Anak di Tahap Terrible Two? Hadapi dengan 5 Cara Ini

Salah satunya adalah peran Mama sebagai role model bagi anak

26 September 2020

Anak Tahap Terrible Two Hadapi 5 Cara Ini
Pexels/AnnaShvets

Anak yang baru bisa berjalan, lari, lompat, hingga bicara sepatah dua kata memang sedang lucu-lucunya ya Ma. Tapi, di masa ini juga beberapa orangtua merasakan anak menjadi sering rewel dan marah dengan alasan atau bahkan tanpa Mama tahu alasannya.

Keadaan itu disebut dengan terrible two

Menurut Adisti F. Soegoto, M.Psi, Psikolog, terrible two adalah usia dua tahun yang menyulitkan, di mana anak berperilaku yang tidak menyenangkan, destruktif hingga tantrum. 

Anak usia 2 tahun masih bersifat egosentris atau self centered. Semua berpusat pada diri sendiri sehingga anak sering melakukan hal yang tidak menyenangkan seperti sulit berkenalan, tidak ramah, dan tidak mau berbagi mainan.

Beberapa orangtua melihat hal tersebut sebagai anak yang tidak memiliki tata krama dan sopan santun. Emosi anak juga meningkat dengan merobek, membanting, melempar barang di sekitarnya dan berujung tantrum agar keinginan anak bisa dipenuhi.

Secara umum, tantrum merupakan perilaku yang wajar terjadi pada batita. Meski demikian, beberapa anak memunculkan perilaku tantrum yang lebih intens.

Terdapat 14% anak usia 1 tahun, 20% anak usia 2-3 tahun, dan 11% anak usia 4 tahun yang memunculkan tantrum lebih sering: bisa dua kali atau lebih setiap harinya.

Anak-anak ini juga cenderung tetap memunculkan perilaku tantrum di usia pra-sekolah dan usia sekolah. 

Berdasarkan hasil wawancara dengan Adisti F. Soegoto, M.Psi, Popmama.com telah merangkum 5 cara menghadapi anak tantrum dalam fase terrible two.

1. Tetap tenang dan bicara dengan lembut

1. Tetap tenang bicara lembut
Pexels/MarkusSpiske

Ketika anak sedang meluapkan emosinya melalui kemarahan atau tangisan, jangan terlalu cepat memarahinya dengan suara tinggi. Kemarahan Mama hanya dapat menimbulkan rasa takut pada anak atau mungkin menimbulkan dampak psikologis dalam perkembangan anak.

Meskipun anak tidak langsung meredakan emosinya, pelan-pelan anak akan mencontoh bagaimana Mama menenangkan dirinya.

Editors' Picks

2. Hindari memberi hukuman

2. Hindari memberi hukuman
Freepik/drobotdean

Seperti yang Mama ketahui, memberi hukuman pada anak berupa fisik maupun non fisik yang berlebih bukan hal yang dibenarkan. Hukuman fisik berpotensi menyebabkan cedera fisik maupun dampak secara psikologis di kemudian hari.
Selain fisik, hindari juga hukuman non fisik berupa verbal seperti berdebat dan adu argumen. Anak yang sedang emosi, akan sulit memahami perkataan secara cepat. Sampaikan dengan penjelasan yang rasional ketika anak dan Mama merasa lebih tenang.

3. Beri kenyamanan pada anak

3. Beri kenyamanan anak
Freepik/user18526052

Berikan pengawasan anak selama tantrum. Jika sudah melibatkan sesuatu yang berada di sekitarnya seperti barang ditendang, dipukul atau dibanting, berarti Mama harus memindahkan anak ke tempat yang relatif lebih aman. 

Jika tidak memungkinkan, Mama dapat memeluknya untuk memberikan ketenangan dan kenyamanan. Selama dipeluk, Mama juga bisa membisikkan ungkapan empati seperti "Mama tahu kamu sedih karena tidak bisa mendapatkan apa yang kamu mau. Mama juga kadang merasa sedih kalau tidak bisa mendapatkan apa yang Mama mau.”

4. Lakukan pengalihan

4. Lakukan pengalihan
Pexels/TatianaSyrikova

Beberapa anak mudah dialihkan saat tantrum, sedangkan anak lainnya justru akan lebih marah ketika Mama coba melakukan pengalihan.

Jika anak termasuk tipe yang mudah dialihkan, Mama dapat mengajaknya membaca buku bersama, bermain puzzle, menyanyi dan menari, atau lakukan permainan kesukaan anak.

Mama juga dapat melakukan ekspresi lucu dan meminta anak untuk tidak boleh tertawa.

5. Abaikan tantrum

5. Abaikan tantrum
Freepik/diana.grytsku

Kadang hal terbaik yang dapat dilakukan adalah mengabaikan tantrum. Anak melakukan tantrum biasanya hanya untuk mendapatkan perhatian orangtua atau orang di sekitarnya. 

Meskipun awalnya intensitas tantrum meningkat, ketika Mama mengabaikan tantrum secara konsisten, lama kelamaan anak akan paham bahwa tantrum tidak efektif untuk mendapatkan perhatian Mama dan orang di sekitarnya.

Ketika tantrum sudah berakhir, jangan lupa berikan apresiasi kepada anak karena telah mampu menenangkan diri.

Peristiwa tantrum dan penyebabnya tidak perlu Mama ungkit kembali. Lebih baik ajak anak untuk bermain dan melakukan hal-hal yang positif.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.