Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
 5 Aturan Mendidik Anak ala Na Daehoon agar Jadi Lebih Disiplin dan Tertib
Instagram.com/daehoon_na
  • Na Daehoon menetapkan jadwal makan maksimal 30 menit dan screen time hanya akhir pekan selama 30–60 menit, agar anak memahami rutinitas serta batasan.
  • Ia memakai kupon sebagai apresiasi spontan atas perilaku positif, sambil mengajarkan penghormatan terhadap kepemilikan mainan saudara dan pentingnya meminta izin.
  • Daehoon menerapkan aturan adil tanpa anak emas, sekaligus menyesuaikan cara bonding dengan karakter tiap anak, seperti jalan bersama, berdiskusi, atau kedekatan fisik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mendidik anak tentu bukan perkara mudah. Apalagi ketika Mama harus menghadapi Si Kecil yang mulai punya keinginan sendiri, mudah menolak aturan, atau bahkan bertengkar dengan saudaranya. Pada kondisi seperti ini, aturan yang jelas dan konsisten bisa membantu anak memahami batasan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal serupa juga diterapkan oleh Na Daehoon dalam mendidik ketiga anaknya. Ia membagikan sejumlah aturan yang diterapkan di rumah, mulai dari jadwal makan, penggunaan screen time, hingga cara memperlakukan setiap anak secara adil.

Menariknya, aturan tersebut tidak hanya bertujuan membuat anak lebih tertib, tetapi juga membantu mereka belajar mengenai tanggung jawab, keadilan, dan menghargai orang lain.

Berikut Popmama.com telah merangkum 5 aturan yang diterapkan Na Daehoon dalam mendidik anak. Yuk, simak!

1. Aturan jam makan dan screen time harus jelas

Instagram.com/daehoon_na

Rutinitas sehari-hari menjadi salah satu hal yang perlu memiliki batasan jelas. Na Daehoon menerapkan aturan khusus untuk jam makan dan penggunaan screen time agar anak terbiasa memahami kapan waktunya melakukan aktivitas tertentu.

Untuk waktu makan, anak perlu makan sesuai jadwal dan waktu makan dibatasi maksimal sekitar 30 menit. Sebelum makan, anak juga tidak dibiasakan mengonsumsi camilan agar mereka dapat mengenali rasa lapar dan memahami bahwa waktu makan memiliki aturan tersendiri.

Aturan serupa diterapkan pada penggunaan gadget. Screen time hanya diberikan pada akhir pekan, yaitu Sabtu dan Minggu, dengan durasi sekitar 30–60 menit. Anak juga diberikan alarm sebagai penanda bahwa waktu bermain gadget sudah selesai.

Menariknya, ketika alarm berbunyi, anak diminta mematikan perangkatnya sendiri. Sementara itu, pada hari sekolah atau weekday, penggunaan screen time tidak diberikan, terutama melalui ponsel.

Aturan yang konsisten seperti ini membantu anak memahami ekspektasi orangtua sehingga mereka tidak perlu terus-menerus bernegosiasi setiap kali ingin makan camilan atau menggunakan gadget.

2. Gunakan sistem kupon sebagai bentuk apresiasi

Instagram.com/daehoon_na

Na Daehoon juga menerapkan sistem kupon sebagai bentuk penghargaan kepada anak. Kupon tersebut dapat diberikan ketika anak melakukan hal positif, seperti:

  • membantu adik,

  • melakukan sesuatu dengan baik,

  • berani menjalani pemeriksaan ke dokter gigi.

Kupon yang dikumpulkan kemudian dapat ditukar dengan sesuatu yang disukai anak, misalnya jajanan atau mainan.

Namun, ada satu hal yang menurut Daehoon perlu diperhatikan, yaitu jangan sampai sistem tersebut membuat anak terbiasa melakukan kebaikan hanya demi mendapatkan hadiah.

Misalnya, orangtua sebaiknya tidak mengatakan:

“Kalau kamu bereskan kamar, Mama/Papa kasih kupon.”

Cara seperti ini berpotensi membuat anak menganggap setiap perilaku baik harus selalu mendapatkan imbalan.

Sebaliknya, kupon dapat diberikan secara tidak terduga setelah anak melakukan sesuatu dengan tulus. Ketika anak selesai membantu adiknya atau membereskan sesuatu, orangtua dapat memberikan pujian dan kemudian memberikan kupon sebagai kejutan.

