Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
anak sedang tidur
Freepik/user18526052

Intinya sih...

  • Anak sulit bangun saat pagi hari, bisa mengalami kelelahan kronis dan penurunan performa akademik.

  • Merasakan kantuk di siang hari, menurunnya tingkat kewaspadaan dan kemampuan berkonsentrasi.

  • Mudah marah dan mengalami perubahan suasana hati, serta meningkatnya risiko penyakit akibat kurang tidur.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Kurang tidur pada anak sering kali menjadi masalah tersembunyi yang tak luput dari perhatian setiap orangtua di rumah. Tidak selalu ditandai dengan rasa kantuk berlebihan, kondisi ini justru kerap kali muncul melalui perubahan perilaku, emosi, serta kemampuan berpikir anak.

Terlebih ketika kondisi ini berlangsung terus-menerus yang menyebabkan perubahan pola aktivitas si Kecil, memengaruhi beragam faktor seperti kesehatan fisik, kestabilan suasana hati, daya tahan tubuh hingga proses tumbuh kembang mereka kedepannya.

Dikutip dari laman National Library of Medicine, kekurangan tidur akan menimbulkan risiko permnen terhadap masalah kesehatan anak di masa depan.

Untuk memahami informasi ini lebih mendalam, berikut ini Popmama.com telah merangkum tanda kurang tidur anak yang perlu diketahui. Disimak, ya!

1. Sulit bangun saat pagi hari

Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Bangun dari tempat tidur dan mematikan alarm yang berbunyi memang terlihat mudah. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi anak yang memiliki tanda kurang tidur. Pasalnya, anak akan merasakan kantuk berlebih, tubuh terasa lemas, serta kesulitan membuka mata meskipun saat alarm sudah berbunyi.

Menurut Dr. Judith A. Owens, MD, MPH, pakar sleep medicine anak dari Harvard Medical School dan Boston Children’s Hospital, anak usia sekolah membutuhkan waktu tidur sekitar 9–11 jam setiap malam, sementara remaja memerlukan 8–10 jam. Dalam pernyataannya pada Journal of Clinical Sleep Medicine, ia menjelaskan bahwa

“Children and adolescents who do not get the recommended amount of sleep are at increased risk for attention problems, behavioral issues, learning difficulties, and mood disturbances, (Anak-anak dan remaja yang tidak mendapatkan jumlah tidur yang disarankan berisiko lebih tinggi mengalami masalah perhatian, masalah perilaku, kesulitan belajar, dan gangguan suasana hati, tulis Dr. Judith.

Artinya, anak dan remaja yang tidak mendapatkan waktu tidur sesuai rekomendasi memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan konsentrasi. Jika kebiasaan kurang tidur terus berlangsung, anak dapat mengalami kelelahan kronis serta penurunan performa akademik.

2. Merasakan kantuk di siang hari

Freepik

Siang hari umumnya menjadi waktu ketika anak berada dalam kondisi paling aktif dan produktif. Pada fase ini, tubuh dan otak seharusnya berada pada tingkat energi optimal untuk mendukung berbagai aktivitas, interaksi sosial, serta proses belajar.

Namun, kondisi tersebut akan berbeda pada anak yang mengalami kurang tidur. Salah satu tanda yang paling mudah dikenali adalah munculnya rasa kantuk berlebihan di siang hari. Anak yang kurang tidur cenderung tampak lemas, sering melamun, sulit mempertahankan fokus, bahkan tertidur secara tidak sengaja di tengah aktivitas.

Penurunan tingkat kewaspadaan ini terjadi karena otak tidak memperoleh waktu istirahat yang cukup untuk memulihkan fungsi kognitifnya. Akibatnya, kemampuan berkonsentrasi, kecepatan berpikir, serta daya ingat anak pun menurun secara signifikan.

3. Mudah marah dan mengalami perubahan suasana hati

Freepik

Dampak kurangnya tidur pada anak dapat terlihat jelas dari perubahan emosi yang mereka alami lho, Ma. Anak yang kurang tidur cenderung menunjukkan lonjakan emosi yang tidak terkontrol, mudah marah, lebih sensitif, serta lebih sering merasa sedih atau kecewa. Perubahan ini kerap terjadi tanpa pemicu yang jelas, sehingga membuat anak tampak lebih rewel dan sulit diatur.

Kondisi tersebut berkaitan erat dengan fungsi otak, khususnya pada bagian yang mengatur emosi dan pengendalian diri, yaitu korteks prefrontal dan amigdala. Kurang tidur menyebabkan aktivitas korteks prefrontal menurun, sehingga kemampuan anak untuk mengendalikan emosi melemah.

