Memasuki usia 2 tahun, si Kecil rasanya semakin hari semakin banyak tingkahnya. Baru saja belajar bicara, sekarang sudah mulai banyak bertanya.
13 Kemampuan yang Mulai Bisa Dilakukan Anak saat Berusia 2 Tahun

Pada usia 2 tahun, anak mulai memperkaya kosakata, memahami instruksi sederhana, menggabungkan kata, serta mengingat karakter dan alur buku yang familiar.
Rasa ingin tahu berkembang melalui eksplorasi sebab-akibat, coretan, penggunaan alat makan, dan mulai mengenali perasaan orang lain.
Motorik anak makin aktif lewat berjalan, berlari, menaiki tangga, hingga mencoba melompat; tiap anak memiliki ritme berbeda dan tetap perlu pendampingan aman.
Baru bisa berjalan, kini mulai berlari ke sana kemari. Belum lagi rasa penasarannya yang membuat Mama harus siap dengan berbagai eksplorasi baru setiap hari.
Fase ini memang penuh kejutan karena perkembangan anak tidak hanya terlihat dari kemampuan fisiknya. Bahasa, daya ingat, kemampuan memahami lingkungan, hingga perkembangan sosial dan emosional juga mulai menunjukkan perubahan yang menarik.
Meski begitu, setiap anak tetap memiliki ritme perkembangan yang berbeda sehingga tidak perlu membandingkan pencapaian si Kecil dengan anak lain.
Lantas, apa saja kemampuan yang mulai bisa dilakukan anak usia 2 tahun?
Berikut Popmama.com telah merangkum 13 kemampuan yang mulai bisa dilakukan anak saat berusia 2 tahun. Yuk, simak!
1. Mulai mempelajari banyak kata baru setiap hari

Pexels/cottonbro studio Kosakata si Kecil biasanya berkembang semakin pesat ketika memasuki usia 2 tahun. Mama mungkin mulai menyadari bahwa ada banyak kata baru yang muncul dalam percakapannya sehari-hari. Kata-kata tersebut bisa berasal dari orang-orang di rumah, buku cerita, lagu, atau lingkungan sekitar.
Meski begitu, Mama tidak perlu menetapkan target bahwa anak harus menguasai jumlah kata tertentu setiap harinya. Setiap anak memiliki kecepatan perkembangan bahasa yang berbeda.
Ada yang sudah banyak bicara, sementara lainnya masih menggunakan beberapa kata sederhana. Mama bisa membantu memperkaya kosakata dengan mengajak si Kecil berbicara sepanjang hari.
Ketika melihat kucing misalnya, Mama bisa mengatakan:
“Lihat, ada kucing putih.”
Percakapan sederhana seperti ini memberi kesempatan anak mendengar sekaligus mempelajari kata-kata baru dalam konteks yang mudah dipahami.
2. Terobsesi dengan konsep sebab dan akibat

Pexels/Polesie Toys Si Kecil mungkin mulai senang melakukan sesuatu berulang kali hanya untuk melihat apa yang akan terjadi. Menekan tombol, menjatuhkan mainan, membuka pintu, atau menuangkan air bisa menjadi aktivitas yang sangat menarik baginya.
Bukan sekadar bermain, kebiasaan tersebut menunjukkan rasa ingin tahu anak yang sedang berkembang. Ia mulai memahami bahwa tindakan tertentu dapat menghasilkan suatu kejadian.
Ketika tombol ditekan misalnya, lampu bisa menyala. Ketika bola didorong, benda tersebut akan bergerak.
Mama bisa memanfaatkan rasa penasaran ini sebagai kesempatan belajar. Berikan permainan sederhana yang memungkinkan si Kecil bereksperimen dengan aman.
Mama juga dapat ikut menjelaskan hubungan sebab-akibat yang terjadi. Misalnya:
“Kalau tombolnya ditekan, bunyinya keluar, ya.”
Kalimat sederhana seperti ini membantu anak memahami hubungan antara tindakan yang dilakukan dan hasil yang muncul setelahnya.
3. Mulai mengenali karakter yang familiar

