Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Apa Itu Kamitetep? Serangga Kecil di Tembok yang Berbahaya untuk Anak
Bnjpestcontrol.com
  • dr. Gerry Adrian menjelaskan bahwa kamitetep bukan menggigit, tapi selubung kepompongnya mengandung partikel iritan yang bisa memicu reaksi kulit serius pada anak-anak.

  • Menggaruk area kulit yang terkena kamitetep dapat memperparah iritasi dan menyebabkan hiperpigmentasi, sehingga perlu penanganan awal seperti membersihkan dan mengompres dingin.

  • Pencegahan dilakukan dengan menjaga kebersihan rumah, memastikan ventilasi berada di posisi yang tepat, menjemur pakaian yang lama tidak dipakai, serta menggunakan kamper atau essential oil untuk mencegah kamitetep bersarang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Pernah lihat serangga kecil menempel diam di tembok rumah? Jangan terkecoh, Ma.

dr. Gerry Adrian Wiryanto, dalam Instagram pribadinya @gerryadrianw, mengingatkan bahwa serangga bernama kamitetep ini lebih berbahaya dari kelihatannya, terutama bagi anak-anak.

Kamitetep memang tidak menggigit dan tidak berbisa. Tapi justru karena itu, banyak orang jadi tidak waspada. Padahal, bagi anak dengan kulit tipis dan imun yang berkembang, serangga ini bisa memicu reaksi inflamasi yang jauh lebih kuat dibanding orang dewasa.

Biar Mama bisa lebih wasapda, berikut Popmama.com rangkumkan penjelasan dr. Gerry mengenai bahaya serangga kamitetep, cara menanganinya, serta langkah pencegahan di rumah untuk melindungi si Kecil.

1. Bahaya serangga kamitetep bukan dari gigitan

Youtube.com/priscila daniele

dr. Gerry menjelaskan bahwa kamitetep membangun rumahnya dari serat kain, rambut manusia, dan debu-debu di rumah.

Umumnya, serangga ini suka bersembunyi di sudut gelap, balik gorden, kolong kasur, bahkan lemari pakaian yang lembap sekalipun, Ma.

Bahaya utamanya bukan dari gigitan, karena kamitetep tidak menggigit sama sekali. Namun, selubung kepompongnya mengandung debu, serat halus, dan partikel iritan yang bisa menempel ke kulit saat tersentuh.

Jadi, kalau sudah terkena kulit anak, partikel tersebut bisa menimbulkan rasa panas, bentol merah dengan titik di tengahnya, serta gatal intens yang muncul tiba-tiba. Jika digaruk, iritasi akan semakin parah dan menyebar.

2. Jangan menggaruk jika terkena kamitetep

Magnific/pvproductions

Salah satu pesan penting yang disampaikan dr. Gerry dalam unggahan miliknya adalah jangan menggaruk jika anak terkena kamitetep.

Menggaruk justru akan menyebarkan partikel iritan dan memperparah bercak-bercak merah pada kulit yang terkena, Ma.

Jika dibiarkan digaruk, bekasnya bisa menjadi kehitaman dan bertahan hingga berminggu-minggu. Kondisi ini disebut hiperpigmentasi pasca inflamasi, yang cukup sulit dihilangkan terutama pada kulit anak yang sensitif.

Mama bisa mengalihkan perhatian anak agar tidak menggaruknya, dan lakukan penanganan awal yang benar seperti yang dianjurkan dr. Gerry.

3. Penanganan awal jika terkena kamitetep

Magnific/pvproductions

Nah, sebagai penanganan awal, Mama bisa mengikuti langkah yang disarankan dr. Gerry jika si Kecil terpapar kamitetep.

Pertama, tempelkan selotip bening ke area kulit yang terkena, lalu lepas perlahan untuk mengangkat serat halus yang masih menempel.

Kedua, cuci kulit anak dengan sabun dan air mengalir. Setelah itu, kompres dingin selama 10–15 menit untuk meredakan rasa panas dan gatal.

Mama juga bisa mengoleskan salep antihistamin atau krim hidrokortison tipis-tipis, untuk mengurangi rasa gatalnya.

Meski penanganan awal ini bisa dilakukan, perhatikan juga tanda bahaya yang mungkin muncul, seperti bengkak di wajah, sesak napas, mengi, atau anak tampak sangat lemas.

Kalau tanda ini muncul setelah terkena serangga kamitetep, segera bawa ke IGD untuk mendapat pertolongan yang tepat.

Reaksi anafilaksis ini umumnya jarang terjadi, tapi bisa terjadi terutama pada anak dengan riwayat alergi.

4. Waspada area tempat persembunyian kamitetep

Magnific/bearfotos

Lebih lanjut, Mama perlu mengetahui bahwa serangga kecil yang biasanya diam di dinding rumah ini memakan serat kain seperti sutra, wool, bahkan kapas yang berdebu.

Jadi, nggak hanya menempel di dinding saja, Ma, mereka sering bersarang di baju yang jarang dipakai, handuk yang lama digantung, atau pakaian di pojok lemari yang lembap.

Tanpa disadari, Mama bisa memakaikan baju yang sudah terpapar kamitetep langsung ke tubuh anak. Karena itu, sebelum mengenakan pakaian yang sudah lama tidak dipakai, selalu periksa dahulu, ya.

Mama bisa kibaskan baju selama beberapa kali atau jemur di bawah sinar matahari.

Selain itu, kamitetep juga suka bersembunyi di balik gorden, kolong kasur, dan sudut ruangan yang gelap. Apalagi kalau ventilasi di rumah buruk, serta ruangan lembap, nah ini bisa jadi tempat favorit mereka berkembang biak, Ma.

5. Tips mencegah kamitetep di rumah

Youtube.com/ Singapore Geographic

dr. Gerry juga membagikan tips pencegahan yang mudah dilakukan. Pastikan ruangan terkena cahaya matahari dan memiliki ventilasi udara yang baik, serta bersihkan debu serta jaring laba-laba secara rutin.

Mama juga dianjurkan sering memberikan debu di sudut-sudut ruangan dengan vakum, menggunakan kamper, atau menyemprot area rawan dengan air sabun serta campuran air dan essential oil seperti lavender, serai, atau peppermint.

Untuk lemari pakaian, Mama bisa menjaganya agar tetap kering dan terang. Periksa baju yang lama tidak dipakai sebelum dipakaikan ke anak.

Dengan langkah-langkah sederhana ini, risiko bersarangnya kamitetep di rumah yang bisa mengganggu kesehatan si Kecil bisa diminimalkan, Ma.

Editorial Team

Related Article