Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

7 Pelajaran Parenting Orangtua Kafka Bintang Clash of Champions Season 3

7 Pelajaran Parenting Orangtua Kafka Bintang Clash of Champions Season 3
Youtube.com/ Sabrina Anggraini
  • Bunda Mei memahami Kafka sebagai anak gifted tanpa memasang target akademik tinggi. Ia ingin Kafka fokus kepada pelajaran sekolah, ibadah, dan kebutuhan belajar yang muncul dari dirinya sendiri.

  • Keluarga memakai perjalanan mobil tanpa ponsel untuk komunikasi rutin. Kebiasaan lain adalah menanamkan tanggung jawab rumah pada semua anak, termasuk Kafka meski berprestasi.

  • Bunda Mei menekankan kemandirian, kepedulian pada keluarga, serta ibadah yang diajarkan melalui keteladanan di rumah jadi bekal Kafka di masa depan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sosok Kafka Bintang Timora mencuri perhatian lewat penampilannya di Clash of Champions Season 3. Di balik kemampuan akademik dan daya ingatnya yang mengesankan, ada pola pengasuhan dari orangtua yang menarik untuk disimak.

Dalam wawancara bersama Sabrina Anggraini di Boss Mama Podcast, Kafka dan Bunda Mei membagikan cerita tentang kebiasaan yang diterapkan sejak kecil, termasuk bagaimana keluarga memahami karakter Kafka, membangun komunikasi, hingga mengajarkan kemandirian.

Menariknya, pola asuh Bunda Mei tidak berpusat pada mengejar prestasi. Justru, ia banyak menekankan fondasi kehidupan sehari-hari dan memberikan ruang bagi Kafka untuk berkembang sesuai kebutuhannya.

Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya nih!

  1. 1. Memahami rasa ingin tahu Kafka sejak kecil

    Memahami rasa ingin tahu Kafka sejak kecil
    Instagram.com/kafkabintang_

    Ketika Kafka berusia sekitar 7 tahun, Bunda Mei mengetahui bahwa anaknya masuk kategori gifted berdasarkan hasil tes IQ. Kafka mendapatkan skor verbal 20 dari skala 20.Namun, hasil tersebut tidak dijadikan alasan untuk memasang target akademik yang tinggi. 

    Bunda Mei justru merasa terbantu karena akhirnya memahami mengapa Kafka sejak kecil memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar.

    “Hasilnya ya dia dinyatakan anak gifted dengan skor verbal 20 dari skala 20. Di usia 7 tahun itu saya jadi tahu sebetulnya cuman jadi tahu oh kenapa never ending why-nya itu kenapa... tapi buat saya saya nggak menjadikan itu sebagai ‘oh anak gue bagus nih gifted nih’. Nggak ada waktu itu nggak ada sama sekali (target),” jelas Bunda Mei.

    Sikap tersebut menunjukkan bahwa mengenali kemampuan anak tidak selalu berarti orangtua harus langsung memasang target prestasi. Informasi mengenai karakter anak dapat digunakan untuk memahami kebutuhan mereka dengan lebih baik.

  2. 2. Tidak memasang target akademik khusus untuk anak

    Tidak memasang target akademik khusus untuk anak
    Instagram.com/kafkabintang_

    Bunda Mei mengungkapkan bahwa sejak kecil dirinya tidak memiliki target pencapaian tertentu untuk anak-anaknya. Ia hanya ingin memastikan fondasi utama tetap berjalan dengan baik.

    “Sebetulnya untuk anak-anak saya tuh nggak punya target apa-apa. Saya mikirnya cuma yang penting pelajaran di sekolah nggak ketinggalan, salat tepat waktu, sama ngaji. Itu aja sih ke poin utamanya gitu,” pungkas Bunda Mei.

    Kafka bahkan tidak mengikuti les tambahan sejak kecil. Ketika kelas 5 dan sekolah mulai mengarahkannya mengikuti berbagai lomba matematika, Kafka sendiri yang meminta untuk mengikuti les.

    “Banyak yang bilang les apa Kafka? Enggak ada les dari kecil. Pas kelas 5 SD dia mulai diarahkan sama sekolah untuk lomba-lomba matematika, dia minta les. Ya udah kita les,” iumbuhnya.

    Dengan begitu, tambahan belajar diberikan ketika memang dirasakan dibutuhkan, bukan semata-mata karena orangtua ingin mengejar prestasi tertentu.

  3. 3. Memanfaatkan perjalanan di mobil untuk ngobrol

    Memanfaatkan perjalanan di mobil untuk ngobrol
    Instagram.com/kafkabintang_

    Salah satu kebiasaan keluarga Kafka adalah tidak menggunakan ponsel selama berada di mobil. Waktu perjalanan yang bisa mencapai 40 menit hingga satu jam justru dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk berbicara.

    “Kami punya peraturan kami nggak boleh main handphone di mobil. Jarak antara sekolah sama rumah itu lumayan... di situ yang lumayanlah 40 menit atau 1 jam itu keluar semua di situ. Jadi nggak nunggu sampai masalah jadi gede,” jelas Bunda Mei.

