Masih sambil berpura-pura kesal, Papa Arie yang sedang diajak berlatih napas untuk menenangkan diri pun kembali berucap, "Tapi aku nggak sabar."
Mendengar Papanya berucap demikian, Naka dengan penuh spontan langsung memeluk Papa Arie seolah ingin menenangkannya agar tetap sabar dan tidak marah, ia kembali berkata, "Kamu nggak boleh marah."
Mengetahui apa yang dilakukan anaknya tersebut, Papa Arie pun langsung ikut memeluk putranya sembari berkata bahwa dirinya langsung sabar karena mendapat perlakuan manis dari putra tercinta.
Perilaku Naka bukanlah hal yang terjadi secara instan. Hal ini merupakan hasil dari proses mencontoh yang konsisten dari orangtuanya. Sebagai peniru ulung, anak-anak itu bisa diibaratkan seperti spons yang menyerap setiap tindak-tanduk, ucapan, dan cara orangtua mereka mengelola emosi.
Ketika orangtua menunjukkan cara menghadapi amarah dengan menarik napas dan bersabar, anak akan merekam dan menirunya. Pada akhirnya, seperti yang dilakukan Naka, anak akan mengingat dan menerapkan metode yang sama ketika melihat orang lain, bahkan orangtuanya sendiri, sedang emosi.