9 Fakta Menarik Kostum The Odyssey, Setiap Tokoh Punya Makna Tersendiri

- Christopher Nolan dan Ellen Mirojnick merancang kostum The Odyssey untuk meninggalkan klise Yunani kuno, menciptakan dunia mitologis yang terasa timeless dan relevan bagi penonton modern.
- Material seperti linen, kulit, dan perunggu kusam menjaga nuansa kuno; kostum prajurit yang usang juga menggambarkan dampak Perang Troya serta perjalanan penuh luka Odysseus.
- Busana membedakan karakter dan perannya: pelamar Penelope tampil mewah, dewi mengutamakan fungsi serta makna, sementara Penelope memakai perubahan siluet halus untuk menegaskan keteguhannya menjaga kerajaan.
Film The Odyssey garapan Christopher Nolan tak hanya mencuri perhatian lewat jajaran pemain bintangnya, tetapi juga melalui pendekatan visual yang berbeda dari film-film berlatar Yunani kuno pada umumnya.
Salah satu aspek paling menonjol adalah desain kostumnya yang dirancang untuk meninggalkan kesan klise film kolosal bergaya sword-and-sandals.
Ellen Mirojnick, desainer kostum yang sebelumnya bekerja sama dengan Nolan di Oppenheimer, mengungkapkan bahwa mereka tidak ingin menciptakan kostum yang sekadar merepresentasikan periode sejarah tertentu.
Sebaliknya, seluruh busana dirancang agar tetap mencerminkan dunia di zaman kuno, tetapi masih relevan secara emosional bagi penonton modern.
Melansir dari Vogue, berikut Popmama.com siap membahas informasi mengenai sejumlah fakta menarik kostum The Odyssey.
Table of Content
1. Christopher Nolan ingin meninggalkan klise film Yunani kuno

Sutradara Christopher Nolan sejak awal tidak ingin The Odyssey mengikuti formula film Hollywood bertema Yunani kuno yang identik dengan pedang, baju zirah mengkilap, dan tampilan megah.
Menurut Ellen Mirojnick, sang sutradara memang memiliki ketidaksukaan terhadap berbagai stereotip visual tentang dunia antik. Nolan dan Mirojnick memilih menciptakan dunia yang terkesan timeless.
Mereka tidak berusaha merekonstruksi satu periode sejarah tertentu, melainkan menghadirkan mitologi yang bisa dinikmati lintas generasi.
2. Kostum dibuat dari material yang sesuai dengan zamannya

Meski tidak ingin membuat film yang benar-benar menjadi potret ‘Zaman Dulu’, Mirojnick tetap mempertahankan nuansa kuno melalui pemilihan bahan yang diterapkan pada busana.
Ia menggunakan material yang memang tersedia pada masa tersebut, seperti linen, kulit, dan perunggu. Namun, penggunaan perunggu pun dibuat berbeda dari film-film kolosal pada umumnya.
Jika biasanya logam itu tampil mengkilap, dalam film The Odyssey, perunggu justru dibuat terkesan lebih kusam agar terasa lebih realistis.
3. Setiap kostum menggambarkan kerasnya perang Troya

Kisah The Odyssey dimulai setelah Perang Troya berakhir, ketika para prajurit telah bertahun-tahun menghadapi peperangan dan perjalanan panjang.
Karena itu, kostum mereka dirancang untuk memperlihatkan dunia yang sudah rusak dan meninggalkan kesan penuh luka.
Odysseus (Matt Damon) beserta krunya mengenakan baju zirah perunggu yang telah mengalami proses pelapukan dan pakaian kulit tampak usang akibat berbagai peperangan.
4. Perubahan Odysseus ditampilkan lewat kostumnya,l

Odysseus menjadi salah satu karakter yang paling menantang untuk didesain karena sepanjang cerita ia terus mengalami perubahan.
Ia digambarkan sebagai sosok yang mengalami kemunduran, bangkit kembali, menyamar, beradaptasi, hingga bertahan hidup dalam berbagai situasi.
Untuk menunjukkan perjalanan tersebut, Mirojnick memilih pendekatan yang sederhana. Seiring berkembangnya cerita, baju zirah yang dikenakan Odysseus perlahan berubah makna.
Jika sebelumnya menjadi simbol kekuatan, pada akhirnya busana yang dikenakan bermaksud untuk menggambarkan kenangan penuh luka sekaligus tantangan atas masa lalunya.
5. Para pelamar Penelope tampil paling mencolok