    Menurut Bunda Mei, kebiasaan tersebut membuat komunikasi dengan anak bisa dilakukan secara rutin sehingga persoalan tidak perlu menunggu sampai menjadi besar untuk dibicarakan.

    Ia bahkan memiliki gambaran tersendiri mengenai peran orangtua dalam kehidupan anak.

    “Kalau menurut saya orang tua tuh kayak rumah. Jadi kalau saya capek saya pulang ke rumah. Kalau saya ada masalah saya pulang ke rumah,” tuturnya.

  4. 4. Mengajarkan anak laki-laki ikut mengurus rumah

    Mengajarkan anak laki-laki ikut mengurus rumah
    Instagram.com/kafkabintang_

    Bunda Mei juga menanamkan kemandirian domestik kepada Kafka dan anak-anaknya. Ia tidak ingin pekerjaan rumah dianggap sebagai tanggung jawab perempuan saja. Menurutnya, kemampuan mengurus rumah merupakan bagian dari tanggung jawab yang perlu dimiliki setiap anak, termasuk anak laki-laki.

    “Kalau tidak punya bekal untuk mengurus rumah, apakah nanti akan mengulang siklus yang sama untuk bergantung sama perempuan lagi, lagi, dan lagi? Jadi saya pikir mengurus rumah itu salah satu bentuk tanggung jawab kita,” tutur Bunda Mei.

    Pola ini juga berkaitan dengan cara Bunda Mei memandang prestasi Kafka. Meski sang anak memiliki pencapaian di luar rumah, ia tetap memiliki tanggung jawab sebagai anggota keluarga ketika berada di rumah.

  5. 5. Prestasi di luar rumah bukan alasan untuk lepas dari tanggung jawab

    Prestasi di luar rumah bukan alasan untuk lepas dari tanggung jawab
    Instagram.com/kafkabintang_

    Bunda Mei membedakan posisi Kafka sebagai sosok berprestasi dengan perannya sebagai anak di dalam keluarga. Menurutnya, pencapaian akademik tidak membuat seorang anak terbebas dari kewajiban membantu orangtua.

    Anak berprestasi itu di luar. Di dalam rumah saya tetap anak Bunda. Jadi kalau Bunda saya bekerja dan saya lihat lelah, yang pertama harus menolong ya saya,” jelas Kafka.

    Pesan tersebut memperlihatkan bahwa bagi keluarga Kafka, keberhasilan tidak hanya diukur melalui nilai atau penghargaan. Kemampuan melihat kebutuhan orang lain dan bertanggung jawab terhadap keluarga juga menjadi bagian dari pendidikan anak.

  6. 6. Memberikan ruang untuk Kafka belajar mandiri

    Memberikan ruang untuk Kafka belajar mandiri
    Instagram.com/kafkabintang_

    Ketika Kafka memilih jalur pendidikan yang membuatnya harus lebih mandiri dan berjauhan dari keluarga, Bunda Mei berusaha menghargai keputusan tersebut. Kafka sendiri menyampaikan keinginannya untuk bisa berdikari dan tidak terus menambah beban orangtua.

    “Saya nggak ingin orangtua saya tuh fokus ngurus saya... saya merasa yang paling bisa berdikari itu saya. Jadi entah gimana caranya saya harus minimal kalau nggak bisa menambah pemasukan, jangan menambah pengeluaran,” pungkas Kafka.

    Sebagai orangtua, Bunda Mei mengaku tetap membutuhkan proses untuk menerima pilihan tersebut. Namun, ia berusaha percaya bahwa Kafka memiliki jalan yang baik untuk dirinya. Memberikan ruang bagi anak untuk mengambil keputusan sendiri menjadi bagian dari proses menuju kemandirian, meski bagi orangtua proses melepaskan anak tentu tidak selalu mudah.

  7. 7. Mengajarkan ibadah melalui keteladanan

    Mengajarkan ibadah melalui keteladanan
    Instagram.com/kafkabintang_

    Selain akademik dan kemandirian, nilai agama juga menjadi salah satu fondasi yang ditekankan Bunda Mei. Menurutnya, kebiasaan beribadah dapat terbentuk melalui contoh yang dilihat anak dari orang dewasa di sekitarnya.

    Ia mengingat bagaimana sosok Opa menjadi teladan baginya ketika masih kecil. Bunda Mei juga mengingatkan pentingnya anak memiliki skala prioritas dalam menjalani kehidupannya.

    “Jangan lupakan skala prioritas... entah sebagai hamba, entah sebagai anak atau sebagai siswa. Lalu jangan lupa libatkan orang tua karena ridhallah wa rida walidain, ridha Allah itu tergantung ridho orangtua,” jelasnya.

    Dari cerita Bunda Mei dan Kafka, terlihat bahwa pola asuh tidak selalu harus berorientasi pada bagaimana membuat anak menjadi berprestasi. Memberikan ruang untuk bertanya, membangun komunikasi, mengajarkan tanggung jawab, serta membekali anak dengan kemandirian juga menjadi bagian dari proses mendampingi mereka tumbuh.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More