Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
10 Kebiasaan Kecil Orangtua yang Bisa Bikin Anak Sering Marah
Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI
  • Respons orangtua yang membentak, mengancam, mempermalukan, atau mengabaikan perasaan anak dapat membuat anak terintimidasi, minder, dan lebih sering meluapkan kemarahan.

  • Kebiasaan membandingkan, terlalu mengoreksi, menuntut kepatuhan instan, serta terus mengkritik berisiko melemahkan kepercayaan diri dan inisiatif anak.

  • Orangtua dianjurkan memberi jeda, memvalidasi emosi, mengajarkan cara menenangkan diri, membangun koneksi hangat, serta meminta maaf dan memperbaiki hubungan setelah konflik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menjadi orangtua tentu bukan perjalanan yang mudah bagi Mama dan Papa di rumah, ya.

Sering kali tanpa sadar, kita melakukan hal-hal kecil yang justru memicu si Kecil menjadi lebih sering marah. 

Reaksi spontan yang Mama atau Papa tunjukkan, terutama saat lelah kerap kali salah diartikan oleh anak, lho. 

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengenali berbagai kebiasaan tanpa sadar yang bisa merusak kestabilan emosi anak.

Banyak orangtua mengira bahwa anak mereka sengaja bersikap nakal untuk menguji kesabaran. 

Padahal Ma, anak-anak sering kali hanya merefleksikan emosi serta cara komunikasi yang mereka saksikan dari orang dewasa di sekitarnya. 

Ketika otak mereka kewalahan menghadapi situasi, ledakan emosi pun tidak dapat dihindarkan lagi, deh.

Nah, sebagai orangtua yang bijak, sudah saatnya Mama atau Papa mengevaluasi diri agar tidak terjebak dalam pola asuh yang keliru.

Maka dari itu, yuk simak di Popmama.com 10 kebiasaan kecil orangtua yang bisa bikin anak sering marah.

1. Merespons terlalu cepat saat anak melakukan kesalahan

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

Orangtua mana yang tidak kesal ketika si Kecil melakukan kesalahan yang sama berulang kali.

Tapi Ma, respons yang keluar pertama kali dapat menentukan respons lain ke depannya, lho.

Jika Mama langsung membentak anak saat ia melakukan kesalahan, itu bukanlah cara yang efektif, Ma.

Sering kali, Mama atau Papa melontarkan pertanyaan menyudutkan seperti menanyakan berapa kali kita harus memberitahu mereka. 

Padahal, tindakan tersebut justru membuat si Kecil merasa terintimidasi dan takut untuk mencoba hal baru lagi. 

Sebaliknya, jika Mama mengambil jeda sejenak, pasti responsnya akan berbeda, deh!

Ingatlah selalu bahwa orangtua yang tenang akan mengajarkan jauh lebih banyak hal kepada anak dibandingkan orangtua yang sering marah-marah.

2. Membandingkan anak dengan orang lain

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

Mama atau Papa pernah gak membandingkan si Kecil dengan anak lain? Jika iya, berhenti membandingkan, ya.

Karena kebiasaan membandingkan anak dengan anak lainnya merupakan salah satu kesalahan fatal dalam pola asuh modern. 

Ketika Mama mengucapkan kalimat seperti meminta mereka meniru anak lain, si Kecil akan merasa dirinya tidak pernah cukup baik.

Padahal Ma, setiap anak terlahir dengan keunikan, potensi, serta kecepatan belajar yang sangat berbeda satu sama lain! 

Alih-alih termotivasi, anak justru akan menyimpan rasa sakit hati dan menumbuhkan kebencian mendalam di dalam hatinya. 

Oleh karena itu, Mama atau Papa perlu fokus pada progres positif yang ditunjukkan oleh si Kecil setiap harinya. 

Misalnya dengan merayakan setiap pencapaian kecil mereka agar rasa percaya diri dan harga diri anak dapat tumbuh optimal, deh.

3. Menghukum anak

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

Jika Mama perhatikan, respons anak saat salah sering kali menangis, kan?

Saat anak menangis histeris, sebagian orangtua kerap meresponsnya dengan ancaman keras agar mereka segera menghentikan tangisan tersebut. 

