Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
dewi lestari.jpg
Instagram.com/deelestari

Intinya sih...

  • Dewi Lestari menjalani long fasting 72 jam untuk membersihkan tubuh dan menurunkan kadar lemak demi tujuan estetika.

  • Selama puasa, Dewi mengonsumsi VCO dan teh herbal untuk menahan lapar, serta mengalami fase berat pada 24-48 jam.

  • Long fasting 72 jam dapat membantu pembakaran lemak, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan perlu konsultasi dengan dokter sebelum mencobanya.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Metode diet long fasting 72 jam atau puasa selama tiga hari belakangan semakin populer karena diklaim mampu membantu pembakaran lemak lebih cepat. 

Sejumlah artis tanah air diketahui mencoba metode ini demi mendapatkan tubuh yang lebih sehat dan ideal. Salah satunya adalah penulis sekaligus penyanyi Dewi Lestari.

Melalui akun Instagram pribadinya, Dewi membagikan pengalaman menjalani puasa panjang 72 jam. Berikut Popmama.com rangkum kisah dan informasi seputar Dewi Lestari diet long fasting 72 jam. 

1. Alasan Dewi Lestari menjalani long fasting 72 jam

Dalam salah satu unggahan videonya, Dewi menjelaskan bahwa keputusannya menjalani long fasting bukan tanpa alasan. Ia menyebut metode ini sebagai cara untuk membantu proses ‘bersih-bersih’ tubuh melalui mekanisme alami bernama autofagi.

"Kenapa saya melakukan long fasting ini? Jadi ada beberapa alasan. Pertama, ya karena memang bagus aja, ini merupakan mekanisme bersih-bersih tubuh, ada satu mekanisme di tubuh kita namanya autofagi," katanya, dikutip dari Instagram @deelestari, Jumat (9/1/25).

Selain demi kesehatan tubuh, Dewi juga memiliki tujuan estetika. Ia mengaku perlu menurunkan kadar lemak tubuh karena akan menjalani sesi pemotretan. 

Menurutnya, puasa panjang menjadi salah satu cara yang cukup efektif karena tubuh akan beralih menggunakan lemak sebagai sumber energi utama.

"Kedua, saya memang mau melakukan sebuah pemotretan, sebentar lagi, yang mengharuskan saya menurunkan kadar lemak di tubuh, dan salah satu cara paling efektif untuk itu adalah melakukan puasa panjang, karena nanti bahan bakar pindah ke lemak, jadi lemaknya terbakar," sambungnya.

2. Tantangan Dewi melakukan long fasting 72 jam

Selama menjalani puasa panjang, Dewi tetap mengonsumsi beberapa asupan tertentu untuk membantu menahan rasa lapar. Namun, yang dikonsumsi bukanlah makanan berat, melainkan virgin coconut oil (VCO) serta teh herbal yang mengandung serat.

Ia mengungkap bahwa pada 24 jam pertama, dirinya hanya mengonsumsi dua sendok makan VCO dan satu sendok teh psyllium husk, yaitu jenis serat yang dapat membantu menekan rasa lapar tanpa membatalkan puasa.

"Hari ini memasuki 24 jam pertama. Hari ini saya baru minum dua sendok makan virgin coconut oil (VCO) dan satu sendok teh Pysillium Husk, itu adalah semacam fiber atau serat yang bisa dipakai untuk sedikit meredakan rasa lapar tapi tidak membatalkan puasa, dan ini adalah long fasting. Target saya adalah 72 jam, yang berat itu biasanya dari 24 menuju 48. Doakan ya teman-teman, semoga lancar, istiqomah, dan lolos 72 jam," ungkapnya dalam unggahan lain di Instagram.

Menariknya, Dewi mengaku tidak mengalami keluhan fisik yang berat di hari pertama. Ia hanya merasa menjadi lebih sensitif saat melihat makanan di sekitarnya.

"Nggak sampe keleyengan, cuma sensi lihat makanan," tulisnya.

