Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Apa Itu Disfonia Spasmodik yang Dialami Nadin Amizah?
instagram.com/@cakecaine

Intinya sih...

  • Disfonia spasmodik adalah gangguan suara kronis akibat masalah neurologis, bukan kerusakan fisik pada pita suara.

  • Penyebabnya berkaitan dengan gangguan pada sistem saraf pusat, dystonia fokal pada pita suara, faktor genetik, dan faktor pemicu gejala.

  • Gejalanya meliputi suara terputus-putus, tegang, lemah, sulit dikontrol, serta cara pengobatan melalui suntikan botulinum toxin, terapi suara, manajemen stres, dan tindakan bedah terbatas.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Penyanyi Nadin Amizah mengungkap bahwa dirinya didiagnosis mengalami disfonia spasmodik, sebuah gangguan pita suara yang berdampak langsung pada kemampuan berbicara dan bernyanyi.

Kondisi ini membuat otot-otot di sekitar pita suara bekerja tidak normal sehingga suara menjadi sulit dikontrol. Meski terdengar asing bagi sebagian orang, disfonia spasmodik merupakan gangguan medis yang nyata dan tergolong langka.

Pengakuan Nadin membuka diskusi publik tentang pentingnya kesehatan vokal, terutama bagi mereka yang mengandalkan suara sebagai alat utama berkarya.

Banyak orang pun baru menyadari bahwa perubahan suara dapat berkaitan dengan gangguan saraf, bukan sekadar kelelahan.

Untuk mengetahui lebih lanjut, Popmama.com akan membahas tentang apa itu disfonia spasmodik yang dialami Nadin Amizah. Yuk simak pembahasannya dibawah ini.

Apa Itu Disfonia Spasmodik?

Freepik/Freepik

Disfonia spasmodik (spasmodic dysphonia) adalah gangguan suara kronis yang disebabkan oleh masalah neurologis, bukan akibat kerusakan fisik pada pita suara.

Kondisi ini terjadi ketika otot-otot pita suara mengalami kejang atau kontraksi tak sadar saat seseorang berbicara, sehingga pita suara tidak dapat membuka dan menutup secara normal.

Akibatnya, suara terdengar terputus-putus, tegang, tertahan, atau melemah secara tiba-tiba. Gangguan ini dapat berkembang secara perlahan dan sering kali sulit dikenali pada tahap awal.

Menurut National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD), disfonia spasmodik termasuk dalam kelompok dystonia, yaitu gangguan pergerakan otot akibat sinyal saraf dari otak yang tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Dilansir dari MedlinePlus (U.S. National Library of Medicine) menjelaskan bahwa kejang pada otot pita suara dapat membuat pita suara menjadi terlalu rapat atau terlalu terbuka saat berbicara, sehingga menghasilkan suara yang terdengar tidak normal.

Sementara itu, Cleveland Clinic menyebut disfonia spasmodik sebagai gangguan suara jangka panjang yang dapat memengaruhi kemampuan komunikasi dan kualitas hidup penderitanya, meskipun tidak bersifat mengancam nyawa.

4 Penyebab Disfonia Spasmodik

Freepik/jcomp

Hingga saat ini, belum ada satu penyebab tunggal yang dapat menjelaskan semua kasus disfonia spasmodik. Namun, para ahli sepakat bahwa gangguan ini berkaitan dengan sistem saraf pusat.

Beberapa faktor yang diketahui berperan antara lain:

  1. Gangguan pada sistem saraf pusat

Disfonia spasmodik terjadi ketika sinyal dari otak ke otot pita suara tidak tersampaikan dengan baik. Akibatnya, otot-otot tersebut berkontraksi secara tiba-tiba dan tidak terkontrol saat berbicara, meski tidak terdapat kerusakan fisik pada pita suara.

  1. Dystonia fokal pada pita suara

Kondisi ini termasuk distonia fokal, yaitu gangguan gerak yang hanya memengaruhi satu bagian tubuh. Dalam disfonia spasmodik, gangguan terbatas pada otot pita suara, sementara fungsi tubuh lainnya tetap normal.

