk anak seusianya, balita memang masih jarang sekali bisa bilang, “Aku nggak nyaman” atau “Aku takut.” Mereka punya cara sendiri yang lebih halus untuk memberi tahu kita bahwa mereka sedang butuh rasa aman dan perlindungan.

Nah, biar Mama dan Papa lebih memahami perasaan anak saat merasa tidak aman, berikut Popmama.com rangkumkan beberapa bahasa rahasia anak agar bisa lebih sigap memberikan pelukan yang tepat.

1. Bahasa tubuh untuk meminta bantuan "tolong aku!"

Freepik/prostooleh

Ini yang paling klasik, saat si Kecil tiba-tiba jadi clingy. Maunya nempel terus, minta gendong melulu, atau meraih tangan Mama kuat-kuat saat bertemu orang baru atau berada di tempat asing.

Perilaku ini bukan manja biasa ya, Ma, melainkan insting alaminya untuk mencari tempat aman dari Mama dan Papa ketika tubuhnya merasa berada dalam ancaman.

Sekecil apa pun itu menurut kita, perasaan anak usia balita seperti ini wajar dialami, kok. Dengan menempel, ia memastikan sumber rasa amannya ada dalam jangkauan.

Jadi, saat dia meraih tanganmu, itu artinya, “Aku percaya Mama dan Papa bisa jagain aku.”

2. Mendadak nge-freeze karena sedang waspada

Freepik/jcomp

Kalau tiba-tiba si kecil membeku atau freeze, diam mematung, atau berhenti main saat mendengar suara aneh, jangan langsung dianggap ia tidak patuh ya, Ma.

Biasanya hal ini terjadi ketika anak sedang dalam mode waspada tinggi. Nah, reaksi anak yang mendadak nge-freeze ini menjadi cara sistem sarafnya menghadapi sesuatu yang tidak dikenalnya.

Anak membutuhkan waktu untuk memproses, dan di saat itu, dia sangat butuh kita untuk jadi tempat aman untuk menenangkan.

Misalnya saat anak tiba-tiba diam karena mendengar suara petugas semprot nyamuk di luar rumah. Mama bisa coba dekati dan beri penjelasan lembut, “Itu suara apa, ya? Oh, tukang semprot nyamuk. Nggak apa-apa, suaranya emang gedor-gedor gitu.”

Kata-kata sederhana yang Mama ucapkan ini bisa membantu mengurai ketakutannya.

3. Mencari keberadaan orangtua di tengah keramaian

Pexels/Barbara Olsen

Radar pencari orangtua pada anak itu sangat akurat lho, Ma, Pa!

Di tengah keramaian atau situasi baru, perhatikan matanya yang akan selalu mencari ke sekeliling. Nah begitu bertatapan dengan kita, seringkali wajahnya langsung rileks.

Sebaliknya, jika dia tidak menemukan kita, kepanikannya bisa berubah menjadi lari kencang untuk langsung menghampiri ke arah kita.

Itu adalah aksi penyelamatan diri alaminya, ketika anak sedang merasa butuh keamananan. Jadi, jangan abaikan tatapan atau larinya itu, ya. Itu ibarat panggilan darurat baginya untuk bertanya, “Mama masih menemani aku, kan?"

4. Minta orangtua memastikan keamanannya

Freepik/Lifestylememory

Saat akan tidur adalah puncak kerentanan bagi banyak anak. Permintaan berulang seperti, "Mama coba cek kolong tempat tidur" atau "lihat di lemari" sering kita anggap taktik menunda tidur.

Padahal bagi anak usia balita, ini adalah prosedur keamanan yang sangat serius demi keamanan mereka, Ma. Mereka butuh bukti fisik bahwa lingkungannya aman sebelum tidur.

Mungkin sering kali Mama dan Papa merasa ritual ini menyebalkan, tapi ini justru jadi cara mereka mengendalikan kecemasan.

Untuk menenangkan anak dan memastikan keamanannya, Mama bisa mengucapkan padanya dengan lembut, "Iya, nak, kamar ini aman. Mama kan di sini jagain kamu."

5. Tantrum jadi jalan pintas untuk mengungkapkan ledakan

Freepik/user18526052

Ini adalah bahasa yang paling mudah salah dibaca oleh orangtua, yakni tantrum atau meltdown.

Saat rasa tidak aman, lelah, atau bingung sudah menumpuk dan tidak bisa lagi dikelola, meledaklah emosinya. Nah, karena usia balita belum sepenuhnya bisa memahami perasaan yang ia rasakan, rengekan, tangisan hebat, atau guling-guling di lantai toko seringkali menjadi jeritan terakhirnya.

Namun perlu Mama ketahui, di balik amukan itu, ada anak yang tenggelam dalam perasaan dan butuh kita jadi penolongnya, bukan malah memarahinya.

Alih-alih langsung menuruti kemauan anak yang bisa membuat mereka berpikir bahwa menangis adalah jalan pintas, Mama bisa coba untuk hadir mendekapnya sembari menyampaikan, “Ada Mama di sini."

Kalau perasaannya sudah sedikit lebih tenang, barulah Mama bisa menanyakan padanya alasan ia tantrum. Dengan begitu, anak bisa merasa aman dan belajar mengenali perasaannya.

Dengan memahami bahasa rahasia anak di atas, kita nggak cuma jadi lebih sabar, tapi juga lebih efektif dalam membangun keamanan untuk si Kecil.

Setiap kali kita merespons dengan lembut, kita seperti membisikkan jawaban pasti ke dalam hatinya, “Iya, sayang. Kamu aman. Mama Papa di sini selalu.”

Dan dari rasa aman itulah, keberaniannya untuk menjelajahi dunia akan tumbuh seiring bertambahnya usia. Semoga informasinya bermanfaat ya, Ma, Pa.

Editorial Team