Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

Rahasia Bangun Karakter Anak Gen Alpha, Lewat Belajar & Bermain

Rahasia Bangun Karakter Anak Gen Alpha, Lewat Belajar & Bermain
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana
Intinya Sih
  • Generasi Alpha membutuhkan pendekatan belajar yang mindful dan interaktif agar mampu menyaingi daya tarik gawai serta membangun fokus dan rasa ingin tahu mereka.

  • Stimulasi motorik nyata melalui permainan fisik dan tradisional penting untuk perkembangan otak, memori, serta keseimbangan antara aktivitas digital dan pengalaman langsung.

  • Pendidikan karakter anak perlu sinergi antara guru, orangtua, dan komunitas agar tercipta ekosistem belajar yang menyenangkan, adaptif, serta membentuk generasi tangguh berempati tinggi.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dunia pendidikan terus berkembang dan menuntut Mama untuk lebih peka terhadap kebutuhan anak. Namun, tantangan seperti akses pendidikan yang belum merata hingga keterbatasan fasilitas masih menjadi pekerjaan rumah bersama. 

Itulah mengapa, karakter anak tidak bisa dibentuk oleh sekolah sendirian. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk peran korporasi dan komunitas, agar nilai-nilai seperti gemar belajar bisa terinternalisasi kuat dalam diri anak.

Hal ini pula yang ditekankan oleh Irma Gustiana A., A. Psi., M. Psi., selaku Psikolog Anak dan Keluarga, saat menjawab pertanyaan media dalam acara peluncuran program Oreo Berbagi Seru pada Rabu (22/2/2026) di Jakarta Pusat. 

Berikut Popmama.com rangkum poin penting dalam membangun karakter anak melalui metode belajar dan bermain!

Table of Content

1. Memahami karakter Generasi Alpha di era digital

1. Memahami karakter Generasi Alpha di era digital

Inovasi mainan
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Anak-anak saat ini, khususnya di usia 6-12 tahun, adalah Generasi Alpha yang sangat kritis namun terbiasa dengan akses visual yang instan. 

Tantangannya, mereka sering disebut sebagai "generasi stroberi" yang akrab dengan gawai dengan screen time mencapai 7 jam sehari. Hal ini berpengaruh besar pada daya fokus mereka.

Pendekatan yang mindful dan penuh kebersamaan sangat dibutuhkan agar belajar tidak lagi membosankan, melainkan menjadi pengalaman mendalam yang seru dan mampu menyaingi daya tarik gadget.

2. Pentingnya stimulasi motorik realistis vs digital

Mainan Anak
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Meskipun banyak permainan edukatif tersedia secara digital, pengalaman fisik tetap tidak tergantikan. 

Anak-anak membutuhkan stimulasi motorik yang nyata untuk perkembangan syaraf dan memorinya. 

“Jadi memang ketika mengenalkan alat pembelajaran seperti ini dibutuhkan cara cara pendekatan yang lebih kritis juga pada mereka, supaya mereka juga merasa belajar dengan alat permainan ini melengkapi apa yang sudah mereka lakukan di digital,” jelasnya.

Contohnya permainan blok. Secara digital mungkin ada, tapi tidak memfungsikan motorik anak. Dengan benda riil, tangan anak mencoba, mata bereksplorasi, dan tekstur bisa dirasakan secara langsung.

3. Menghidupkan kembali manfaat permainan tradisional

Mainan Anak
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Syaraf anak sangat membutuhkan pengalaman yang realistis. Permainan tradisional seperti lompat tali, bola kasti, atau main karet bukan sekadar hiburan, melainkan sarana stimulasi motorik kasar yang sangat krusial. 

“Motorik anak dimulai dari apa? Dari merangkak, terus kemudian berlari, berjalan, berguling. Berarti, mainan yang dibutuhkan adalah mainan yang memfungsikan motorik kasarnya,” jelasnya.

Anak yang kehilangan kesempatan ini berisiko mengalami kendala perkembangan, seperti cara berpikir yang kurang optimal hingga fokus yang terbatas.

Secara psikologis, belajar sambil bermain memberikan efek relaksasi pada otak. Saat anak merasa santai dan senang, informasi yang diterima akan lebih cepat diserap. 

Dengan mengenalkannya setiap hari melalui alat bermain, Mama bisa membentuk pola kebiasaan bahwa belajar adalah aktivitas yang menyenangkan.

Selain itu, bermain memang penting, namun orangtua tetap perlu mendisiplinkan waktu agar anak tidak lalai dari aktivitas lain. Mama perlu melihat indikator permainannya untuk memahami ketertarikan anak. Irma menyarankan:

“Diliat lagi indikator mainnya. Apa yang dia mainkan? Dengan siapa dia main? Lalu ada konten apa yang dia mainkan? Kok sebegitu menariknya dia dengan permainan tersebut?”

Dalam hal belajar, setiap keluarga punya rutinitas berbeda. Namun, sebaiknya biarkan anak istirahat sejenak setelah pulang sekolah sebelum mulai mengerjakan PR agar kondisi mentalnya kembali segar.

4. Fokus pengembangan karakter untuk masa depan

Inovasi mainan dalam peluncuran Oreo Berbagi Seru pada Rabu (22/2/2026) di Perpusnas, Jakarta Pusat
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Pendidikan karakter bukan sekadar teori di buku, melainkan kebiasaan yang dibangun sejak bangun pagi hingga tidur kembali, mencakup ibadah, olahraga, hingga pola makan sehat. Fokus pengembangannya meliputi:

  • Mampu menemukan solusi kreatif melalui pengalaman nyata (project-based learning).

  • Berani bertanya dan menjelajah pengalaman baru.

  • Adaptif dan fleksibel terhadap perubahan lingkungan.

  • Memiliki empati dan kecerdasan sosial yang baik, tidak hanya sekadar pintar secara akademik.

5. Diperlukan sinergi guru, orangtua, dan komunitas

Peluncuran Oreo Berbagi Seru
Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana

Pendidikan tidak bisa berjalan satu arah. Terutama di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), intervensi orangtua sangat diperlukan untuk membimbing minat belajar anak. Dukungan ini dilakukan melalui tiga pilar utama:

  • Guru, bisa melalui Training of Trainers untuk menerapkan filosofi belajar seru di kelas.

  • Orangtua, dengan mengedukasi untuk memahami pertumbuhan otak anak dan teknik pengajaran interaktif yang mudah dilakukan di rumah.

  • Komunitas, yaitu dengan memberdayakan ibu-ibu PKK dan penggiat pendidikan untuk menciptakan ekosistem belajar berkelanjutan di lingkungan masyarakat.

Dengan menciptakan suasana belajar yang penuh kehangatan dan melibatkan aktivitas fisik yang nyata, Mama sedang mempersiapkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga tangguh dan memiliki karakter yang kuat.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Novy Agrina
EditorNovy Agrina
Follow Us

Related Articles

See More