Kebiasaan membunyikan leher atau melakukan neck cracking mungkin terasa melegakan bagi sebagian orang. Sensasi bunyi “krek” yang muncul saat leher diputar atau diregangkan kerap dianggap sebagai tanda otot yang tegang mulai rileks.
Namun, di balik kebiasaan tersebut, ada risiko kesehatan yang perlu diperhatikan, terutama jika leher dimanipulasi dengan gerakan cepat dan kuat.
Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Adam Prabata, di Instagram @adamprabata turut mengangkat pembahasan mengenai risiko manipulasi leher melalui unggahannya. Dalam unggahan tersebut, ia membagikan sebuah penelitian yang melaporkan kasus perempuan berusia 32 tahun meninggal setelah menjalani manipulasi leher ini.
Penelitian tersebut membahas kemungkinan hubungan antara manipulasi leher, cedera pembuluh darah, dan stroke. Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa tidak semua bunyi leher memiliki risiko yang sama. Lantas, bagaimana manipulasi leher bisa berkaitan dengan stroke?
Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasannya.