- Nyeri leher atau sakit kepala yang mendadak dan sangat berat.
- Pusing hebat atau sensasi berputar.
- Penglihatan ganda atau gangguan penglihatan secara tiba-tiba.
- Kesulitan berbicara atau bicara menjadi pelo.
- Kesulitan menelan.
- Kehilangan keseimbangan atau kesulitan berjalan.
- Kelemahan atau mati rasa pada wajah, lengan, maupun kaki.
Benarkah Kretek Leher Bisa Picu Stroke hingga Kematian?

Manipulasi leher dengan gerakan cepat dan kuat berpotensi mencederai pembuluh darah di area leher.
Penelitian melaporkan kasus perempuan 32 tahun yang meninggal setelah manipulasi leher, tetapi hubungan sebab-akibatnya belum dapat dipastikan.
Nyeri mendadak, pusing, gangguan penglihatan, bicara, keseimbangan, atau kelemahan tubuh perlu segera mendapat pertolongan medis.
Kebiasaan membunyikan leher atau melakukan neck cracking mungkin terasa melegakan bagi sebagian orang. Sensasi bunyi “krek” yang muncul saat leher diputar atau diregangkan kerap dianggap sebagai tanda otot yang tegang mulai rileks.
Namun, di balik kebiasaan tersebut, ada risiko kesehatan yang perlu diperhatikan, terutama jika leher dimanipulasi dengan gerakan cepat dan kuat.
Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Adam Prabata, di Instagram @adamprabata turut mengangkat pembahasan mengenai risiko manipulasi leher melalui unggahannya. Dalam unggahan tersebut, ia membagikan sebuah penelitian yang melaporkan kasus perempuan berusia 32 tahun meninggal setelah menjalani manipulasi leher ini.
Penelitian tersebut membahas kemungkinan hubungan antara manipulasi leher, cedera pembuluh darah, dan stroke. Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa tidak semua bunyi leher memiliki risiko yang sama. Lantas, bagaimana manipulasi leher bisa berkaitan dengan stroke?
Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasannya.
Table of Content
1. Manipulasi leher yang kuat berpotensi mencederai pembuluh darah

Pexels/Funkcinės Terapijos Centras Penelitian berjudul “The Potential Dangers of Neck Manipulation & Risk for Dissection and Devastating Stroke: An Illustrative Case & Review of the Literature” membahas potensi komplikasi akibat manipulasi leher.
Penelitian yang ditulis oleh Ryan C. Turner dan rekan-rekannya tersebut diterbitkan dalam jurnal Biomedical Research and Reviews pada 2018. Salah satu hal yang menjadi perhatian peneliti adalah tindakan manipulasi leher dengan gerakan cepat dan dorongan kuat atau high-velocity thrust.
Gerakan tersebut dapat memberikan tekanan pada struktur di sekitar leher, termasuk pembuluh darah. Salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai adalah cervical artery dissection atau diseksi arteri servikal.
Kondisi ini terjadi ketika lapisan dalam dinding arteri mengalami robekan. Darah kemudian dapat masuk ke lapisan dinding pembuluh darah dan menyebabkan penyempitan hingga terbentuknya bekuan darah.
2. Perempuan 32 tahun meninggal setelah manipulasi leher

Magnific/gpointstudio Bagian yang cukup mengejutkan dari penelitian tersebut adalah laporan kasus seorang perempuan berusia 32 tahun yang meninggal setelah menjalani manipulasi leher.
Berdasarkan laporan peneliti, perempuan tersebut sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit berarti. Ia mendatangi seorang chiropractor untuk mendapatkan penyesuaian leher karena mengalami rasa pegal seperti ketegangan otot.
Namun, setelah menjalani manipulasi leher, pasien langsung merasakan nyeri pada leher dan mengalami keringat berlebih. Kondisinya kemudian memburuk hingga mengalami henti jantung dan henti napas.
Pemeriksaan medis menunjukkan adanya diseksi pada kedua arteri vertebralis di area leher. Selain itu, ditemukan bekuan darah dan penyumbatan pada bagian ujung arteri basilar.
Pasien juga mengalami infark pada bagian belakang otak, termasuk batang otak atau brainstem. Kondisi tersebut menyebabkan kerusakan neurologis yang sangat berat hingga akhirnya pasien meninggal dunia.
Meski peneliti menduga terdapat hubungan antara manipulasi leher dan kejadian tersebut, mereka mengakui bahwa tidak tersedia pemeriksaan pencitraan sebelum tindakan. Karena itu, peneliti tidak dapat memastikan apakah diseksi arteri sudah terjadi sebelum pasien menjalani manipulasi leher.
3. Cedera pembuluh darah di leher bisa menghambat aliran darah ke otak

