Penyebab dan Cara Mengatasi Anak yang Suka Cari Perhatian

Cari tahu penyebabnya, bisa saja si Kecil merasa kesepian dan terabaikan, Ma

28 Mei 2020

Penyebab Cara Mengatasi Anak Suka Cari Perhatian
Pexels/Tatiana Syrikova

Setiap anak pasti menginginkan perhatian dari Mama dan Papanya. Terutama anak usia balita yang memang sangat perlu perhatian khusus. 

Cara yang dilakukan anak untuk mendapatkan perhatian pun beragam. Hingga terkadang bisa membuat orangtua merasa gemas atau pun sebaliknya malah jadi jengkel.

Misalnya, mencari perhatian dengan merengek dan menangis yang mungkin cukup sulit diterjemahkan apa maksud dari tindakan anak tersebut. 

Ada juga anak yang suka sekali memotong saat orangtuanya sedang bicara dengan orang lain demi cari perhatian.

Secara lebih lanjut, berikut Popmama.com jelaskan penyebab dan cara tepat yang dapat Mama lakukan untuk menghadapi anak saat sedang mencari perhatian di waktu yang kurang pas.

Ciri anak yang suka cari perhatian

Ciri anak suka cari perhatian
Pexels/Tatiana Syrikova

Jika si Kecil pernah menangis dan berguling di tengah jalan saat di tempat ramai karena merengek akan suatu hal. Bisa jadi tindakan tersebut menjadi tanda bahwa anak balita Mama suka mencari perhatian. 

Selain itu, ada beberapa ciri lain yang menandakan bahwa anak suka mencari perhatian. Berikut di antaranya yang dikutip dari laman parenting.firstcry:

  • Memalsukan penyakit untuk mendapatkan waktu Mama dan Papa,
  • Menyebabkan terlalu banyak drama saat di rumah atau di lingkungan publik,
  • Menganggu dan menyebabkan kekacauan pada orang lain,
  • Menciptakan masalah yang membuat Mama dan Papa saling berdebat,
  • Merasa menjadi korban dengan memperbesar masalah,
  • Menunjukkan bahwa anak sangat sibuk dan menyelesaikan semuanya secara tepat waktu. 

Ciri-ciri di atas merupakan perilaku yang negatif karena tak hanya berdampak bagi orangtua, tetapi juga pada lingkungan di sekitarnya.

Jadi, Mama sebaiknya waspada dan cepat mengambil tindakan dengan tepat agar hal ini tidak menjadi kebiasaan yang buruk dalam diri anak. 

Penyebab anak suka cari perhatian

Penyebab anak suka cari perhatian
Pexels/Yan

Ada berbagai penyebab yang mendasari anak menjadi individu yang suka mencari perhatian. Namun, seringkali perilaku ini disebabkan oleh masalah emosional dalam diri anak. 

Beberapa kemungkinan yang bisa menjadikan anak Mama suka cari perhatian, yaitu:

  • Mungkin anak kesulitan berteman dengan teman sebayanya,
  • Tidak mendapat perhatian yang cukup selama di rumah sehingga merasa kesepian serta ditinggalkan, atau
  • Terasa diabaikan karena orangtua terlalu sibuk dengan pekerjaan. 

Selain itu, Mama juga bisa menyelidiki penyebab anak suka mencari perhatian. Misalnya, dengan menanyakan para orangtua dari teman sebaya anak mama atau mungkin berdiskusi langsung dengan guru di sekolah. 

Cara mengatasi anak yang suka cari perhatian

Setelah mengetahui ciri-ciri dan kemungkinan yang menjadi penyebab anak Mama suka mencari perhatian. Mama sebaiknya tahu cara yang tepat untuk mengatasinya.

Inilah beberapa tips aman dan nyaman yang bisa diterapkan pada si Kecil yang suka mencari perhatian. 

Editors' Picks

1. Berikan perhatian yang sehat

1. Berikan perhatian sehat
Pexels/Tatiana Syrikova

Penting bagi Mama untuk memastikan bahwa anak mendapatkan perhatian yang sehat. Memberi perhatian bukan berarti memenuhi semua tuntutan anak di setiap kesempatan.

Memberi perhatian yang sehat adalah Mama setuju untuk terlibat dengan kegiatan anak secara konsisten dan penuh kasih setiap harinya. Perhatian yang sehat seperti ini dapat datang dalam berbagai bentuk.

Misalnya, waktu bermain yang berkualitas, membaca bersama, memiliki waktu makan bersama dan berbicara tentang masing-masing kegiatan, melakukan pekerjaan rumah atau kegiatan sekolah dengan mereka, dan memiliki rutinitas tidur yang konsisten.

Mungkin, setiap hari akan terasa berbeda karena bisa saja kegiatan atau pekerjaan lain membuat Mama lebih sibuk dari biasanya. Jadi, tetaplah bersikap realistis tentang hal apa saja yang mampu Mama berikan. 

