5 Fakta Toxic Parents yang Berdampak Buruk pada Psikologis Anak

Jangan memutarbalikkan kebenaran di hadapan anak, ya!

14 September 2020

5 Fakta Toxic Parents Berdampak Buruk Psikologis Anak
Freepik/prostooleh

Orangtua yang membawa kasih sayang dan penuh cinta akan berdampak luar biasa pada mental anak.

Tapi tanpa disadari, beberapa sikap orangtua melampaui batas hingga tidak memerhatikan psikologis anak. Sikap tersebutlah yang dinamakan toxic parents. 

Agileleanlife menjelaskan, toxic parents jarang muncul sebagai perilaku yang menyimpang. Namun biasanya mereka melakukan hal-hal yang sangat tidak atas nama cinta.

Di mana toxic parent dapat menyebabkan kerusakan emosional yang hebat pada anak-anak.

Berikut Popmama.com berikan 5 fakta dampak toxic parents pada psikologis anak, diantaranya: 

1. Orangtua yang egois membawa luka tidak terlihat

1. Orangtua egois membawa luka tidak terlihat
Pixabay/DigiPD

Orangtua yang egois sering mencoba mengendalikan anak-anaknya dengan ancaman dan pelecehan emosional.

Padahal pengasuhan cara ini berdampak buruk pada perkembangan psikologis mereka.

Ondinawellness mengatakan, anak akan membawa luka tak terlihat saat tumbuh bersama orangtua yang egois. Bahkan ketika anak itu dewasa efeknya menjadi lebih jelas.

Orangtua dengan kepribadian egois adalah gangguan mental yang memiliki perasaan meningkat tentang kepentingannya sendiri dan selalu dirinya harus didahulukan.

Editors' Picks

2. Memutarbalikkan situasi berdampak pada cara berpikir anak

2. Memutarbalikkan situasi berdampak cara berpikir anak
Freepik

Sebenarnya orangtua harus bersikap sehat secara emosional untuk menunjukkan kepedulian yang tulus terhadap perasaan anak.

Dilansir dari Psychcentral, orangtua yang menutupi kebenaran untuk diri mereka terlihat baik mungkin akan menggunakan penolakan agar mendapatkan apa yang diinginkan.

Ya, ciri toxic parents yang suka memutarbalikkan situasi biasanya menginternalisasi semua kesalahannya.

Hal ini tentu berdampak buruk pada sikap dan cara berpikir anak hingga mereka dewasa nanti.

3. Melarang anak marah membahayakan mentalnya

3. Melarang anak marah membahayakan mentalnya
Pixabay/Bob_Dmyt

Alih-alih sedang marah, banyak orangtua yang menolak untuk memupuk kebutuhan emosional sang anak.

Verywellfamily mengungkapkan, anak-anak lebih mungkin untuk menyerang ketika mereka tidak memahami perasaannya dengan memukul saat marah.

Namun melarang anak mengeluarkan emosinya bisa membahayakan kesehatan mental mereka di masa depan.

Padahal seharusnya orangtua dapat membantu anak melihat sisi positif dari situasi apa pun.

Namun bukan menyuruh mereka berhenti menangis atau mengeluarkan perasaannya.

Baca juga: Ingin Hidup Lebih Bahagia? Hindari 7 Kriteria Toxic People Ini

4. Mengawasi anak berlebihan membuatnya tidak percaya diri

4. Mengawasi anak berlebihan membuat tidak percaya diri
Freepik/prostooleh

Memang pengawasan yang tidak memadai menjadi beberapa penyebab utama cedera pada anak.

Dengan demikian, saat anak berada di taman bermain maka orangtua perlu memberikan kebebasan yang tidak luput dari pandangan mata.

Dikutip dari youniversetherapy, kedengarannya sangat paradoksal. Tentunya orangtua yang terlalu protektif mungkin anak tidak memiliki kepercayaan diri. Padahal ini sangat penting untuk menghadapi dunia.

Ketika mengawasi anak, sebaiknya tidak berlebihan.

Hal tersebut agar mereka mengenali dan memahami batasan dengan baik di kemudian hari.

5. Terlalu kritis menghambat perkembangan emosional anak

5. Terlalu kritis menghambat perkembangan emosional anak
Pixabay/PublicDomainPictures / 17907 foto

Sayangnya jika orangtua terlalu kritis, maka akan membawa dampak buruk pada mental anak. 

Ya, hal itu adalah aliran konstan dari berbagai pemikiran orangtua yang sangat berlebihan.

Healthline memaparkan, orangtua yang terlalu kritis terhadap anak sejak usia dini mungkin menghambat perkembangan emosionalnya.

Bahkan ciri toxic parents ini menyebabkan sang anak tidak dapat menyalurkan bakat dan minat di bidang apapun.

Di mana sikap orangtua yang terlalu berlebihan bisa menjadikan anak lebih memilih tetap diam di rumah.

Itulah kelima fakta toxic parents yang berdampak buruk pada psikologis anak.

Cobalah mengikuti kelas parenting untuk membantu Mama belajar lebih banyak tentang mempersiapkan diri dalam setiap tahap perkembangan anak. 

Baca juga: 

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.