Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
8 Alasan Anak Suka Merengek dan Cara Tepat Menanganinya!
Pexels/Keira Burton
  • Merengek bukan tanda kenakalan, tapi bentuk komunikasi si Kecil yang belum mampu mengekspresikan perasaan atau kebutuhan secara jelas kepada Mama.

  • Ada delapan penyebab utama si Kecil suka merengek, mulai dari penguatan perilaku oleh Mama, keterbatasan komunikasi, hingga kondisi fisik dan emosional yang tidak stabil.

  • Penanganan efektif meliputi konsistensi sikap Mama, pelatihan komunikasi positif, pemenuhan kebutuhan dasar si Kecil, serta pemberian perhatian dan validasi emosi secara seimbang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mendengar si Kecil merengek dengan nada suara yang melengking dan meratap sering kali menjadi salah satu ujian kesabaran terbesar bagi Mama di rumah. 

Ketika mereka merengek, tidak jarang membuat Mama merasa frustrasi, terutama jika hal tersebut dilakukan secara terus-menerus di tempat umum. 

Namun, penting untuk dipahami bahwa merengek bukanlah bentuk kenakalan, melainkan sebuah sinyal komunikasi yang dikirimkan si Kecil karena mereka belum mampu menyampaikan isi hatinya dengan baik. 

Dengan mengenali akar penyebab psikologis dan fisik di balik sikap tersebut, Mama bisa memberikan respons yang jauh lebih tenang, mendidik, dan efektif untuk meredam kebiasaan buruk ini.

Berikut Popmama.com rangkum 8 alasan mengapa si Kecil suka merengek beserta cara menanganinya!

1. Mama telah memperkuat perilaku tersebut

Pexels/Alex Green

Tanpa disadari, salah satu penyebab utama si Kecil terus-menerus merengek adalah karena tindakan Mama sendiri yang pernah luluh dan menuruti keinginan si Kecil setelah mereka merengek. 

Ketika Mama memberikan apa yang mereka mau demi menghentikan tangisannya, otak si Kecil akan mencatat bahwa merengek adalah "senjata ampuh" yang berhasil memanipulasi situasi. 

Akibat penguatan perilaku ini, si Kecil akan mengulangi metode yang sama setiap kali mereka menginginkan sesuatu di kemudian hari karena menganggap cara bicara yang normal tidak akan didengarkan oleh Mama.

Mama bisa menanganinya dengan cara berikut:

  • Tetap konsisten berkata tidak, jangan pernah mengubah keputusan atau menuruti permintaan si Kecil selama mereka masih menggunakan nada suara merengek yang tidak sopan.

  • Berikan pujian saat bicara normal, berikan apresiasi atau perhatian penuh secara instan ketika si Kecil mau meminta sesuatu dengan nada suara yang tenang, jelas, dan baik.

  • Jelaskan konsekuensi dengan tegas, sampaikan kepada si Kecil dengan bahasa yang sederhana bahwa Mama tidak akan mendengarkan atau memproses permintaannya jika disampaikan sambil merengek.

2. Anak belum memiliki keterampilan komunikasi yang jelas

Pexels/Helena Lopes

Bagi anak-anak yang usianya masih sangat kecil, keterbatasan kosakata dan kemampuan berbahasa sering kali menjadi kendala besar dalam mengekspresikan keinginan mereka. 

Ketika si Kecil merasakan sesuatu di dalam hatinya namun tidak tahu bagaimana cara menyusun kalimat yang tepat untuk menyampaikannya kepada Mama, mereka akan merasa frustasi. 

Rasa frustrasi akibat ketidakmampuan berkomunikasi secara logis inilah yang akhirnya mendorong si Kecil untuk beralih menggunakan nada suara merengek, karena insting emosional mereka menganggap suara melengking akan lebih cepat menarik perhatian orang dewasa di sekitarnya.

Mama bisa menanganinya dengan cara berikut:

  • Ajarkan kosakata emosi yang tepat, bantu si Kecil mengenali nama-nama perasaan mereka dengan mengajarkan kata-kata seperti "kecewa", "lelah", atau "butuh bantuan".

