Stop! Orangtua Tanpa Sadar Lakukan Stereotip Gender ke Anak

Anak lelaki tidak boleh cengeng, anak perempuan memakai warna pink! Apakah ini benar?

8 Maret 2021

Stop Orangtua Tanpa Sadar Lakukan Stereotip Gender ke Anak
Unsplash/connerbaker

Keluarga adalah lembaga pendidikan seorang anak pertama kali di dunia. Oleh karenanya, satuan terkecil dalam masyarakat ini disebut juga sebagai transfer knowledge pertama anak. Pelajaran yang pertama anak terima di dalam rumah biasanya berhubungan dengan sikap dan kehidupan sosial.

Sejak kecil banyak orangtua sudah membeda-bedakan sikap dan hobi yang harus dimiliki anak sesuai dengan jenis kelaminnya. Misal, anak laki-laki tidak boleh bermain boneka identik dengan warna biru.

Sementara itu, anak perempuan tidak boleh mandiri dan identik dengan warna pink.

Bagaimana stereotipe gender atau stereotip jenis kelamin ini bisa memengaruhi anak? Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.

1. Stereotip gender tidak sama dengan 'perbedaan jenis kelamin'

1. Stereotip gender tidak sama 'perbedaan jenis kelamin'
Freepik/Wavebreakmedia

Menurut psikolog Amanda Rose Ph.D. yang dilansir dari Psychology Today, ia menyadari bahwa ada banyak kebingungan antara perbedaan jenis kelamin dan stereotip gender.

Sebagai seorang Mama dan psikolog salah satu momen bagaimana konstruksi stereotip gender ini ada adalah perbedaan antara mainan laki-laki dan perempuan misalnya. 

Gender sendiri meliputi sifat, perilaku, peran, tanggung jawab, dan tugas antara laki-laki dan perempuan. Selain faktor biologis, gender ini ikut ditentukan oleh masyarakat, norma yang berlaku, pola asuh, juga media.

Pengenalan soal gender akan berpengaruh pada konsep diri seorang anak, untuk menentukan jati dirinya sebagai laki-laki atau perempuan.

Sementara itu, jenis kelamin adalah perbedaan secara reproduksi biologis seorang anak. Misalnya, melahirkan dan menyusui hanya bisa dilakukan oleh perempuan karena hal itu yang diberkahi kepadanya sejak lahir. 

Editors' Picks

2. Orangtua memutuskan nilai yang ingin di tanamkan ke anak terutama adil gender

2. Orangtua memutuskan nilai ingin tanamkan ke anak terutama adil gender
Pexel/VictoriaBorodinova

Seperti yang sudah disebutkan, keluarga adalah lahan belajar pertama anak. Oleh karenanya, peran orangtua untuk bisa mendidikan anak sesuai nilai-nilai yang benar sangat diperlukan. 

Barbie Against Superman dalam Journal of Language and Linguistic Studies, Vol.1(1), April 2005 menyebut untuk menghambat berkembangnya bias-bias gender dalam pendidikan anak, maka diperlukan hal yang disebut Equity.

Menurutnya, stereotip gender bisa membatasi peran anak-anak sedemikian rupa. Hingga akhirnya peran tersebut mempengaruhi minat serta kemampuan individual mereka ke depannya. Misalnya, perempuan tidak bisa jadi atlet sepak bola akibat stereotip gender yang menganggap sepak bola adalah permainan untuk laki-laki.

Langkah pertama bagi orang tua adalah menjadi lebih sadar dan berpengetahuan perihal peran gender dan menjadi lebih berpertimbangan dalam menyampaiakan pesan-pesan kepada anak anak mereka.

3. Rekomendasi untuk orangtua memberikan pendidikan adil gender di rumah

3. Rekomendasi orangtua memberikan pendidikan adil gender rumah
Freepik/mkitina4

Dikutip dalam jurnal Muwazah, Vol.1(1) Januari-Juni 2009, Zaduqisti yang melansir Barbie Against Superman menyebut orangtua seharusnya memutuskan nilai apa yang mereka ingin tanamkan kepada anak-anak. Setelah ada, sampaikan ide-ide yang jelas tentang pesan tersebut kepada mereka. Orangtua membuat putusan sehari-hari atas dasar nilai itu yang berisi pesan-pesan tersebut.