Kalimat-kalimat yang mengancam untuk memberikan alasan agar mereka berhenti menangis tentu sangat melukai perasaan si Kecil. 

Hal yang perlu dilakukan adalah membiarkan anak merasakan emosinya seperti rasa marah, sedih, atau kecewa.

Tugas orangtua adalah membimbing anak untuk menyalurkan emosi tersebut melalui cara yang sehat dan positif. 

Ajarkan kepada si Kecil bahwa merasa marah itu boleh, tetapi menyakiti orang lain adalah perbuatan yang salah. 

Dengan cara ini, anak akan belajar mengelola perasaan alih-alih menutupinya rapat-rapat karena takut dihukum, Ma!

4. Terlalu sering mengoreksi tindakan anak

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

Orangtua mana yang tidak ingin melihat anaknya melakukan segala hal dengan baik. 

Niat awalnya ingin memastikan bahwa segala sesuatu yang dikerjakan oleh si Kecil benar, namun jika caranya tidak tepat justru akan membuat anak minder, lho.

Ketika Mama atau Papa kebiasaan langsung melarang dan merebut pekerjaan dari tangan anak, hal itu justru mematikan inisiatif serta rasa percaya diri mereka, Ma.

Kalimat seperti melarang mereka melakukan sesuatu dengan dalih biar Mama saja yang membereskannya sangat berdampak buruk. 

Karena si Kecil hanya membutuhkan ruang yang cukup luas untuk berjuang, bereksperimen, serta belajar dari kegagalan kecil mereka. 

Rasa percaya diri yang kuat akan tumbuh ketika anak merasa dipercaya untuk mencoba berbagai tantangan baru. 

Jadi Ma, biarkan si Kecil menyelesaikan tugasnya sendiri meskipun harus menemui beberapa kesalahan di awal prosesnya, ya.

5. Mengabaikan perasaan anak

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

Ketika anak sedang ngambek atau sedih, orangtua terkadang menganggapnya sebagai drama yang tidak perlu dibesar-besarkan. 

Mengucapkan kalimat yang mengecilkan perasaan mereka seperti menyuruh mereka diam adalah tindakan yang salah, Ma.

Sikap pengabaian perasaan semacam ini justru membuat si Kecil merasa bahwa emosi dan isi hati mereka sama sekali tidak penting. 

Padahal, anak-anak jauh lebih cepat merasa tenang ketika mereka mendapati diri dipahami oleh orangtuanya, lho. 

Kalimat sederhana yang menunjukkan empati akan membuat hati mereka jauh lebih lapang dan kooperatif. Ma.

Validasi perasaan mereka terlebih dahulu sebelum Mama atau Papa mulai mengajak mereka mencari solusi atas masalah yang dihadapi.

6. Menuntut anak untuk mengontrol emosinya

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

Banyak orangtua sering kali kehilangan kesabaran dan menuntut anak untuk bersikap tenang layaknya orang dewasa.

Padahal, jika Mama atau Papa belum mengajarkan anak untuk mengontrol emosinya, maka si Kecil justru akan kebingungan!

Kalimat teguran bernada tinggi untuk menyuruh anak bersikap yang baik sering terlontar saat anak tantrum. 

Padahal, si Kecil belum memiliki kapasitas neurologis yang matang untuk meregulasi emosi mereka sendiri secara mandiri, Ma.

Jadi, Mama atau Papa tidak bisa menuntut anak untuk konsisten melakukan sesuatu yang bahkan belum pernah kita ajarkan sebelumnya kepada mereka. 

Oleh karena itu, ajarkanlah berbagai keterampilan menenangkan diri terlebih dahulu sebelum Mama atau Papa menuntut anak untuk bisa mengendalikan emosi, ya.

Kesabaran ekstra dari Mama dan Papa adalah kunci utama dalam keberhasilan proses pembelajaran emosional ini.

7. Menghukum anak dengan rasa malu

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

Jika Mama atau Papa melontarkan pertanyaan bernada merendahkan, seperti mempertanyakan apa yang salah dengan diri anak adalah bentuk kekerasan verbal.

Kalimat semacam itu secara langsung menyerang identitas pribadi anak, bukannya mengajari kesalahan anak dan mengoreksi perilaku buruknya. 