  • Latih si Kecil menggunakan kalimat utuh, bimbing mereka secara perlahan untuk mengulang kalimat permintaan yang benar, misalnya dengan menuntunnya berkata, "Mama, aku mau minum."

  • Gunakan kontak mata yang sejajar, turunkan posisi tubuh Mama hingga sejajar dengan mata si Kecil saat berbicara agar mereka merasa didengarkan dan lebih mudah fokus berkomunikasi.

3. Anak mengalami overstimulasi atau merasa kelelahan

Pexels/KATRIN BOLOVTSOVA

Lingkungan sekitar yang terlalu bising, penuh sesak oleh orang banyak, atau jadwal aktivitas harian yang terlalu padat bisa membuat sistem saraf si Kecil mengalami overstimulated

Anak-anak memiliki ambang batas toleransi yang jauh lebih rendah dibandingkan orang dewasa dalam menghadapi rangsangan lingkungan yang intens. 

Ketika otak mereka sudah merasa sangat kewalahan dan tidak sanggup lagi memproses stimulasi tersebut, rengekan hadir karena mereka sudah tidak memiliki sisa energi untuk bersikap tenang dan kooperatif.

Mama bisa menanganinya dengan cara berikut:

  • Bawa si Kecil ke tempat yang tenang, segera ajak mereka menjauh dari keramaian atau sumber kebisingan menuju area yang lebih sepi untuk menurunkan tingkat stresnya.

  • Kurangi stimulasi visual dan suara, matikan televisi, turunkan volume musik, atau redupkan lampu ruangan di rumah jika si Kecil sudah menunjukkan tanda-tanda kewalahan.

  • Batasi durasi aktivitas di luar rumah, atur jadwal bepergian keluarga dengan bijak dan jangan memaksakan si Kecil berada di pusat perbelanjaan atau tempat wisata terlalu lama.

4. Anak sedang mencari kedekatan atau perhatian

Pexels/www.kaboompics.com

Dalam banyak kasus, merengek adalah cara tercepat bagi si Kecil untuk menguji dan mendapatkan perhatian penuh dari orangtuanya, terutama saat Mama sedang sibuk bekerja atau bermain ponsel. 

Anak-anak mendambakan kedekatan emosional dan koneksi yang tulus dari Mama setiap hari. 

Bagi psikologis anak, mendapatkan perhatian negatif berupa omelan atau teguran karena mereka merengek masih jauh lebih baik daripada tidak mendapatkan perhatian sama sekali dari orangtua mereka, sehingga mereka sengaja memilih cara instan ini untuk memutus kesibukan Mama.

Mama bisa menanganinya dengan cara berikut:

  • Berikan waktu khusus berkualitas, sediakan waktu setidaknya 15 menit setiap hari untuk bermain bersama si Kecil tanpa ada gangguan gadget atau pekerjaan sama sekali.

  • Isi tangki emosi si Kecil sejak awal, berikan pelukan hangat, kecupan, dan sapaan kasih sayang di pagi hari sebelum si Kecil mulai menunjukkan perilaku mencari perhatian.

  • Abaikan rengekan namun perhatikan anaknya, jangan merespons suara rengekannya, tetapi peluklah si Kecil secara fisik sambil berkata dengan tenang bahwa Mama siap mendengarkan jika suaranya sudah biasa.

5. Anak kesulitan menoleransi rasa frustrasi

Pexels/Gustavo Fring

Ketika si Kecil mencoba melakukan sesuatu namun berulang kali menemui kegagalan, seperti menyusun balok mainan yang runtuh atau mengerjakan tugas, tingkat frustrasi mereka akan meningkat. 

Anak-anak yang belum melatih kemampuan toleransi terhadap rasa kecewa akan sangat mudah menyerah pada keadaan. 

Rengekan yang mereka keluarkan dalam kondisi ini merupakan cerminan dari rasa jengkel terhadap ketidakmampuan diri sendiri dan rasa tidak sabar dalam menghadapi proses kesulitan yang sedang berjalan.

