Tak Sulit, 10 Cara Tepat untuk Membuat Anak Hidup Bahagia

Penting sekali untuk membuat anak hidup bahagia untuk masa kini dan jangka panjang

29 Juli 2021

Tak Sulit, 10 Cara Tepat Membuat Anak Hidup Bahagia
Freepik/Prostooleh

Memberikan anak masa kecil yang bahagia dan sehat, dapat menyiapkannya untuk sukses dalam hidup. Tetapi banyak orangtua bertanya-tanya, bagaimana tepatnya untuk membuat anak bahagia di dunia saat ini?

Membuat si Kecil bahagia bukan tentang memberinya kesenangan sesaat atau kepuasan langsung. Faktanya, justru sebaliknya. 

Anak yang bahagia memiliki keahlian yang memungkinkannya menikmati kebahagiaan jangka panjang dalam hidup.

Anak juga dapat mengabaikan kepuasan instan dalam upaya mencapai tujuannya. Mama dapat membantu anak mengembangkan keterampilan ini dengan mengadopsi kebiasaan sehat seumur hidup.

Berikut Popmama.com akan memberi tahu bagaimana cara membuat anak bahagia yang tepat dan memiliki pengaruh besar untuk masa depan si Kecil.

1 Dorong permainan di luar ruangan

1 Dorong permainan luar ruangan
Freepik

Jangan meremehkan kekuatan bermain di luar ruangan. Berlari di rerumputan, memanjat pohon, duduk di ayunan, hingga menggali tanah, karena ini baik untuk anak-anak.

Sebauah studi di tahun 2007 menunjukkan aroma yang berhubungan dengan alam, seperti pohon pinus, rumput yang dipotong, dan lavender dapat meningkatkan suasana hati anak.

Jadi, Mama dapat mendorong anak untuk membaca buku di luar atau mengerjakan pekerjaan rumahnya di teras hanya untuk memberinya kebiasaan yang mendorong kebahagiaan secara instan. Bermain di luar ruangan juga dapat meningkatkan keterampilan sosial pada anak.

Sebuah studi tahun 2017 yang diterbitkan dalam Journal of Science and Medicine in Sport menemukan bahwa anak-anak yang meningkatkan waktu bermain di luar meningkatkan empati, keterlibatan, dan pengendalian diri, yang merupakan keterampilan sosial yang penting.

Anak-anak dengan keterampilan sosial yang lebih baik cenderung menikmati hubungan yang lebih sehat.

Hal ini juga dibuktikan oleh satu studi di tahun 2015 yang menemukan bahwa anak-anak dengan keterampilan sosial yang lebih baik, juga dua kali lebih mungkin untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dan lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami penyalahgunaan zat, obesitas, dan kekerasan.

Jadi, jadikan bermain di luar sebagai kebiasaan sehari-hari. Bahkan ketika cuaca tidak sempurna, dorong anak untuk bersepeda, bermain dengan anak-anak tetangga, dan berlarian di alam terbuka.

2. Batasi waktu penggunaan layar anak

2. Batasi waktu penggunaan layar anak
Pexels/andrea-piacquadio

Anak mungkin bersikeras bahwa menyaksikan kartun favoritnya di televisi berjam-jam membuatnya bahagia. Tetapi terlalu banyak waktu layar berdampak buruk bagi kesejahteraan psikologis anak.

Sebuah studi tahun 2018 yang diterbitkan dalam jurnal Emotion menemukan bahwa anak yang menghabiskan lebih sedikit waktu di perangkat digitalnya, dan lebih banyak waktu untuk kegiatan non-layar, seperti olahraga, pekerjaan rumah, praktik keagamaan, dan kegiatan tatap muka lainnya lebih bahagia.

Maka itu penting untuk tetapkan batasan yang jelas pada waktu layar anak. Jika Mama membiasakan anak untuk menggunakan gadget, batasi aksesnya saat sedang melakukan aktivitas keluarga atau saat bermain di luar.

Dan tetapkan aturan yang jelas tentang berapa banyak waktu yang bisa si Kecil habiskan untuk menonton TV dan menggunakan gadget.

