Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
10 Cara Melatih Komunikasi Anak 5 Tahun, Ajak Anak Diskusikan Buku Bacaannya!
Magnific/senivpetro
  • Orangtua dianjurkan mendengarkan anak secara aktif dan reflektif, sejajar dengan kontak mata, memakai pertanyaan terbuka, serta memberi jeda agar anak leluasa menyusun pikiran dan emosi.

  • Kemampuan bahasa dapat dilatih dengan memperluas kalimat anak, berdiskusi saat membaca buku, mengenalkan nama emosi, serta memberi instruksi bertahap melalui permainan.

  • Komunikasi positif dibangun lewat apresiasi spesifik, koreksi yang fokus pada perilaku tanpa melabeli anak, dan teladan bahasa sopan, jelas, serta sesuai usia dari orangtua.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Apakah si Kecil yang berusia 5 tahun sudah sering bercerita panjang lebar, atau justru masih malu-malu saat diajak berbicara?

Pada rentang usia 4-5 tahun, perkembangan bahasa anak mengalami lompatan besar, mulai dari kemampuan menyusun kalimat hingga memahami alur cerita.

Untuk mendukung tumbuh kembangnya supaya makin optimal, orangtua bisa menerapkan stimulasi yang tepat di rumah.

Bisa menjadi cara untuk mendidik anak mengeluarkan ekspresinya. Sudah Popmama.com rangkum 10 cara melatih komunikasi anak 5 tahun. Disimak ya!

1. Mendengarkan anak secara aktif

Magnific/lookstudio

Mama, mendengarkan secara aktif merupakan fondasi utama supaya si Kecil merasa benar-benar didengar saat berbicara.

Ketika ia bercerita, tunjukkan keterlibatan penuh Mama melalui senyuman hangat yang memotivasi serta anggukan kepala yang menguatkan.

Menurut UNICEF, salah satu teknik penting dalam mendengarkan aktif adalah merendahkan posisi tubuh hingga sejajar dengan mata anak.

Posisi ini secara psikologis membantu anak mama merasa lebih aman dan terhubung secara emosional dengan orangtua.

Selain itu, tunjukkan perhatian saksama dengan mengajukan pertanyaan terbuka yang menggunakan kata tanya "apa?", "mengapa?", dan "bagaimana?".

Menurut berbagai sumber, cara ini efektif untuk melatih keterampilan komunikasi anak usia 5 tahun dalam menyusun alur cerita.

Bahkan tidak hanya itu, dengan mendengarkan anak bercerita mampu meningkatkan perluasan kosa katanya secara alami.

2. Gunakan teknik mendengarkan secara reflektif

Pexels/Barbara Olsen

Setelah mendengarkan anak dan memberikan pertanyaan, Mama bisa lakukan hal reflektif.

Jadi layaknya cermin, Mama mengulang kembali apa yang dikatakan anak menggunakan variasi kata yang berbeda. Supaya menunjukkan kepada anak bahwa Mama benar-benar memperhatikan dan peduli pada setiap ucapan mereka.

Berdasarkan penjelasan dari UNICEF, jika anak berkata,

"Aku tidak bermain dengan Marco lagi,"

Mama bisa meresponnya secara reflektif dengan bertanya, "Kamu tidak bermain dengan temanmu?".

Respon seperti ini ternyata memberikan ruang aman bagi si Kecil untuk mengekspresikan emosi mereka tanpa merasa dihakimi atau dipotong.

Melalui teknik ini, anak mama merasa divalidasi dan umumnya akan merasa lebih terbuka untuk menceritakan lebih banyak hal.

Selain melatih keberanian berbicara, pendekatan ini juga membantu anak memahami emosinya sendiri serta memperlancar alur komunikasi dua arah antara orangtua dan anak.

3. Lakukan jeda saat percakapan

Pexels/Barbara Olsen

Berdasarkan panduan dari Northern Sydney Local Health District (NSLHD) Health, kunci utama dari percakapan berbalas adalah memberi anak waktu yang cukup untuk merangkai pikiran sebelum menjawab.

Orangtua disarankan untuk memberikan jeda sejenak dan mendengarkan dengan sabar daripada terburu-buru memotong atau menjawabkan kalimat si Anak.

Selain itu, NSLHD Health turut menekankan pentingnya mempertahankan kontak mata sambil menunggu giliran si Kecil berbicara.

Hal ini membantu memperlancar alur diskusi berkesinambungan serta mengajarkan etika berkomunikasi yang baik, seperti bergantian bicara dalam sebuah percakapan.

4. Perluas kata dan kalimat anak

Pexels/Barbara Olsen

Ma, pada usia 5 tahun, kosa kata anak tentunya terus berkembang pesat, dan mulai terbiasa menggunakan kalimat yang terdiri dari empat kata atau lebih.

Untuk itu dengan melatih kemampuan bahasa anak mama ke tingkat yang lebih tinggi, orangtua dapat membantu dengan cara memperluas struktur kalimat yang diucapkan anak secara langsung.

Berdasarkan dari berbagai sumber, orangtua disarankan menambahkan satu atau dua kata baru ketika merespons kalimat anak.

Sebagai contoh, ketika ia berkata, "Lihat, ada pesawat!",

Anda dapat memperluasnya dengan merespons, "Ya, pesawat itu terbang tinggi di udara!" atau "Ya, itu pesawat pemadam yang bising!".

Menurut KidsHealth dan NSLHD Health, teknik sederhana ini sangat efektif untuk menunjukkan bahwa Mama mendengarkan ucapan anakdan membantunya, mengajarkan tata bahasa serta memperkaya kosa kata baru tanpa terkesan menggurui

5. Ajak diskusi saat kegiatan membaca buku

Pexels/ Lina Kivaka

Apakah anak mama sudah mulai suka membaca buku?