Mama bisa menanganinya dengan cara berikut:

  • Validasi rasa jengkel yang dialami, katakan bahwa Mama paham mainan itu sulit dirangkai, sehingga si Kecil merasa didukung secara emosional.

  • Tawarkan bantuan tanpa mengambil alih, jangan langsung menyelesaikan tugas si Kecil, melainkan berikan bantuan dan biarkan mereka menyelesaikan sisanya secara mandiri.

  • Ajarkan konsep proses dan kegagalan, berikan pemahaman kepada si Kecil melalui cerita bahwa kegagalan adalah hal yang wajar dan bagian dari proses belajar.

6. Anak meniru perilaku merengek dari lingkungan sekitar

Pexels/Jonathan Borba

Anak-anak mempelajari cara berinteraksi dengan mengamati dunia di sekitarnya secara mendalam. 

Jika mereka sering melihat teman sebayanya di sekolah, saudara kandung, atau bahkan karakter di tayangan televisi mendapatkan apa yang diinginkan dengan cara merengek, mereka akan langsung mengadopsi taktik tersebut. 

Si Kecil menganggap bahwa merengek adalah hal yang dapat diterima dalam lingkungan pergaulan untuk mengekspresikan ketidakpuasan atau untuk mendapatkan kekuasaan atas orang lain.

Mama bisa menanganinya dengan cara berikut:

  • Evaluasi tayangan media si Kecil, saring dan batasi tontonan video atau kartun anak yang menampilkan karakter dengan kebiasaan merengek atau meratap yang buruk.

  • Berikan contoh komunikasi yang sehat, pastikan seluruh anggota keluarga di rumah selalu berbicara dengan nada yang tenang dan tidak menggunakan nada merengek saat mengeluh.

  • Diskusikan perilaku teman secara bijak, berikan pemahaman kepada si Kecil jika ada temannya yang merengek, dengan menjelaskan bahwa perilaku tersebut tidak baik untuk ditiru.

7. Kondisi fisik anak sedang lelah, lapar, sakit, atau tidak nyaman

Pexels/BOOM Photography

Sama seperti orang dewasa, kondisi fisik yang prima sangat memengaruhi stabilitas emosi dan kemampuan si Kecil dalam menahan diri dari hal-hal yang menjengkelkan, Ma. 

Ketika si Kecil sedang menahan rasa kantuk yang berat, perut yang lapar, tubuh yang mulai meriang, atau pakaian yang terlalu ketat dan gerah, kapasitas mental mereka untuk bersabar akan menurun drastis. 

Merengek dalam situasi ini adalah respons pertahanan tubuh yang tidak disengaja karena si Kecil sudah kehabisan energi fisik untuk mengontrol otot suara dan perilaku mereka dengan baik.

Mama bisa menanganinya dengan cara berikut:

  • Penuhi kebutuhan fisik dasar si Kecil, segera berikan makanan camilan sehat jika si Kecil lapar, atau tidurkan si Kecil jika jam istirahatnya sudah lewat.

  • Periksa gejala penyakit pada tubuh, lakukan pengecekan suhu tubuh atau tanyakan bagian tubuh mana yang terasa sakit atau tidak nyaman secara lembut.

  • Sediakan jadwal rutin yang teratur, buatlah jam makan dan jam tidur yang konsisten setiap hari agar kondisi fisik si Kecil selalu terjaga kebugarannya.

Menghadapi kebiasaan si Kecil yang suka merengek memang membutuhkan kesabaran dan keteguhan sikap yang luar biasa dari sisi orangtua ya, Ma. 

Dengan memahami bahwa setiap rengekan memiliki alasan tertentu, Mama bisa berhenti memarahi si Kecil secara reaktif dan beralih memberikan solusi pengasuhan yang lebih mendidik. 

Konsistensi dalam menetapkan batasan suara yang sopan dan pemenuhan kebutuhan emosional si Kecil secara seimbang adalah kunci utama untuk melatih mereka tumbuh menjadi pribadi yang komunikatif tanpa harus merengek lagi.

Editorial Team

Related Article