3. Mempraktikkan rasa syukur

3. Mempraktikkan rasa syukur
Freepik

Memasukkan rasa syukur ke dalam kehidupan sehari-hari Mama dapat membantu anak menjadi seseorang yang lebih bahagia dan lebih sehat. Namun, perlu diingat bahwa ada perbedaan besar antara memaksakan "terima kasih" dan sungguh-sungguh.

Sebuah studi tahun 2012 tentang rasa syukur menemukan bahwa orang yang bersyukur menikmati hubungan yang lebih baik, dan itu bisa menjadi kunci untuk menjalani kehidupan yang lebih bahagia.

Salah satu cara terbaik untuk membantu anak menjadi tulus bersyukur adalah dengan mencontohkan rasa syukur.

Ucapkan terima kasih yang tulus ketika Mama berterima kasih kepada orang lain. Mengekspresikan rasa terima kasih atas hal-hal yang dilakukan anak juga akan mengajarkannya untuk melakukan hal yang sama.

Jadikan kebiasaan untuk membicarakan hal-hal yang dapat disyukuri dalam hari itu sebagai rutinitas keluarga. Misalnya secara bergantian menyebutkan tiga hal yang disyukuri di hari itu pada saat makan malam atau sebelum tidur. Ini akan membantu anak belajar mencari hal-hal yang dapat di syukuri dalam kehidupan sehari-harinya.

Untuk anak-anak yang sudah dapat menulis, Mama juga bisa mengajarkan anak untuk mengirim catatan terima kasih. Misalnya menulis ucapan terima kasih kepada gurunya karena telah membantunya selama tahun ajaran, atau misalnya menulis ucapan terima kasih pada nenek yang telah mengirimkan anak kado ulang tahun.

4. Memiliki harapan tinggi namun tetap batas wajar

4. Memiliki harapan tinggi namun tetap batas wajar
Freepik/Pvproduction

Meskipun bagi anak tidak menyenangkan menghabiskan waktu berjam-jam untuk belajar atau berlatih alat musik, berusaha keras sejak dini untuk melakukan hal-hal sulit lebih mungkin untuk menjalani kehidupan yang lebih bahagia.

Harapan orangtua memiliki dampak besar pada kemauan anak untuk menantang dirinya sendiri. Anak akan bekerja keras untuk memenuhi harapan orangtua selama itu masuk akal dan sesuai dengan keterampilan anak.

Sebuah studi di tahun 2007 dalam jurnal Educational Psychology Review menunjukkan, ketika orangtua memiliki harapan akademis yang tinggi dari anak-anak mereka, anak-anak berprestasi lebih baik di sekolah dan mereka bertahan lebih lama dalam tugas-tugas sulit. Harapan yang tinggi juga terkait dengan ketahanan pengetahuan dan sosial.

Namun, penting untuk dicatat bahwa Mama juga tidak boleh mengharapkan kesempurnaan. Menetapkan standar terlalu tinggi untuk anak cenderung menjadi bumerang.

Mengharapkan anak menjadi sempurna dapat meningkatkan risiko anak mengalami masalah kesehatan mental. Anak mungkin juga menyerah pada tujuan yang ditetapkan untuknya, jika ia merasa orangtuanya menetapkan standar yang sangat tinggi.

Editors' Picks

5. Mengajarkan anak pengendalian diri

5. Mengajarkan anak pengendalian diri
Freepik/Rawpixel-com

Makan kue ekstra, meninggalkan pekerjaan rumah untuk menonton televisi, bermain tanpa melihat waktu, mungkin memberi anak kesenangan sesaat. Namun, dalam jangka panjang, kurangnya pengendalian diri lebih menyakitkan daripada membantu.

Sebuah studi tahun 2014 yang diterbitkan dalam Journal of Personality menemukan bahwa orang dengan pengendalian diri yang lebih baik melaporkan suasana hati yang lebih baik.

Namun, yang menarik, para peneliti mencatat bahwa orang dengan pengendalian diri yang lebih baik, pada dasarnya mengatur diri mereka sendiri untuk bahagia dan terhindar dari banyak godaan.