Wah bisa jadi salah satu cara untuk melatih komunikasinya lho, Ma!

Karena begini, menurut KidsHealth, rutin mengajak anak berbicara tentang buku yang dibaca bersama sangat efektif untuk memperkaya kosakata dan melatih Keterampilan mendengarkan si Kecil.

Sementara itu, Northern Sydney Local Health District (NSLHD) Health menyarankan orangtua untuk melatih pemahaman alur cerita setelah selesai membaca buku pada anak.

Caranya dengan mendiskusikan apa yang terjadi di awal cerita, lalu menanyakan "Apa yang akan terjadi selanjutnya ya?".

Jangan lupa gunakan juga kata-kata penghubung urutan seperti selanjutnya, setelah itu, dan pada akhirnya. Hal ini supaya anak mama terbiasa menyusun cerita secara sistematis dan runtut

6. Bantu anak mengenali dan menyebutkan emosi

Pexels/ cottonbro studio

Mama, ternyata mengembangkan kecerdasan emosional anak berbanding lurus dengan kemampuan dalam berkomunikasi, lho!

Ketika si Kecil belajar mengenali dan memberi nama pada perasaan yang ia alami, anak akan lebih mudah menyampaikan kondisi dirinya kepada orang-orang di sekitar tanpa perlu melakukan tindakan represif.

Menurut UNICEF, orangtua disarankan untuk mendengarkan perasaan anak dengan empati dan tanpa menghakimi, serta mencoba melihat kondisi dari sudut pandangnya.

Jika anak mengungkapkan emosinya melalui tantrum atau justru sedang meluapkan kegembiraan. Mama bisa bantu anak mengistilahkan perasaan tersebut ke dalam bentuk kata-kata.

7. Berikan instruksi bertahap lewat permainan

Pexels/Polesie Toys

Memasuki usia 5 tahun, kemampuan konsentrasi dan pemahaman anak berkembang pesat, Ma.

Sehingga ia mulai mampu memahami serta menjalankan instruksi bertahap yang terdiri dari 3 langkah.

Sebagai contoh, Mama bisa memberikan arahan seperti: "Ambil mainanmu, masukkan ke dalam kotak, lalu cuci tanganmu ya".

Tapi sebelum memberikan instruksi, pastikan Mama telah mendapatkan perhatian penuh dari si Kecil terlebih dahulu.

Selain itu, NSLHD Health menekankan bahwa anak usia 5 tahun ternyata sangat menyukai permainan beraturan sederhana, seperti petak umpet dan permainan tebak kata.

Melalui aktivitas bermain bersama ini, anak tidak hanya melatih pemecahan masalah dan imajinasi, tetapi juga terdorong untuk mengomunikasikan ide serta menggunakan aturan permainan dengan baik.

8. Jangan gunakan pujian singkat

Pexels/Helena Lopes

Memberikan pujian atas usaha yang dilakukan anak ternyata jauh lebih efektif dalam membangun rasa percaya dirinya, lho, Ma!

Ketika orangtua menyampaikan apresiasi yang jelas, anak akan memahami perilaku positif mana yang diharapkan dan disukai oleh orangtuanya.

Orangtua disarankan oleh UNICEF untuk mengganti pujian singkat seperti "Kerja bagus!" dengan 'pernyataan pengamatan' yang mendeskripsikan tindakan anak secara mendetail. Sebagai contoh, Mama bisa mengatakannya dengan kalimat:

"Ibu perhatikan kamu menyimpan semua mainanmu setelah bermain. Bagus sekali!".

Apresiasi yang terarah dan jelas ini tidak hanya membuat si Anak merasa bangga atas usahanya sendiri, tetapi juga harapan orangtua secara positif pada anak.

Kebiasaan ini sekaligus melatih anak untuk memahami hubungan sebab-akibat dari tindakan yang ia lakukan dan memperkuat komunikasi terbuka di dalam keluarga.

9. Berfokus pada perilaku anak

Pexels/Kampus Production

Menurut UNICEF, mengoreksi perilaku secara spesifik membantu anak memahami kesalahan tanpa menurunkan rasa percaya dirinya.

Sebagai contoh, alih-alih mengatakan kalimat yang melabeli pribadi anak seperti "Ibu tidak suka kamu berantakan,"

orangtua dapat menggantinya dengan kalimat yang berfokus pada tindakan,

"Ibu tidak suka kalau kamu meninggalkan pakaianmu berserakan di lantai".

Karena dengan Mama mengubah cara mengoreksi akan menjauhkan anak dari perasaan rendah diri sekaligus mengajarkan mereka batasan perilaku yang jelas.

Melalui komunikasi yang jujur dan tetap menghargai pribadi anak, ia akan belajar bertanggung jawab atas tindakan tanpa merasa kehilangan kasih sayang dari orangtuanya.

10. Menjadi teladan yang baik bagi anak

Pexels/Gustavo Fring

Mengingat anak dengan mudah menyerap informasi dari apa yang dilihat dan didengar, sikap serta cara berbicara orangtua sangat menentukan bagaimana anak akan berkomunikasi dengan orang lain.

UNICEF menyarankan orangtua untuk selalu menggunakan bahasa yang mudah dipahami, spesifik, sesuai tingkat perkembangan usia anak, dan menghindari kata-kata yang merendahkan.

Karena penyampaian kalimat yang sopan dan jelas akan memberikan teladan positif agar anak merasa dihargai dan dicintai dalam setiap percakapan.

Itulah 10 cara melatih komunikasi anak 5 tahun. Butuh konsistensi dari Mama dan Papa serta menjadi teladan yang baik di rumah, supaya anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan mampu mengekspresikan dirinya secara positif.

Curated For You

Editorial Team

Related Article