Dengan begitu, kupon menjadi bentuk apresiasi atas perilaku positif, bukan alat untuk melakukan transaksi dengan anak.

3. Mainan harus jelas milik siapa

Instagram.com/daehoon_na

Pertengkaran antarsaudara sering kali bermula dari hal sederhana, salah satunya rebutan mainan. Untuk menghindari hal tersebut, Daehoon menerapkan aturan bahwa setiap anak memiliki tempat penyimpanan mainan masing-masing.

Aturan yang berlaku pun cukup tegas yaitu, anak tidak boleh mengambil atau menggunakan mainan milik saudaranya tanpa izin.

Ketika salah satu anak mengambil mainan saudaranya tanpa izin, orangtua perlu membantu menegakkan batasan tersebut. Bahkan ketika anak yang mengambil masih lebih kecil, hak milik saudaranya tetap perlu dihargai.

Cara ini dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar bahwa setiap orang memiliki barang pribadi yang harus dihormati. Anak juga perlahan memahami konsep meminta izin sebelum menggunakan sesuatu yang bukan miliknya.

Bukan berarti Mama harus selalu memisahkan anak ketika bermain. Mereka tetap dapat berbagi dan bermain bersama, tetapi perlu belajar bahwa berbagi merupakan pilihan yang dilakukan dengan kesadaran, bukan karena salah satu anak berhak mengambil barang saudaranya begitu saja.

4. Jangan ada istilah anak emas

Instagram.com/daehoon_na

Dalam keluarga dengan lebih dari satu anak, perlakuan yang dianggap tidak adil dapat memicu rasa iri. Karena itu, Daehoon berusaha menerapkan aturan yang sama kepada anak-anaknya dan menghindari istilah seperti:

“Kakak harus selalu mengalah karena adik masih kecil.”

Kakak dan adik sama-sama perlu memahami bahwa mereka memiliki hak sekaligus tanggung jawab. Jika salah satu melakukan kesalahan, aturan tetap berlaku tanpa melihat siapa yang lebih tua atau lebih muda.

Hal yang sama juga dapat diterapkan ketika orangtua memberikan jajanan, hadiah, atau sesuatu yang diinginkan anak. Mama dapat berusaha membagi dengan adil sesuai situasi agar tidak muncul kesan bahwa salah satu anak selalu mendapatkan perlakuan khusus.

Meski begitu, adil tidak selalu berarti memberikan sesuatu yang benar-benar sama. Kebutuhan setiap anak bisa saja berbeda. Yang penting, anak memahami bahwa orangtua tidak sengaja membeda-bedakan atau menjadikan salah satu anak sebagai “anak emas”.

Konsistensi tersebut dapat membantu anak membangun rasa aman dalam hubungan dengan saudara sekaligus belajar menghargai satu sama lain.

5. Pahami cara bonding setiap anak yang berbeda

Instagram.com/daehoon_na

Setiap anak memiliki kepribadian dan cara menikmati kedekatan dengan orangtuanya masing-masing. Karena itu, Daehoon tidak menerapkan satu cara bonding yang sama kepada ketiga anaknya.

Ia membagikan bahwa anak pertamanya lebih senang diajak berjalan-jalan atau berkendara bersama. Anak keduanya justru lebih menikmati momen ketika diajak berbicara dan berdiskusi.

Sementara anak ketiganya lebih menyukai kedekatan secara fisik, seperti digendong atau terus berada dekat dengan orangtua.

Hal ini menunjukkan bahwa membangun kedekatan dengan anak tidak selalu harus dilakukan dengan aktivitas yang sama. Mama tidak perlu memaksakan satu rutinitas bonding jika Si Kecil ternyata kurang menikmatinya.

Misalnya, Mama terbiasa membacakan buku sebelum tidur bersama semua anak. Jika salah satu anak lebih senang mengobrol tentang aktivitasnya hari itu, Mama dapat memberikan ruang untuk berbincang.

Anak lain mungkin justru lebih menikmati pelukan atau aktivitas fisik bersama.

Mengenali karakter setiap anak membantu orangtua membangun hubungan yang lebih dekat sekaligus membuat mereka merasa dipahami sebagai individu.

Itulah 5 aturan mendidik anak ala Na Daehoon yang bisa menjadi inspirasi bagi Mama. Tentu saja, setiap keluarga memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda, sehingga aturan di rumah dapat disesuaikan dengan usia serta karakter masing-masing anak ya, Ma.

Curated For You

Editorial Team

Related Article