Mulailah mengajari anak disiplin diri sejak usia dini. Pada saat yang sama, ajari anak untuk tidak mengelilingi dirinya dengan terlalu banyak godaan. Beberapa cara yang dapat membantu anak melakukannya, yaitu seperti:

  • Letakkan keranjang di ruang keluarga untuk menyimpan ponsel. Beri tahu anak untuk memasukkan ponsel cerdasnya ke dalam keranjang saat ia mengerjakan pekerjaan rumah, sehingga ia menahan diri untuk tidak tergoda bermain ponsel saat seharusnya mengerjakan pekerjaannya.
  • Letakkan semua barang elektronik di area umum rumah sebelum tidur. Ajarkan anak untuk tidak tergoda menggunakan tablet atau ponselnya saat ia akan tidur.
  • Isi lemari es dengan pilihan makanan sehat. Jika Mama menyimpan beberapa makanan manis di rumah, buatlah lebih sulit diakses, dengan meletakkannya di rak yang tinggi agar tidak terlihat.

6. Berikan anak tugas rumah

6. Berikan anak tugas rumah
Freepik/Bearfotos

Si Kecil mungkin tidak akan suka membersihkan meja atau membersihkan ruang tamu sekarang. Tapi, memberikan tugas rumah bisa menjadi faktor kunci dalam membantunya mencapai kebahagiaan jangka panjang.

Satu studi dari University of Minnesota berjudul "Involving Chindren in Household Tasks: is it worth the effort?" menemukan bahwa memberi anak-anak tugas pada usia 3 dan 4 tahun adalah penentu terbesar kesuksesan jangka panjang.

Ketika balita mengerjakan tugas rumah, ia merasa ikut serta dan itu membantunya merasa lebih terhubung dengan keluarga. Kemudian, rasa koneksi itu dapat membantunya tetap kuat secara mental ketika menghadapi masa-masa sulit.

Pekerjaan rumah juga dapat mengajarkan anak-anak berbagai pelajaran hidup, seperti tanggung jawab dan pelayanan. Anak mungkin juga belajar bahwa ia dapat mengatasi tugas-tugas yang membosankan atau bahwa mampu bertahan bahkan ketika ia merasa frustrasi.

Merapikan tempat tidur dan mencuci piring juga dapat memberi balita rasa pencapaian dan menunjukkan kepadanya bahwa meskipun masih kecil, ia mampu membuat perbedaan.

Tetapkan tugas-tugas rutin dan harapkan anak menyelesaikannya. Dan Mama akan membantu anak mempelajari keterampilan hidup yang akan membantunya menjalani kehidupan yang lebih bahagia ketika memasuki usia anak-anak, remaja hingga, dewasa.

7. Makan malam bersama

7. Makan malam bersama
Freepik/pch.vector

Makan malam bersama keluarga mungkin merupakan salah satu hal terbaik yang dapat Mama lakukan jika ingin membuat anak hidup dengan bahagia.

Satu studi di tahun 2013, menemukan bahwa frekuensi makan keluarga yang lebih tinggi sangat terkait dengan suasana hati yang positif. Sedangkan pada studi lain di tahun 2006 menemukan bahwa anak yang makan bersama keluarga, memiliki pandangan yang lebih positif tentang masa depan.

Makan bersama keluarga juga dapat meningkatkan kesehatan, di mana anak-anak yang makan dengan orangtua cenderung tidak kelebihan berat badan atau mengalami gangguan makan. Selain itu juga cenderung tidak mengalami masalah penyalahgunaan zat atau menunjukkan masalah perilaku.

Jika keluarga tidak bisa berkumpul untuk makan bersama setiap malam, jangan khawatir. Sebagian besar penelitian telah menemukan bahwa anak-anak tetap mendapat manfaat dari makan bersama orangtua ketika menyempatkan makan malam dalam waktu seminggu.

8. Hindari memanjakan anak secara berlebihan

8. Hindari memanjakan anak secara berlebihan
Freepik

Membelikan balita banyak hadiah pada hari libur atau memberikan semua yang ia inginkan tidak akan benar-benar membuatnya bahagia. Faktanya, terlalu memanjakan anak-anak sebenarnya dapat merusak kesejahteraan psikologis mereka.

Dilansir dari Very Well Family, beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang terlalu dimanjakan cenderung mengalami perasaan tidak puas. Ia  berjuang untuk mengidentifikasi perbedaan antara keinginan dan kebutuhan, dan akibatnya, anak mungkin berpikir kebahagiaan berasal dari barang-barang secara material.

