Sementara itu, anak yang asbun cenderung hanya melontarkan komentar spontan tanpa benar-benar ingin mendalami pembahasan. Setelah berbicara, mereka biasanya langsung beralih ke hal lain.
“Kalau yang asbun, mereka cukup nyeletuk dan pergi, jadi dari sikap pun bisa kita nilai,” jelas Alexandra.
Karena itu, orangtua perlu lebih jeli melihat konteks dan respons anak. Tidak semua celetukan berarti anak membangkang atau sekadar cari perhatian, bisa jadi mereka memang sedang belajar memahami dunia di sekitarnya dengan cara mereka sendiri.
Itulah penjelasan mengenai perbedaan anak kritis dan asbun menurut psikolog Alexandra Gabriella. Jadi, penting bagi orangtua untuk tetap membuka ruang diskusi agar kemampuan berpikir anak bisa berkembang dengan sehat.
POPMAMA TALK Mei 2026 - Alexandra Gabriella, M.Psi, Psi., C.Ht, C.ESt
Psikolog Klinis
Senior Editor - Novy Agrina
Host - Novy Agrina
Editor - Onic Metheany & Denisa Permataningtias
Content Writer - Putri Syifa Nurfadilah & Sania Chandra Nurfitriana
Script - Sania Chandra Nurfitriana
Social Media - Mayang Ulfah
Photographer - David Andrew
Videographer - Bellinna Putri, David Andrew & Albertus Olav
Video Editor - David Andrew
Design - Aristika Medinasari