Pexels/Vidal Balielo Jr. Si Kecil mungkin sudah memiliki karakter favorit yang langsung dikenali ketika melihat gambar atau mainannya. Bahkan, ia bisa saja langsung menunjuk sambil menyebut nama karakter tersebut dengan kemampuan bicaranya sendiri.
Kemampuan mengenali karakter yang familiar berkaitan dengan perkembangan daya ingat dan kemampuan anak menghubungkan sesuatu yang dilihat dengan pengalaman sebelumnya. Hal serupa juga bisa terlihat ketika si Kecil mengenali Mama, Papa, anggota keluarga, hewan, atau benda yang sering ditemuinya.
Mama dapat membantu mengasah kemampuan ini melalui buku cerita atau permainan. Coba tunjukkan gambar dan tanyakan:
“Ini siapa?”
“Mana yang pakai topi?”
Tidak masalah jika si Kecil belum menjawab dengan kata-kata. Menunjuk gambar atau memberikan respons sederhana juga merupakan bagian dari proses belajar.
Semakin sering dilakukan, anak akan semakin terbiasa mengenali dan mengingat hal-hal yang familiar baginya.
4. Mulai bisa menggunakan alat makan sendiri

Pexels/Jep Gambardella Waktu makan bisa menjadi salah satu momen yang menunjukkan perkembangan kemandirian si Kecil. Memasuki usia 2 tahun, anak umumnya mulai belajar menggunakan sendok untuk makan sendiri, meskipun gerakannya masih belum sempurna.
Mama mungkin akan menemukan makanan tumpah, sendok terjatuh, atau sebagian makanan justru tidak sampai ke mulut. Kondisi tersebut sangat wajar karena kemampuan koordinasi tangan dan mata anak masih terus berkembang.
Mama tidak perlu langsung mengambil alih ketika si Kecil kesulitan. Berikan kesempatan untuk mencoba sambil tetap mendampingi. Alat makan dengan ukuran yang sesuai tangan anak juga dapat membuatnya lebih mudah berlatih.
Aktivitas makan sendiri bukan hanya tentang membuat anak kenyang. Si Kecil juga sedang belajar mengontrol gerakan, menggunakan tangannya dengan lebih terampil, dan membangun rasa percaya diri ketika melakukan sesuatu secara mandiri.
5. Memahami lebih banyak daripada yang Mama kira

Pexels/kaboompics Jangan langsung menganggap si Kecil tidak memahami perkataan Mama hanya karena kemampuan bicaranya masih terbatas. Pada usia 2 tahun, kemampuan memahami bahasa dapat berkembang lebih cepat dibandingkan kemampuan mengungkapkan sesuatu melalui kata-kata.
Mama mungkin melihatnya ketika meminta:
“Tolong ambil sepatunya.”
Kemudian si Kecil benar-benar mengambil sepatu. Ia juga bisa memahami rutinitas sederhana di rumah, seperti mengetahui bahwa setelah mandi biasanya waktunya memakai baju.
Mama dapat terus menstimulasi kemampuan ini melalui percakapan sehari-hari. Gunakan kalimat sederhana dan berikan instruksi yang mudah dipahami.
Mama juga bisa meminta si Kecil membantu pekerjaan ringan, seperti mengambil buku atau menyimpan mainan.
Tidak perlu memberikan banyak instruksi sekaligus. Berikan satu permintaan terlebih dahulu agar anak memiliki kesempatan memahami, memproses, lalu merespons perkataan Mama dengan caranya sendiri.
6. Kemampuan bicaranya mulai semakin jelas

Pexels/Kampus Production Memasuki usia 2 tahun, perkembangan bahasa si Kecil biasanya mulai semakin terlihat. Anak dapat mulai menggabungkan beberapa kata sederhana untuk menyampaikan keinginan, seperti:
"mau susu."
“Mama sini.”
“ambil bola.”
Namun, kemampuan berbicara setiap anak tentu tidak sama. Ada anak yang sudah sangat cerewet, sementara anak lain masih menggunakan kata-kata pendek dan gestur untuk berkomunikasi.
Mama tidak perlu memaksa si Kecil mengulang kata tertentu berkali-kali. Sebaliknya, berikan contoh melalui percakapan sehari-hari. Ketika anak mengatakan “susu”, Mama bisa merespons:
“Mau minum susu?”
Dengan begitu, si Kecil mendengar contoh kalimat yang lebih lengkap tanpa merasa sedang diuji.
Mama juga bisa sering membacakan buku, bernyanyi, dan mengajak anak berbicara tentang aktivitas yang sedang dilakukan. Stimulasi sederhana dan konsisten seperti ini membantu menciptakan banyak kesempatan bagi anak untuk mendengar serta menggunakan bahasa.
7. Mulai semakin percaya diri menaiki tangga