  1. Faktor genetik (pada kasus tertentu)

Pada sebagian kecil penderita, disfonia spasmodik ditemukan dalam satu keluarga. Meski demikian, hingga kini belum ada gen spesifik yang diidentifikasi sebagai penyebab langsung kondisi ini.

  1. Faktor pemicu yang memperburuk gejala

Stres emosional, kelelahan berat, atau penggunaan suara berlebihan tidak menyebabkan disfonia spasmodik. Namun, faktor-faktor tersebut dapat memperparah gejala yang sudah ada dan membuat gangguan suara terasa lebih dominan.

5 Gejala Disfonia Spasmodik

Freepik/wavebreakmedia_micro

Gejala disfonia spasmodik umumnya berkaitan dengan perubahan kualitas suara dan muncul secara konsisten. Tingkat keparahannya dapat berbeda pada setiap orang.

  1. Suara terputus-putus atau tersendat

Saat berbicara, suara dapat terdengar seperti berhenti tiba-tiba di tengah kalimat karena pita suara menutup terlalu kuat, sehingga komunikasi terasa melelahkan.

  1. Suara terdengar tegang dan berat

Pada tipe adductor spasmodic dysphonia, suara terdengar ditekan dan kaku. Penderita sering harus mengeluarkan usaha ekstra untuk berbicara.

  1. Suara lemah atau berhembus

Pada tipe abductor spasmodic dysphonia, pita suara terlalu terbuka sehingga suara terdengar pelan dan kurang bertenaga.

  1. Nada sulit dikontrol saat bernyanyi atau berbicara lama

Nada dapat mudah meleset, suara tiba-tiba hilang, atau terdengar tidak stabil, terutama saat berbicara dalam durasi panjang.

  1. Suara membaik saat berbisik atau tertawa

Salah satu ciri khas disfonia spasmodik adalah suara bisa terdengar lebih normal saat berbisik, tertawa, atau berbicara spontan, sehingga kerap membingungkan penderitanya.

4 Cara Pengobatan Disfonia Spasmodik

Freepik/pressfoto

Disfonia spasmodik belum dapat disembuhkan sepenuhnya, namun gejalanya dapat dikelola dengan penanganan yang tepat. Tujuan pengobatan adalah meningkatkan kualitas suara dan kenyamanan saat berkomunikasi.

Pilihan penanganannya meliputi:

  1. Suntikan botulinum toxin (Botox)

Terapi ini paling umum digunakan dan dianggap paling efektif. Botox disuntikkan ke otot pita suara untuk mengurangi kontraksi berlebihan, dengan efek yang biasanya bertahan sekitar tiga hingga empat bulan.

  1. Terapi suara (voice therapy)

Terapi ini membantu penderita mempelajari teknik pernapasan dan penggunaan suara yang lebih efisien. Meski tidak menghilangkan spasme, terapi suara dapat membantu mengoptimalkan kontrol vokal.

  1. Manajemen stres dan dukungan psikologis

Karena stres dapat memperburuk gejala, pengelolaan stres menjadi bagian penting dalam perawatan jangka panjang. Dukungan emosional juga membantu penderita menghadapi dampak psikologis akibat perubahan suara.

  1. Tindakan bedah (terbatas)

Pada kasus tertentu yang tidak merespons terapi lain, dokter dapat mempertimbangkan prosedur bedah saraf pita suara. Namun, opsi ini jarang dilakukan dan hasilnya dapat bervariasi.

Itulah pembahasan mengenai apa itu disfonia spasmodik yang dialami Nadin Amizah. Meski tidak mengancam nyawa, kondisi ini dapat berdampak besar pada komunikasi, rasa percaya diri, dan kualitas hidup penderitanya.

Dengan diagnosis yang tepat, terapi yang konsisten, dan dukungan yang memadai, penderita disfonia spasmodik tetap dapat beraktivitas dan berkarya sesuai kemampuannya.

Editorial Team