Hal ini diperkuat oleh penelitian Dr. Matthew P. Walker, profesor dan psikologi dari University of California, Berkeley, menyebut bahwa kurangnya tidur dapat memperkuat reaksi emosional sekaligus menurunkan kemampuan otak dalam mengendalikan emosi secara efektif.

4. Mengalami kondisi hiperaktif

Freepik

Salah satu tanda anak mengalami kurang tidur adalah munculnya perilaku hiperaktif atau hyper-stimulated. Alih-alih tampak mengantuk, anak justru terlihat sangat aktif, sulit diam, banyak bergerak, berbicara berlebihan, serta cenderung impulsif.

Kondisi ini sering kali disalahartikan sebagai gangguan perilaku atau tanda hiperaktivitas bawaan, padahal dalam kasus ini, hal tersebut merupakan respons tubuh mereka terhadap kelelahan. Menurut Dr. William C. Dement, MD, PhD, pakar tidur anak dari Stanford University, mengungkapkan bahwa anak-anak yang mengalami sleep deprivation sering kali tidak menunjukkan rasa kantuk seperti orang dewasa, melainkan justru memperlihatkan perilaku hiperaktif dan impulsif.

Artinya, pada anak-anak, kekurangan tidur kerap muncul tak selalu dalam bentuk kantuk, Ma, melainkan dapat melalui beragam bentuk, salah satunya hiperaktif dan ganguan regulasi emosi.

5. Sulit dalam berkonsentrasi

Popmama.com/Amsal Hutagalung/AI

Menurunnya tingkat konsentrasi pada anak merupakan salah satu tanda paling umum dari kurangnya tidur. Anak dengan tubuh yang masih “meminta” jam istirahat, cenderung mengalami kesulitan untuk fokus, mudah terdistraksi, serta lambat dalam memahami informasi.

Kondisi ini tentu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi setiap orangtua, terutama ketika ganguan konsentrasi ini mengganggu dalam proses belajar di sekolah.

Dikutip dari jurnal Sleep Medicine Reviews, menunjukkan bahwa anak yang mengalami kurang tidur kronis memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan konsentrasi jangka panjang yang berdampak pada pencapaian akademik serta kepercayaan diri anak.

6. Lebih sering terkena penyakit

Freepik

Salah satu tanda kurangnya tidur pada anak adalah meningkatnya frekuensi sakit. Anak yang tidak mendapatkan waktu tidur cukup cenderung lebih mudah terserang berbagai penyakit, mulai dari flu, pilek, batuk, hingga infeksi ringan lainnya.

Menurut penelitian tidur memiliki berbagai manfaat penting dalam menjaga sistem kekebalan tubuh. Saat anak tidur, tubuh memproduksi sitokin, yaitu protein yang membantu melawan infeksi, peradangan, dan stres. Kurangnya waktu tidur menyebabkan produksi sitokin menurun, sehingga daya tahan tubuh anak melemah dan lebih rentan terhadap serangan virus maupun bakteri.

Tidur lebih dari enam jam per malam, diketahui memiliki risiko jauh lebih rendah terkena flu dibandingkan mereka yang tidur tak cukup. Pada si Kecil, dampak kurangnya tidur dapat terlihat dari frekuensi sakit yang lebih sering, masa pemulihan yang lebih lama, serta penurunan stamina tubuh.

7. Penurunan performa motorik

Freepik/shangarey

Salah satu tanda yang dapat terlihat jelas saat anak kurang tidur adalah menurunnya performa motorik. Anak kerap tampak lebih ceroboh dalam menjalani aktivitas sehari-hari, seperti mudah tersandung, sering menjatuhkan barang, serta terlihat lambat dalam bereaksi di sekitar lingkungan. Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem koordinasi tubuh anak tidak bekerja secara optimal, Ma. Menurut Dr. Charles dalam jurnalnya, menyebut bahwa kurang tidur dapat mengganggu koordinasi neuromuskular dan respons tubuh.

Pada anak, kondisi ini tidak hanya memengaruhi aktivitas fisik saja, tetapi juga berdampak pada kemampuan belajar yang membutuhkan koordinasi tangan dan mata, seperti menulis dan menggambar. Jika berlangsung dalam jangka panjang, gangguan motorik akibat kurang tidur dapat menghambat perkembangan keterampilan dasar yang penting bagi pertumbuhan anak.

Itulah ma, informasi mengenai tanda anak kurang tidur yang perlu diwaspadai. Memastikan anak mendapatkan tidur yang cukup dan berkualitas menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan fisik, stabilitas emosional, serta menunjang proses tumbuh kembang mereka agar berjalan secara optimal.

Jangan lupa ciptakan suasana kamar yang nyaman dan jauhkan gawai sebelum tidur supaya kualitas istirahat anak semakin maksimal.

Editorial Team