Pexels/Towfiqu barbhuiya Untuk memahami risiko tersebut, perlu mengetahui bahwa terdapat pembuluh darah penting yang melewati area leher salah satunya arteri vertebralis.
Arteri vertebralis berjalan melalui tulang belakang bagian leher dan berperan memasok darah ke bagian belakang otak. Kedua arteri vertebralis kemudian bergabung membentuk arteri basilar.
Apabila terjadi diseksi pada arteri vertebralis, lapisan dinding pembuluh darah dapat mengalami kerusakan. Kondisi ini berpotensi memicu terbentuknya bekuan darah yang kemudian menghambat aliran darah menuju otak.
Ketika jaringan otak tidak mendapatkan pasokan darah dan oksigen yang cukup, sel-sel otak dapat mengalami kerusakan. Inilah salah satu mekanisme yang dapat menyebabkan stroke.
Namun, perlu diingat bahwa diseksi arteri servikal tidak selalu berakhir dengan stroke berat. Dampaknya bergantung pada lokasi cedera, tingkat penyumbatan, serta kondisi pasien.
4. Tidak semua kebiasaan membunyikan leher otomatis menyebabkan stroke

Pexels/Picas Joe Meskipun penelitian tersebut melaporkan komplikasi serius, bukan berarti setiap kali seseorang membunyikan leher akan mengalami diseksi arteri atau stroke.
Ada perbedaan antara bunyi sendi yang muncul saat seseorang melakukan peregangan ringan dengan manipulasi leher yang melibatkan gerakan cepat, kuat, dan menyentak.
American Heart Association (AHA) dan American Stroke Association (ASA) dalam pernyataan ilmiah pada 2014 membahas adanya hubungan antara terapi manipulasi leher dan diseksi arteri servikal. Namun, kedua organisasi tersebut juga menegaskan bahwa hubungan sebab-akibatnya belum dapat dipastikan.
Salah satu hal yang membuat hubungan ini sulit ditentukan adalah kemungkinan reverse causation. Artinya, seseorang mungkin sudah mengalami diseksi arteri yang gejalanya berupa nyeri leher atau sakit kepala, kemudian mencari pertolongan melalui manipulasi leher.
Sementara itu, sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan pada 2016 menemukan hubungan statistik antara perawatan chiropractic dan diseksi arteri servikal.
Meski demikian, kualitas bukti penelitian tersebut dinilai sangat rendah sehingga belum cukup untuk memastikan hubungan sebab-akibat.
Dengan demikian, penelitian yang ada menunjukkan adanya potensi risiko yang perlu diperhatikan, tetapi belum membuktikan bahwa semua tindakan membunyikan leher dapat menyebabkan stroke.
5. Waspadai nyeri leher mendadak hingga gangguan keseimbangan

Magnific/stefamerpik Setelah mengalami manipulasi leher, Mama perlu memperhatikan apabila muncul keluhan yang tidak biasa, terutama gejala yang terjadi secara mendadak dan terasa berat.
Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
Gejala tersebut dapat berkaitan dengan gangguan pembuluh darah atau stroke. Jika mengalaminya, segera cari pertolongan medis darurat dan jangan menunggu gejalanya mereda sendiri.
Pada akhirnya, penelitian mengenai manipulasi leher menjadi pengingat bahwa tindakan yang terlihat sederhana tetap memiliki potensi risiko, terutama jika dilakukan dengan tekanan dan gerakan yang kuat.
Sebaiknya hindari memanipulasi leher secara paksa dan konsultasikan keluhan nyeri leher kepada tenaga medis agar mendapatkan penanganan yang sesuai.





















-a0GEL746xjzPGBMBqXNry3v6bl89uK4t.png)