Berikut ini beberapa rekomendasi sederhana bagi orang-tua:

  • Awasi konsumsi media anak-anak. Waspadalah atas apa yang anak-anak Anda lihat dan dengarkan serta pesan-pesan yang mereka dapatkan.
  • Tidak perlu mengkhawatirkan apa yang orang lain pikirkan. Fokuslah pada kemampuan serta kebutuhan-kebutuhan individual anak dan janganlah terlalu mengomeli pilihan anak.
  • Hindarilah mengeluarkan pernyataan yang bersifat stereotip, seperti ‘anak laki-laki yang kuat janganlah menangis’, 'anak peremruan tidak boleh kotor pakaiannya’. Pernyataan ini mungkin tidak merugikan tetapi dimungkinkan menimbulkan sejumlah stereotip gender yang sangat kurang sehat.
  • Buatlah keputusan yang sadar tentang pilihan mainan apa yang cocok digunakan oleh anak-anak.
  • Kurangilah penekanan pada penampilan serta maksimalkan penekanan pada keterampilan, kemampuan, dan kepribadian. Pujian tidak sebatas diarahkan pada tampilan yang terlihat tapi dari karya anak-anak.
  • Usahakan untuk meminimalisir anak perempuan dari paparan tentang konsep citra tubuh mereka. Karena tekanan semacam itu bisa membuatnya terpengaruh. Ilmuwan menyatakan tidak ada salahnya mempedulikan penampilan tetapi harus dicatat bahwa penampilan bukanlah faktor terpenting dari kelangsungan hidup anak perempuan. Yakinkan anak perempuan Mama bahwa ia tampak begitu mempesona dari luar (penampilan) secara apa adanya, tetapi juga tekankan betapa mempesonanya dia dari dalam (kepribadian).
  • Doronglah anak perempuan untuk ikut terlibat dalam olahraga hingga musik. Anak laki-laki memang berkecenderungan sering bergabung dalam aktivitas tersebut seiring dengan bertambahan usia mereka dibandingkan anak perempuan. Sehingga anak  perempuan seolah kehilangan kesempatan. Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan dalam olahraga bisa meningkatkan kepercayaan diri anak dan mengurangi masalah-masalah yang terkait dengan citra tubuh mereka.

4. Orangtua punya peran agar anak tidak memiliki stereotip gender

4. Orangtua pu peran agar anak tidak memiliki stereotip gender
Freepik/freephoto

Pengenalan gender sejak dini merupakan hal penting agar anak tidak terjebak dalam stigma yang salah.

Salah satu yang umum adalah warna yang seolah terpaku. Warna tertentu untuk gender tertentu. Gender seharusnya dijelaskan kepada orangtu tentang peran yang harus dilakukannya saat dewasa dan tanggung jawab yang akan mereka emban.

Anak laki-laki tumbuh harus kuat dan tidak boleh menangis, itu juga perlu diperbaiki. Pada dasarnya anak lelaki juga sama-sama manusia.

Kebiasaan umum selanjutnya adalah soal bermain boneka. Padahal bermain boneka sama-sama bermanfaat untuk anak. Kegiatan ini justru dapat menjadi permainan yang bisa memicu kreativitas anak. Selain itu, tidak ada hubungan antara perilaku bermain boneka dan perilaku homoseksualitas.

Mengutip dari Psychology Today, orangtua menjadi model bagi anak. Ini membuat orangtua juga tidak boleh menerapkan stereotip gender dalam pengasuhan.

Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan oleh Mama dan Papa untuk menghindari stereotip gender:

  • Buat pengasuhan yang tidak berdasarkan jenis kelamin;
  • tumbuhkan rasa percaya diri anak;
  • dukung sifat-sifat positifnya;
  • dorong keterampilan motorik halus dan kasar untuk anak perempuan dan laki-laki.

Itulah tadi informasi mengenai pendidikan berbasih adil berdasarkan gender ke anak. Semoga informasi ini membantu sehingga Mama bisa mulai menerapkannya di rumah. 

Stereotip gender ke anak tidaklah tepat. Perlakukan anak-anak seperti manusia biasa yang sedang tumbuh, bantu mereka untuk mengenal emosi yang sedang mereka rasakan kemudian membantunya untuk mengelola emosi tersebut.

Agar kemampuan mengelola perasaan dan emosi pada anak bisa ikut bertumbuh dengan baik. Semoga bermanfaat Ma.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.