Setelah memahami berbagai gejala gangguan arginin vasopresin, penting bagi Mama untuk mengetahui bahwa kondisi ini dapat ditangani dengan perawatan yang tepat.
Pengobatan diabetes insipidus bertujuan membantu mengontrol jumlah urine yang diproduksi tubuh serta mencegah dehidrasi. Pilihan perawatannya berbeda-beda tergantung pada jenis diabetes insipidus yang dialami.
Dilansir dari NHS UK, berikut cara pengobatan yang bisa dilakukan:
Pengobatan untuk Defisiensi Arginin Vasopresin (AVP-D)
Jika kondisi masih ringan, dokter mungkin hanya menyarankan Mama untuk meningkatkan asupan cairan setiap hari untuk mencegah dehidrasi, misalnya minimal sekitar 2,5 liter per hari.
Untuk kasus yang lebih berat, Mama akan diberikan desmopressin, yaitu bentuk sintetis dari hormon AVP yang bekerja seperti hormon asli untuk membantu tubuh menyimpan air dan mengurangi produksi urine.
Desmopressin dapat diberikan dalam bentuk semprot hidung, tablet, atau bentuk yang larut di mulut sesuai anjuran dokter. Efek sampingnya biasanya ringan, tetapi Mama perlu berhati-hati terhadap gejala seperti sakit kepala atau retensi cairan jika dosis atau minum air terlalu banyak.
Pengobatan untuk Resistensi Arginin Vasopresin (AVP-R)
Karena pada AVP-R ginjal tidak merespons hormon AVP, pengobatan dengan desmopressin tidak efektif. Mama tetap perlu minum banyak air untuk menghindari dehidrasi.
Jika gejalanya ringan, dokter bisa menyarankan pengurangan konsumsi garam dan protein dalam diet, yang membantu ginjal mengurangi produksi urine.
Pada kondisi yang lebih serius, dokter mungkin meresepkan kombinasi diuretik thiazide dan obat anti-inflamasi non-steroid (NSAID) untuk mencoba mengurangi jumlah urine.
Nah, itulah seputar informasi mengenai diabetes insipidus yang perlu Mama ketahui. Semoga penjelasan ini bisa membantu Mama lebih memahami kondisi tersebut dan lebih waspada.