Rasa malu yang ditanamkan oleh orangtua akan mengubah cara si Kecil memandang diri mereka secara negatif. 

Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang minder, penakut, dan merasa selalu berbuat salah dalam banyak hal. 

Padahal, tujuan disiplin positif adalah memperbaiki tindakan anak tanpa harus merusak harga diri serta kehormatan mereka, Ma.

Maka dari itu, hentikan kebiasaan mencela agar mental anak tetap terlindungi dengan baik hingga dewasa nanti, ya.

8. Tidak melakukan pemulihan setelah konflik

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

Ma, bentakan dan kemarahan yang meledak-ledak di rumah memang terkadang sulit dihindari di tengah penatnya kesibukan harian. 

Namun, kesalahan terbesar orangtua adalah pura-pura melupakan kejadian tersebut seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. 

Anak akan merekam setiap perlakuan Mama atau Papa, mereka sebenarnya membutuhkan kejelasan emosional melalui proses pemulihan hubungan atau repair.

Yuk, meminta maaf secara tulus kepada anak setelah Mama atau Papa berteriak. 

Karena melalui hal itu, Mama dan Papa mengajarkan mereka arti penting sebuah akuntabilitas. 

Kalimat sederhana mengakui kesalahan akan memberikan rasa aman secara emosional serta membangun kembali kepercayaan anak, lho. 

Melalui hal tersebut, si Kecil akan belajar bahwa sebuah hubungan tetap bisa diperbaiki meskipun sempat diwarnai perselisihan.

9. Menuntut anak untuk patuh

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

Sebagian besar orangtua merasa berhak menuntut ketaatan anak secara instan hanya karena status mereka sebagai orang dewasa.

Alasan klasik seperti menyuruh anak menuruti perintah semata-mata karena perkataan orangtua sering kali diandalkan. 

Padahal Ma, pendekatan otoriter seperti ini justru memicu perlawanan bawah sadar dan membuat anak semakin agresif, lho. 

Anak sebenarnya jauh lebih mudah diajak bekerja sama dan kooperatif dengan Mama Papa yang memiliki kedekatan emosional dengan mereka. 

Oleh karena itu, hal pertama yang perlu dilakukan adalah membangun koneksi yang hangat terlebih dahulu.

Lalu Mama atau Papa dapat menegakkan batasan aturan di rumah. 

Kehangatan hubungan akan membuat si Kecil dengan senang hati mendengarkan nasihat tanpa merasa tertekan, deh.

10. Terlalu sering memberikan kritik pada anak

Popmama.com/Raisha Nurul Riza/AI

Jika Mama atau Papa terbiasa fokus pada kesalahan kecil anak, hal tersebut justru membuat anak merasa dirinya kurang.

Seringkali kalimat teguran dilontarkan oleh Mama atau Papa karena merasa anak tidak pernah mendengarkan menjadi hal pertama yang keluar dari mulut kita. 

Padahal, apa yang konsisten kita perhatikan dan ucapkan setiap hari adalah hal yang akan bertumbuh pada diri anak, lho. 

Jadi, mulailah membiasakan diri untuk lebih jeli melihat momen-momen kecil ketika mereka berhasil melakukan sesuatu dengan benar. 

Berikan dorongan dan pujian tulus agar semangat positif tersebut terus tertanam kuat di dalam diri si Kecil. 

Dengan dorongan yang tepat, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan berjiwa besar deh, Ma!

Perjalanan membersamai tumbuh kembang anak memang penuh dengan tantangan dan dinamika emosional setiap harinya, ya. 

Itu dia Ma, 10 kebiasaan kecil orangtua yang bisa bikin anak sering marah.

Kesalahan kecil yang tidak disengaja adalah hal yang wajar, asalkan Mama atau Papa selalu memiliki niat tulus untuk terus memperbaiki diri. 

Ingatlah bahwa anak tidak pernah menuntut kehadiran orang tua yang sempurna, melainkan figur yang membuat mereka merasa aman.

Mari jadikan rumah sebagai tempat paling nyaman bagi si Kecil untuk belajar, berekspresi, dan bertumbuh secara optimal.

Curated For You

Editorial Team

Related Article