Pexels/Jep Gambardella Kemampuan motorik kasar si Kecil juga berkembang pesat ketika memasuki usia 2 tahun. Salah satu kemampuan yang mungkin mulai terlihat adalah ia semakin percaya diri berjalan menaiki beberapa anak tangga.
Gerakan ini membutuhkan keseimbangan, koordinasi, kekuatan kaki, dan keberanian untuk memindahkan tubuh dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya. Karena itu, kemampuan setiap anak bisa terlihat berbeda.
Mama tetap perlu mendampingi si Kecil ketika berada di sekitar tangga. Meskipun anak terlihat sudah pandai berjalan, ia belum tentu mampu menjaga keseimbangan dengan baik ketika menghadapi permukaan yang berbeda atau tangga yang cukup tinggi.
Mama bisa memberikan kesempatan untuk berlatih di lingkungan yang aman sambil memegang tangannya jika diperlukan. Hindari membiarkan anak bermain sendiri di dekat tangga.
Kemampuan menaiki tangga sebaiknya dipandang sebagai proses belajar, bukan perlombaan. Berikan waktu agar si Kecil dapat mengembangkan keseimbangan dan koordinasinya secara bertahap.
8. Mulai menyadari perasaan orang lain

Pexels/Jep Gambardella Perkembangan sosial dan emosional si Kecil mulai semakin menarik ketika memasuki usia 2 tahun. Ia mungkin mulai memperhatikan ketika Mama menangis, melihat temannya kesal, atau mendekati seseorang yang sedang sedih.
Kemampuan ini menunjukkan bahwa anak mulai menyadari bahwa orang lain juga memiliki perasaan. Namun, jangan berharap si Kecil langsung memahami emosi orang lain secara mendalam seperti orang dewasa.
Kemampuan tersebut masih berkembang dan membutuhkan banyak contoh dari lingkungan sekitar. Mama bisa membantu dengan menyebutkan nama emosi yang sedang terlihat. Misalnya:
“Kakak sedang sedih karena mainannya rusak.”
Ketika Mama sendiri merasa senang, Mama juga bisa mengatakan:
“Mama senang karena kita bermain bersama.”
Kebiasaan sederhana ini membantu anak menghubungkan ekspresi wajah, situasi, dan perasaan. Perlahan, si Kecil akan semakin mengenali bahwa setiap orang bisa memiliki perasaan yang berbeda dalam suatu keadaan.
9. Mulai gemar membuat coretan dan garis

Pexels/Stephen Andrews Kertas kosong bisa menjadi tempat yang sangat menarik bagi si Kecil ketika memasuki usia 2 tahun. Ia mungkin mulai sering membuat coretan, garis, atau bentuk sederhana menggunakan krayon.
Jangan berharap hasilnya langsung terlihat seperti gambar tertentu, Ma. Pada tahap ini, kegiatan menggambar lebih berkaitan dengan proses eksplorasi dan latihan koordinasi tangan serta mata.
Anak sedang belajar mengendalikan gerakan tangannya sekaligus melihat hasil dari gerakan tersebut.
Mama bisa menyediakan kertas berukuran cukup besar dan alat gambar yang aman digunakan anak. Biarkan si Kecil membuat coretan sesuai keinginannya tanpa terlalu banyak diarahkan.
Jika ia mengatakan bahwa coretannya adalah gambar Mama, kucing, atau rumah, ikuti saja ceritanya. Mama bisa bertanya:
“Wah, ini rumah siapa?”
Respons seperti itu dapat membuat kegiatan menggambar terasa menyenangkan sekaligus mendorong anak untuk bercerita.
Kemampuan membuat bentuk tertentu akan terus berkembang seiring bertambahnya usia dan kematangan motorik halus.
10. Mulai mengingat apa yang terjadi dalam buku

Pexels/Arina Krasnikova Membaca buku yang sama berulang kali mungkin terasa membosankan bagi Mama, tetapi bagi si Kecil justru bisa sangat menyenangkan. Anak usia 2 tahun mulai memiliki kemampuan mengingat pengalaman yang sudah familiar, termasuk bagian tertentu dari cerita.
Mama mungkin melihat si Kecil membuka halaman tertentu lalu langsung menunjuk gambar favoritnya. Ia juga bisa menunggu bagian cerita yang sudah dikenal atau mencoba mengucapkan kata yang sering muncul.
Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa anak mulai menghubungkan gambar, kata, dan urutan kejadian dalam cerita. Mama dapat memanfaatkan momen ini dengan memberikan jeda sebelum bagian favoritnya.
“Setelah ini siapa, ya?”
Mama bisa bertanya sambil menunggu respons si Kecil. Anak tidak harus menjawab dengan kalimat lengkap. Menunjuk gambar atau mengucapkan satu kata juga sudah menjadi bentuk partisipasi.
Membaca berulang kali akhirnya bukan hanya mempererat bonding, tetapi juga membantu anak mengembangkan kemampuan bahasa, perhatian, dan daya ingat.
11. Tubuhnya semakin kuat dan aktif

