Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Waspada Hipertensi pada Anak, Cegah Sebelum Terlambat
Pexels/Thirdman
  • Hipertensi bisa menyerang anak dan remaja tanpa gejala, sehingga penting bagi orangtua memahami batas tekanan darah normal serta melakukan deteksi dini sejak usia tiga tahun ke atas.

  • Penyebab hipertensi pada si Kecil terbagi dua, yaitu primer akibat gaya hidup dan genetik, serta sekunder karena penyakit penyerta seperti kelainan ginjal atau jantung.

  • Pencegahan dilakukan dengan membatasi konsumsi garam maksimal satu sendok teh per hari, menjaga pola makan seimbang, rutin berolahraga, dan kontrol medis teratur.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mungkin Mama mengira hipertensi hanya menyerang orang dewasa, padahal anak-anak dan remaja juga bisa mengalaminya. 

Kondisi ini sering kali tidak bergejala, sehingga penting bagi Mama untuk memahami deteksi dini dan panduan penanganannya demi menjaga kesehatan jangka panjang si Kecil.

Berikut Popmama.com rangkum panduan lengkap mengenai hipertensi pada si Kecil!

1. Tekanan darah normal anak

Pexels/Martha Branco

Mengetahui batasan normal tekanan darah si Kecil adalah langkah awal bagi orangtua untuk mendeteksi adanya masalah kesehatan. Batasan ini bervariasi tergantung pada jenis kelamin dan bertambahnya usia si Kecil.

Laki-laki: 

  • 1 Tahun: 98/52

  • 2 Tahun: 100/55

  • 3 Tahun: 101/58

  • 4 Tahun: 102/60

  • 5 Tahun: 103/63

  • 6 Tahun: 105/66

  • 7 Tahun: 106/68

  • 8 Tahun: 107/69

  • 9 Tahun: 107/70

  • 10 Tahun: 108/72

  • 11 Tahun: 110/74

  • 12 Tahun: 113/75

  • ≥ 13 Tahun: 120/80

Perempuan:

  • 1 Tahun: 98/54

  • 2 Tahun: 101/58

  • 3 Tahun: 102/60

  • 4 Tahun: 103/62

  • 5 Tahun: 104/64

  • 6 Tahun: 105/67

  • 7 Tahun: 106/68

  • 8 Tahun: 107/69

  • 9 Tahun: 108/71

  • 10 Tahun: 109/72

  • 11 Tahun: 111/74

  • 12 Tahun: 114/75

  • ≥ 13 Tahun: 120/80

Catatan: Sistole / Diastole dalam satuan mmHg (Milimeter merkuri/raksa).

2. Berbagai faktor penyebab hipertensi pada anak

Pexels/Stephen Andrews

Hipertensi pada anak secara medis dibagi menjadi dua kategori utama berdasarkan penyebab dasarnya. 

Mengidentifikasi penyebab ini sangat penting agar dokter dapat menentukan jenis terapi yang paling sesuai untuk si Kecil. 

Faktor-faktor penyebab tersebut meliputi:

  • Hipertensi primer, biasanya dipicu oleh gaya hidup dan genetik seperti adanya riwayat keluarga hipertensi, riwayat lahir prematur, bayi berat lahir rendah (BBLR), perilaku sedentari (kurang bergerak), asupan garam berlebih, serta paparan asap rokok (merokok pasif maupun aktif).

  • Hipertensi sekunder, terjadi akibat adanya penyakit penyerta lain di dalam tubuh si Kecil, seperti adanya kelainan ginjal, kelainan jantung, hingga kelainan hormon.

3. Batasan jumlah konsumsi garam harian untuk anak

Pexels/Tara Winstead

Mengontrol asupan natrium atau sodium di dalam makanan si Kecil adalah kunci krusial dalam meredam lonjakan tekanan darah. 

Mama harus lebih teliti dalam membaca label kemasan makanan sebelum menyajikannya kepada si Kecil. 

Batasan konsumsi harian dan cara membaca kadar garam pada makanan yang aman bagi si Kecil meliputi:

  • Batas konsumsi maksimal harian si Kecil adalah 1 sendok teh garam yang setara dengan 2.196 mg natrium.

  • Kadar garam 0,3 gram atau lebih sedikit per 100 gram makanan: Sangat aman dikonsumsi.

  • Kadar garam 0,3 gram sampai 1,5 gram per 100 gram makanan: Konsumsi dalam batas wajar.

  • Kadar garam lebih dari 1,5 gram per 100 gram makanan: Kandungan garam terlalu tinggi dan wajib dihindari.