Berbeda dengan para prajurit yang tampil lusuh, suasana di Ithaca justru menghadirkan kostum yang jauh lebih mewah.
Selama Penelope (Anne Hathaway) menunggu kepulangan Odysseus bersama putranya, Telemachus (Tom Holland), banyak pelamar terus mendesaknya memilih suami baru.
Satu-satunya busana perunggu mengkilap dalam film justru dikenakan para pelamar tersebut, termasuk Antinous (Robert Pattinson).
Busana mereka dihiasi ornamen yang rumit sebagai simbol bahwa mereka terus berusaha menampilkan citra terbaik demi menjadi raja berikutnya.
6. Para dewi mengenakan busana yang bermakna dan tetap fungsional

Mirojnick mengaku menghindari tampilan berlebihan untuk karakter dewa dan dewi. Seperti Athena (Zendaya) yang tampil sederhana dengan balutan linen putih gading. Busananya mencerminkan kewibawaan serta kebijaksanaannya sebagai penasihat Odysseus.
Konsep serupa juga diterapkan pada Calypso(Charlize Theron). Kostumnya terinspirasi langsung dari alam, keabadian, dan kesendirian yang menjadi bagian dari kehidupannya di pulau terpencil.
Bahkan gaun dengan lapisan jaring yang dikenakannya digambarkan sebagai alat praktis untuk menangkap ikan, mengingat dirinya tinggal di pulau terpencil serta pesisir pantai.
7. Circe mengenakan koleksi dari para pengunjungnya

Karakter Circe (Samantha Morton) memiliki konsep kostum yang berbeda dibanding tokoh lainnya. Mirojnick tidak membuat busana yang membantunya dalam menggunakan sihir, melainkan kostum yang memperlihatkan daya tarik sejarah panjang kehidupannya.
Ia digambarkan mengumpulkan berbagai artefak dari setiap pelancong yang pernah datang ke tempat tinggalnya. Semua benda tersebut kemudian dikenakan sebagai bagian dari penampilannya, sehingga membentuk identitas unik ketika para laki-laki tiba di hadapannya.
8. Helen dan Clytemnestra memiliki identitas visual berbeda

Untuk Helen (Lupita Nyong'o), Mirojnick menciptakan gaun berbahan logam emas yang ditenun menyerupai zirah. Bobot kostum tersebut bahkan mencapai sekitar 30 pon atau lebih dari 13 kilogram.
Nyong'o sendiri mengaku begitu antusias mengenakannya. Sebab, ia belum pernah memakai kostum mutiara dengan berat serupa. Selain memerankan Helen, Lupita Nyong'o juga berperan sebagai Clytemnestra, istri Agamemnon.
Agar kedua karakter mudah dibedakan, Clytemnestra dibalut warna ungu Tyrian, yaitu warna langka yang pada zaman dahulu dibuat dari lendir siput laut. Proses pembuatannya sangat rumit karena membutuhkan hingga 12.000 ekor siput untuk menghasilkan satu gram pewarna.
9. Kostum Penelope mencerminkan keteguhan menjaga kerajaan

Berbeda dengan Odysseus yang terus bergerak dan berubah, Penelope hampir selalu berada di tempat yang sama selama menunggu suaminya pulang.
Oleh sebab itu, perubahan kostumnya tidak dibuat secara drastis, melainkan lewat pergeseran siluet yang sangat halus. Lapisan pakaian, bentuk busana, hingga warna-warna istana digunakan untuk menunjukkan bagaimana Penelope tetap menjaga kerajaannya melalui keteguhan dan kesabarannya.
Menurut Mirojnick, jika Odysseus bertahan hidup melalui perjalanan, maka Penelope mempertahankan kerajaannya melalui sikap diam dan keteguhannya.
10. Fakta Armor raksasa di The Odyssey, bukan CGI tapi trik kostum

Berarmor oversized ternyata bukan sekadar kostum, tapi jadi kunci menciptakan ilusi visual yang luar biasa di The Odyssey.
Bukan CGI, melainkan perpaduan trik kamera, desain kostum, dan pemeran asli. Christopher Nolan kembali membuktikan kecintaannya pada efek praktikal lewat adegan pertempuran raksasa berzirah yang terasa begitu nyata.
Sosok raksasa diperankan langsung oleh stunt performer dengan tinggi lebih dari 2 meter. Sementara karakter yang diserang bukan dimainkan oleh Matt Damon, melainkan stuntwoman Devyn Dalton yang bertubuh mungil dengan tinggi sekitar 137 cm. Perbedaan proporsi tubuh yang nyata membuat skala adegan terlihat semakin ekstrem.
Dipadukan dengan armor berukuran oversized dan permainan sudut kamera yang presisi, Nolan berhasil menghadirkan ilusi raksasa yang realistis tanpa mengandalkan CGI sama sekali.
Demikian informasi mengenai sejumlah fakta menarik kostum The Odyssey. Alih-alih menciptakan kostum berdasarkan satu periode sejarah, tim produksi berupaya menghadirkan dunia yang terasa abadi dan tetap memikat untuk dinikmati lintas generasi. Keren sekali, Nolan!





