Pexels/Yan Krukau Perubahan fisik si Kecil mungkin semakin terasa ketika usianya menginjak 2 tahun. Anak terlihat lebih aktif bergerak, berlari, memanjat, menendang bola, atau mencoba berbagai permainan yang membutuhkan gerakan tubuh.
Mama mungkin merasa tubuh anak sudah jauh lebih kuat dibandingkan ketika masih bayi. Namun, perubahan tersebut sebaiknya tidak hanya dikaitkan dengan berkurangnya baby fat dan berubah menjadi otot.
Pertumbuhan tubuh anak merupakan proses yang dipengaruhi banyak faktor, termasuk nutrisi, aktivitas, tidur, dan pertumbuhan alami.
Mama tidak perlu menjadikan bentuk tubuh sebagai patokan utama perkembangan anak. Lebih baik perhatikan apakah si Kecil mendapatkan makanan bergizi, cukup beristirahat, dan memiliki kesempatan bergerak setiap hari.
Berikan ruang bagi anak untuk aktif bermain di lingkungan yang aman. Aktivitas fisik yang menyenangkan dapat membantu mendukung perkembangan kekuatan, koordinasi, keseimbangan, sekaligus membuat si Kecil semakin percaya diri menggunakan tubuhnya.
12. Berjalan dan berlari semakin lancar

Pexels/Tri Warno Memasuki usia 2 tahun, si Kecil mungkin sudah jauh lebih lincah ketika berjalan dan berlari. Kalau sebelumnya Mama harus mengejar setiap langkah kecilnya, sekarang Mama mungkin justru harus lebih sering mengejar si Kecil yang berlari ke sana kemari.
Kemampuan berlari menunjukkan bahwa koordinasi tubuh dan keseimbangan anak semakin berkembang. Ia juga mulai mampu mengontrol gerakan tubuh dengan lebih baik ketika berpindah tempat.
Mama bisa mendukung perkembangan tersebut melalui permainan sederhana. Ajak si Kecil mengejar bola, berjalan mengikuti Mama, atau berlari menuju titik tertentu di tempat yang aman.
Pastikan lingkungan bermain cukup luas dan bebas dari benda yang dapat membuat anak tersandung. Pengawasan tetap penting karena kemampuan berlari yang semakin baik bukan berarti anak sudah mampu mengenali semua risiko di sekitarnya.
Biarkan si Kecil menikmati fase aktif ini. Bermain sambil bergerak merupakan salah satu cara menyenangkan bagi anak untuk terus melatih kemampuan motoriknya.
13. Mulai mencoba melompat dan gerakan yang lebih rumit

Pexels/Gustavo Fring Setelah semakin percaya diri berjalan dan berlari, si Kecil biasanya mulai tertarik mencoba berbagai gerakan baru. Melompat, berdiri dengan satu kaki, atau meniru gerakan orang lain bisa menjadi bagian dari eksplorasi motoriknya.
Namun, kemampuan seperti hop dan skip membutuhkan koordinasi serta keseimbangan yang lebih matang. Karena itu, Mama tidak perlu khawatir jika anak usia 2 tahun belum bisa melakukannya dengan sempurna.
Mama justru bisa mengajak si Kecil mencoba gerakan sederhana melalui permainan. Misalnya, ajak anak melompat di tempat sambil menirukan Mama. Berikan contoh terlebih dahulu, kemudian biarkan ia mencoba dengan kemampuannya sendiri.
Pastikan permainan dilakukan di permukaan yang aman dan tidak licin. Jangan memaksa anak melakukan gerakan yang belum dikuasainya.
Setiap lompatan kecil tetap merupakan bagian dari proses belajar. Seiring bertambahnya usia dan kekuatan tubuh, koordinasi si Kecil akan terus berkembang sehingga gerakan yang lebih kompleks dapat dilakukan secara bertahap.
Itulah 13 kemampuan yang mulai bisa dilakukan anak saat berusia 2 tahun. Mama juga bisa mencatat perkembangan baru yang mulai muncul agar lebih mudah melihat perubahan kemampuan si Kecil dari waktu ke waktu.
Namun, jika ada hal yang membuat Mama khawatir mengenai tumbuh kembang anak, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter ya, Ma!



















