Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI
Penting untuk mengenali kapan kebiasaan ini sudah masuk dalam kategori gangguan. Perhatikan tanda-tanda berikut:
Kerusakan jaringan yang gignifikan: Mengelupas bibir hingga lapisan kulit dalam terlihat, berdarah, atau menyebabkan koreng yang sulit sembuh.
Siklus puas dan menyesal: Merasa sangat lega atau puas setelah berhasil mengelupas kulit, namun segera diikuti oleh rasa malu atau penyesalan karena bibir terlihat rusak.
Upaya berhenti yang gagal: Muncul rasa frustrasi karena sudah mencoba memakai pelembap (lip balm) atau menutup mulut, namun tangan tetap bergerak secara impulsif ke arah bibir.
Dilakukan dalam kondisi "Trance": Tindakan ini sering terjadi tanpa disadari saat seseorang sedang melamun, membaca, atau bekerja (disebut sebagai perilaku otomatis)
Kesimpulannya, sering mengelupas bibir memang bisa menjadi indikasi gangguan psikologis jika frekuensinya tidak terkendali.
Secara medis, pengobatan tidak cukup hanya dengan memberikan krim bibir, tetapi juga perlu menyentuh akar permasalahannya melalui terapi perilaku kognitif (CBT).
Jika Mama atau orang terdekat mengalami gejala di atas, sebaiknya konsultasikan dengan psikolog untuk mendapatkan penanganan yang tepat agar kesehatan fisik dan mental tetap terjaga.