Penyebab Hipertonia dan Hipotonia pada Anak, Pahami Apa Itu Tonus Otot

Masalah tonus otot ini penting karena terkait perkembangan motorik anak

16 September 2021

Penyebab Hipertonia Hipotonia Anak, Pahami Apa Itu Tonus Otot
Unsplash/RyanFranco
baby mad, baby upset

Otot merupakan salah satu bagian tubuh yang berperan penting untuk menggerakkan organ-organ tubuh.

Sama seperti organ tubuh yang lain, otot juga mengalami perkembangan. Terutama pada masa kanak-kanak. Karenanya tak heran jika perkembangan otot merupakan hal yang menjadi perhatian dalam tumbuh-kembang anak.

Tak terkecuali masalah otot seperti hipertonia dan hipotonia.

Berikut ini Popmama.com merangkum informasi seputar hipertonia dan hipotonia pada anak yang penting diketahui orangtua:

1. Apa itu tonus otot?

1. Apa itu tonus otot
Freepik

Cobalah mencubit lengan atau betis si Kecil dengan lembut. Apa yang mama rasakan tatkala mencubit lengan si Kecil adalah tonus otot.

Tonus otot merupakan tingkat ketegangan pada otot yang rileks, dan semua orang memilikinya dalam tingkatan yang berbeda-beda. Bisa dibilang tonus otot semacam kontraksi yang dipertahankan oleh otot itu sendiri. 

Banyak orang yang mengalami sejumlah resistensi atau ketegangan ketika meregangkan otot saat melakukan sesuatu. Tonus otot yang lemah atau terlalu kuat dapat menyebabkan masalah motorik.

2. Apa itu hipertonia?

2. Apa itu hipertonia
Freepik/pch.vector

Hipertonia adalah kondisi di mana terjadi peningkatan pada tonus otot, dilansir dari Surestep. Anak yang mengalami hipertonia digambarkan memiliki otot yang kaku dan tegang karena ototnya terlalu mengencang. 

Anak dengan hipertonia biasanya mengalami masalah dengan fleksibilitas. Ia mungkin mengalami kesulitan berjalan, meraih, menarik, bahkan kesulitan makan. Jika hipertonia parah, dapat menyebabkan sendi menjadi 'beku' yang disebut dengan kontraktur sendi. 

Editors' Picks

3. Penyebab hipertonia

3. Penyebab hipertonia
Freepik/rawpixel.com

Tonus otot yang tinggi seringkali terkait dengan kerusakan otak dan atau sistem saraf pusat. Anak dengan hipertonia biasanya juga menderita masalah terkait gangguan otak dan saraf, seperti cerebral palsy dan multiple sclerosis. 

Beberapa ahli menduga penyebab lain hipertonia adalah faktor genetik. Namun perlu penelitian lebih lanjut mengenai hal ini.

4. Apa itu hipotonia?

4. Apa itu hipotonia
Freepik/Pressfoto

Kebalikan dari hipertonia, hipotonia mengacu pada penurunan tonus otot sehingga otot menjadi terlalu fleksibel, dilansir dari Pathways. Hipotonia membuat anak tampak lemah ketika dipegang, sulit mengangkat kepala dan anggota badan lainnya. 

Anak dengan hipotonia mengalami kesulitan melakukan aktivitas motorik kasar dan halus yang membutuhkan gerakan terkoordinasi dan terkontrol. Misalnya, duduk sendiri atau memegang sendok untuk makan. 

5. Penyebab hipotonia

5. Penyebab hipotonia
Freepik/Sewcream

Hipotonia dapat disebabkan oleh masalah kesehatan yang mendasar, sehingga gangguan ini dianggap sebagai sistem ketimbang suatu kondisi. Dilansir dari NHS, hipotonia biasanya terjadi pada anak yang menderita cerebral palsy, dimana sejumlah masalah neurologis yang berhubungan dengan otak memengarui gerakan dan koordinasi tubuh anak. 

Pada beberapa kasus, bayi yang lahir prematur mengalami hipotonia karena tonus otot mereka yang belum sepenuhnya berkembang saat lahir. Asalkan tidak ada masalah mendasar lainnya, hipotonia pada bayi prematur bisa berangsur-angsur membaik seiring perkembangan bayi.

6. Penanganan hipertonia dan hipotonia

6. Penanganan hipertonia hipotonia
Pexels/Pixabay

Masalah hipertonia maupun hipotonia pada anak seringkali tidak terlihat sampai berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun kemudian. Keduanya tidak dapat disembuhkan total, tetapi dapat diatasi lewat terapi.

Terapi okupasi dan fisik dapat membantu anak dengan masalah tonus otot untuk meningkatkan fleksibilitas, membangun koordinasi, mengembangkan kekuatan, dan meningkatkan keseimbangan.

Apabila mama mendapati tanda dan gejala masalah tonus otot pada anak, baik hipertonia maupun hipotonia, sebaiknya segera periksakan anak ke dokter agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat. 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.