2. Buat aturan sehingga anak tahu batasan

2. Buat aturan sehingga anak tahu batasan
Pexels/Elly Fairytale

Salah satu cara terbaik untuk menghentikan perilaku mencari perhatian adalah membiarkan anak mengetahui batasan mengenai perilaku apa saja yang perlu mereka hindari.

Mama bisa melakukannya dengan cara, membuat bagan aturan. Jangan lupa libatkan anak dalam membuat aturan ini. Ajak mereka diskusi dan beri pengertian dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami. 

Misalnya, aturan mengenai anak tidak boleh merengek, tidak menjerit, dan tidak melarikan diri saat dipanggil. Di sebelah setiap aturan tersebut, Mama juga bisa buat daftar konsekuensinya, seperti duduk sendiri selama 5 menit, tidur 10 menit lebih awal, atau kehilangan waktu menonton TV. 

Meskipun aturan telah dibuat, wajar saja jika anak melanggarnya sesekali. Mama hanya perlu bersabar saat menghadapinya dan ingatkan kembali si Kecil dengan aturan tersebut. 

3. Ajarkan si Kecil tentang hal-hal darurat

3. Ajarkan si Kecil tentang hal-hal darurat
Pexels/Anna Shvets

Dalam mengatasi kebiasaan anak yang suka cari perhatian, Mama perlu menjelaskan perbedaan antara keadaan darurat yang nyata serta perlu perhatian segera, dan (msesuatu yang diinginkan anak tetapi tidak mendesak.

Misalnya, jika air dalam wastafel meluap ke atas atau anak baru saja memecahkan piring atau gelas di dapur. Kedua hal itu adalah keadaan darurat yang nyata, dan perlu segera diperhatikan oleh orangtua.

Namun, jika anak ingin menunjukkan video kepada Mama saat sedang berbicara di telepon, itu bukan keadaan darurat. Jadi, seharusnya anak mengerti dan bisa menunggu perhatian Mama dalam hal itu.

Berikanlah penjelasan seperti ini secara perlahan dengan bahasa yang mudah dimengerti ya, Ma. Ajak juga anak berdiskusi dan dengarkan apa yang mungkin mereka rasakan sehingga anak dan orangtua bisa saling mengerti. 

4. Tetap sabar dan hadapi dengan tenang

4. Tetap sabar hadapi tenang
Pexels/Andrea Piacquadio

Beberapa pekerjaan di kantor atau di rumah mungkin sudah membuat Mama terasa lelah, ditambah lagi dengan tangisan dan rengekan si Kecil yang minta diperhatikan. Namun, sebisa mungkin untuk tidak membalas perilaku anak dalam keadaan marah ya, Ma. 

Mama bisa menarik dan membuang nafas beberapa detik saat menghadapi situasi seperti ini. Cobalah untuk tetap tenang dan mengingat bahwa masalah yang dihadapi orang dewasa tidak boleh dibagikan dengan anak-anak.

Anak-anak sudah cukup mengatasi stres dan kecemasan mereka sendiri. Jadi, tidak adil rasanya membebani mereka dengan masalah orangtua juga.

5. Biasakan anak untuk selalu mandiri

5. Biasakan anak selalu mandiri
Pexels/Cotton Bro

Mama tidak perlu merasa bersalah atau takut bahwa anak akan merasa tidak dicintai, jika orangtua tidak selalu menanggapi saat mereka mencari perhatian. Ketahuilah bahwa bagian dari pengasuhan yang baik adalah mengajarkan anak bahwa tidak semua kebutuhan mereka dapat dipenuhi.

Jika Mama dan Papa selalu siap siaga setiap kali anak membutuhkan sesuatu, anak mungkin tidak akan pernah belajar nilai kesabaran, pentingnya menunggu giliran, dan pemahaman bahwa mereka bukan satu-satunya pusat alam semesta.

Orangtua yang selalu menuruti keinginan anak-anak ini cukup berisiko karena perilaku suka mencari perhatian ini bisa menjadi kebiasaan hingga dewasa. 

Sebenarnya, prilaku suka mencari perhatian pada anak merupakan hal yang wajar, Ma. Apalagi pada anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Hingga mungkin saja, si Kecil belum paham cara berperilaku yang baik dan benar.

Jadi, ketahui penyebabnya terlebih dahulu dan tangani dengan tepat. Penting juga bagi Mama dan Papa untuk memberikan perhatian dengan porsi yang cukup pada anak.

Jika diketahui ada hal lain yang mengkhawatirkan karena perilaku suka mencari perhatian anak. Seperti, perilaku yang membahayakan diri maupun orang sekitarnya, jangan ragu untuk minta bantuan profesional, ya.   

Itulah penyebab anak suka cari perhatian dan cara menghadapi perilakunya secara tepat. Dicoba dulu ya, Ma.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.