4. Waktu yang tepat untuk ukur tekanan darah anak

Pexels/Tima Miroshnichenko

Secara umum, pengukuran tekanan darah secara rutin sangat direkomendasikan untuk si Kecil yang sudah menginjak usia 3 tahun ke atas sebagai bagian dari pemeriksaan kesehatan berkala. 

Namun, pemeriksaan bisa dilakukan lebih awal pada si Kecil usia 3 tahun ke bawah apabila mereka memiliki kondisi medis tertentu. 

Mama perlu lebih waspada dan segera melakukan pengecekan jika si Kecil memiliki faktor risiko berikut:

  • Bayi prematur kurang dari 32 minggu

  • Bayi berat lahir rendah (BBLR)

  • Riwayat perawatan di NICU

  • Penyakit jantung bawaan

  • Riwayat kelainan ginjal

  • Infeksi saluran kemih (ISK) berulang

  • Riwayat keluarga dengan kelainan ginjal bawaan

  • Riwayat keganasan atau kanker

  • Riwayat keluarga yang menjalani cuci darah pada usia muda

5. Cara mengukur tekanan darah anak yang benar

Pexels/Yaroslav Shuraev

Proses pengukuran tekanan darah pada si Kecil membutuhkan teknik yang tepat agar hasilnya akurat dan tidak membuat si Kecil merasa cemas atau takut. 

Mama dapat mengikuti beberapa langkah klinis berikut di rumah atau di fasilitas kesehatan:

  • Si Kecil diposisikan duduk dengan nyaman dengan punggung disangga di lingkungan yang tenang.

  • Pasang manset berukuran sesuai pada lengan atas yang terbuka, diletakkan sekitar 3 cm di atas siku dan diposisikan setinggi jantung si Kecil.

  • Lakukan 3 kali pengukuran dalam interval waktu 1 menit untuk mendapatkan hasil rata-rata yang paling stabil.

Demi menunjang kenyamanan fisik dan psikologis si Kecil sebelum diperiksa, buat lingkungan yang kondusif sangat memengaruhi hasil akhir tensi. 

Lingkungan yang nyaman tersebut meliputi ruang yang tenang, minim gangguan suara, memiliki sirkulasi udara yang baik, serta suhu ruangan yang nyaman. 

Pastikan pula si Kecil telah beristirahat minimal 3-5 menit sebelum alat tensi mulai dinyalakan.

6. Penanganan yang harus dilakukan untuk anak hipertensi

Pexels/Kampus Production

Jika si Kecil terdiagnosa memiliki tekanan darah di atas rata-rata usianya, Mama tidak perlu panik namun harus segera mengambil tindakan medis yang terstruktur. 

Kerja sama yang baik antara keluarga dan tim medis akan membantu mengontrol tekanan darah si Kecil secara optimal. 

Beberapa langkah penanganan yang wajib diterapkan antara lain:

  • Melakukan kontrol secara teratur ke dokter spesialis anak demi memantau perkembangan fisik dan organ dalam si Kecil.

  • Memastikan si Kecil minum obat hipertensi secara disiplin dan tepat waktu sesuai dengan resep dan dosis dari dokter.

  • Meningkatkan aktivitas fisik dengan keluarga melalui olahraga ringan bersama demi menjaga kebugaran tubuh si Kecil.

7. Panduan konsumsi makanan sehat bagi anak hipertensi

Pexels/cottonbro studio

Modifikasi diet atau pola makan memegang peranan utama dalam menurunkan tekanan darah si Kecil. Mama disarankan menerapkan pola makan gizi seimbang yang kaya akan serat, kalsium, dan kalium, serta membatasi konsumsi lemak jenuh. 

Jenis makanan yang sangat direkomendasikan untuk dikonsumsi harian adalah sayur dan buah segar, susu rendah lemak, serta gandum utuh yang kaya serat. 

Selain itu, penuhi kebutuhan proteinnya melalui konsumsi ikan, unggas, kacang-kacangan, dan daging merah tanpa lemak. 

Sebaliknya, Mama harus membatasi secara ketat pemberian makanan rendah gizi, makanan manis tinggi gula, serta membatasi penggunaan garam dalam masakan.

Melalui pemahaman yang utuh mengenai pencegahan dan pola hidup sehat, risiko komplikasi akibat tekanan darah tinggi pada si Kecil dapat ditekan sedini mungkin. 

Apakah Mama sudah menjadwalkan pemeriksaan kesehatan dan mengontrol asupan garam harian untuk menjaga kesehatan jantung si Kecil hari ini, Ma?

Editorial Team