Jadi tahan keinginan untuk mendapatkan semua yang diinginkan anak mama. Meskipun ia mungkin bersikeras ingin memiliki koleksi mainan terbaru, lebih banyak pakaian bermerek, dan sepeda yang lebih mahal.

Sebagai gantinya, beri anak kesempatan untuk mendapatkan hak istimewa. Ia akan lebih menghargai banyak hal ketika harus bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu, daripada orangtua menyerahkan semuanya untuknya.

Selain itu, lebih penting untuk fokus pada pengalaman daripada hal-hal. Sebuah studi di tahun 2009 dalam jurnal The Journal of Positive Psychology menunjukkan, anak yang merasa paling bahagia menghabiskan waktu dan uangnya untuk menciptakan kenangan, bukan mengumpulkan lebih banyak barang.

9. Berolahraga bersama

9. Berolahraga bersama
Freepik/Teksomolika
Dok. Jovee

Baik memutuskan untuk berjalan-jalan malam bersama keluarga atau membuat video olahraga di ruang tamu, olahraga dapat membuat semua anggota keluarga lebih bahagia.

Sebuah studi tahun 2018 yang diterbitkan dalam Journal of Happiness Studies menemukan bahwa jenis olahraga tidak menjadi masalah. Aerobik, latihan peregangan dan keseimbangan, dan angkat berat semuanya memberikan dorongan kebahagiaan.

Olahraga cenderung membuat Mama lebih bahagia, dan orangtua yang lebih bahagia cenderung memiliki anak yang lebih bahagia. Selain itu, aktif secara fisik bersama, dapat membantu Mama menjalin ikatan dan menciptakan kenangan positif bersama si Kecil, yang menjadi bahan untuk kebahagiaan.

10. Ajari anak untuk membantu orang lain

10. Ajari anak membantu orang lain
Freepik/Jcomp

Banyak penelitian telah menghubungkan tentang kebaikan dengan kebahagiaan. Faktanya, bersikap baik kepada orang lain dapat membuat anak lebih bahagia, dan kebahagiaan akan membuat mereka baik hati. Ini adalah siklus positif yang mengatur anak untuk hidup yang lebih bahagia dan lebih sehat.

Sebuah studi tahun 2010 yang diterbitkan dalam The Journal of Social Psychology membagi peserta menjadi tiga kelompok.

Satu kelompok diminta untuk melakukan tindakan kebaikan setiap hari, kelompok lain disuruh melakukan sesuatu yang baru, dan kelompok ketiga tidak menerima instruksi.

Para peneliti menemukan bahwa setelah hanya 10 hari, kelompok yang melakukan tindakan kebaikan dan mereka yang melakukan hal-hal baru mengalami peningkatan kebahagiaan yang besar.

Ada banyak cara untuk melibatkan anak dalam perilaku yang mendorong kebaikan. Berikut adalah beberapa ide:

  • Tantang setiap anggota keluarga untuk melakukan satu tindakan kebaikan setiap hari, dan bagikan apa yang dilakukan saat makan malam setiap malam.
  • Pilih organisasi yang bertujuan untuk membantu setiap tahun dan menjadi sukarelawan sebagai keluarga setiap ada gotong royong di lingkunganr rumah.
  • Sisihkan sejumlah uang saku anak setiap minggu untuk disumbangkan untuk tujuan yang baik dan biarkan anak memilih ke mana ia ingin uang itu disumbangkan.

Itulah beberapa cara untuk membuat anak bahagia di masa kini dan masa sekarang. Bukan hanya di masa pandemi namun juga untuk kapanpun.

Namun penting untuk diingat bahwa anak-anak tidak perlu selalu bahagia. Ia juga perlu mengalami emosi yang tidak nyaman, seperti sedih, marah, takut, dan kecewa

Akhirnya, hal terbaik yang dapat Mama lakukan untuk membuat anak hidup bahagia adalah dengan memberinya lingkungan yang penuh kasih. Anak perlu tahu bahwa ia dicintai dan diperhatikan, bahkan ketika ia menghadapi keadaan sulit dalam hidup.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.