Ini adalah bahasa yang paling mudah salah dibaca oleh orangtua, yakni tantrum atau meltdown.
Saat rasa tidak aman, lelah, atau bingung sudah menumpuk dan tidak bisa lagi dikelola, meledaklah emosinya. Nah, karena usia balita belum sepenuhnya bisa memahami perasaan yang ia rasakan, rengekan, tangisan hebat, atau guling-guling di lantai toko seringkali menjadi jeritan terakhirnya.
Namun perlu Mama ketahui, di balik amukan itu, ada anak yang tenggelam dalam perasaan dan butuh kita jadi penolongnya, bukan malah memarahinya.
Alih-alih langsung menuruti kemauan anak yang bisa membuat mereka berpikir bahwa menangis adalah jalan pintas, Mama bisa coba untuk hadir mendekapnya sembari menyampaikan, “Ada Mama di sini."
Kalau perasaannya sudah sedikit lebih tenang, barulah Mama bisa menanyakan padanya alasan ia tantrum. Dengan begitu, anak bisa merasa aman dan belajar mengenali perasaannya.
Dengan memahami bahasa rahasia anak di atas, kita nggak cuma jadi lebih sabar, tapi juga lebih efektif dalam membangun keamanan untuk si Kecil.
Setiap kali kita merespons dengan lembut, kita seperti membisikkan jawaban pasti ke dalam hatinya, “Iya, sayang. Kamu aman. Mama Papa di sini selalu.”
Dan dari rasa aman itulah, keberaniannya untuk menjelajahi dunia akan tumbuh seiring bertambahnya usia. Semoga informasinya bermanfaat ya, Ma, Pa.