3. Fase 24–48 jam terasa paling berat hingga muncul halusinasi

Memasuki fase 24 hingga 48 jam, Dewi menambahkan bone broth atau air kaldu tulang sebagai asupan yang dikonsumsinya saat malam hari. Minuman ini dikenal mengandung nutrisi dan sering digunakan dalam berbagai metode puasa panjang.

Namun, di fase inilah tantangan terbesar mulai muncul. Dewi mengungkap bahwa setelah mencapai 48 jam puasa, dirinya mulai merasakan efek seperti halusinasi dan melihat berbagai benda seolah-olah menyerupai makanan.

"Sesuai prediksi, ini memang hari yang paling berat, mulai halusinasi, segalanya adalah makanan. Tapi memang beginilah suka duka dari puasa panjang. Reaksi badan orang berbeda-beda, tapi buat saya 24 jam menuju 48 yang paling berat, dan ini tepat yang ke-48 (jam)," ceritanya.

4. Apa itu long fasting 72 jam?

pexels/Annushka Ahuja

Long fasting 72 jam merupakan metode diet dengan berpuasa selama tiga hari penuh. Selama periode ini, seseorang umumnya masih diperbolehkan mengonsumsi air putih, teh atau kopi tanpa gula, serta minuman rendah kalori yang mengandung serat.

Melansir dari laman Elite Fit, berikut gambatan perubahan yang terjadi pada tubuh ketika menjalani long fasting 72 jam, antara lain:

  • Dalam 0 hingga 12 jam pertama, tubuh masih berada dalam kondisi kenyang normal dan menggunakan glukosa darah sebagai sumber energi. Belum ada perubahan besar selain sedikit penurunan gula darah dan insulin.

  • Pada 12 hingga 24 jam, cadangan glikogen mulai menipis dan tubuh perlahan beralih ke pembakaran lemak. Hati mulai memproduksi keton sebagai bahan bakar, dan sebagian orang mulai mengalami rasa lapar, sakit kepala, atau mudah tersinggung.

  • Di fase 24 hingga 48 jam, ketosis sudah semakin aktif. Tubuh memperoleh energi lebih banyak dari lemak, autofagi meningkat, dan sebagian orang justru merasa lebih fokus secara mental. Meski begitu, kondisi fisik bisa terasa lebih lemah sehingga hidrasi dan asupan elektrolit menjadi sangat penting.

  • Pada 48 hingga 72 jam, tubuh sepenuhnya menggunakan lemak dan keton sebagai sumber energi utama. Autofagi mencapai tingkat tinggi dan beberapa orang melaporkan adanya kejernihan mental atau euforia ringan. Namun, rasa lemas dan keinginan untuk makan tetap bisa muncul.

5. Manfaat long fasting 72 jam dan hal yang perlu diperhatikan

Freepik/Nathan Cowley

Puasa 72 jam sering dikaitkan dengan sejumlah manfaat kesehatan. Beberapa di antaranya adalah:

  • Meningkatkan sistem kekebalan tubuh

  • Membantu menyeimbangkan kadar gula darah

  • Meningkatkan sensitivitas insulin

  • Menurunkan berat badan

  • Memperbaiki metabolisme

  • Mengurangi lemak perut

  • Menurunkan tekanan darah dan peradangan dalam jangka pendek

  • Melatih ketahanan mental dan emosional seseorang.

Meski demikian, long fasting tidak disarankan dilakukan terlalu sering karena berisiko menyebabkan kehilangan massa otot dan kekurangan nutrisi. 

Banyak orang yang menjalani puasa panjang juga cenderung menghindari aktivitas fisik, padahal olahraga tetap penting untuk mendukung kesehatan tubuh secara menyeluruh.

Bagi siapa pun yang ingin mencoba puasa lebih dari satu hari, sangat dianjurkan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau ahli gizi. Dengan begitu, manfaat dan risikonya bisa dipahami dengan lebih baik.

Demikian cerita mengenai Dewi Lestari jalani diet long fasting 72 jam. Bagaimana menurut pendapat Mama?

Editorial Team