4 Tahun Jadi Korban, Siswi di Bali Diperkosa Sejak SD Hingga SMA

Kepala sekolah menjadi pelaku pemerkosaan ini nih, Ma!

25 Februari 2020

4 Tahun Jadi Korban, Siswi Bali Diperkosa Sejak SD Hingga SMA
Unsplash/Kristina Flour

Kasus pemerkosaan seolah tak berhenti dan kini kembali terjadi lagi di Bali. Kabar menyedihkan datang dari seorang siswi yang diduga diperkosa oleh kepala sekolahnya sendiri sejak duduk di bangku SD hingga SMU. 

Adanya dugaan telah memperkosa siswinya membuat seorang kepala Sekolah Dasar (SD) di Kuta Utara ditangkap oleh Polres Badung, Bali. 

Laki-laki bernisial IWS (43) akhirnya ditetapkan menjadi tersangka karena melakukan pemerkosaan terhadap seorang siswi SMA dengan inisial IAMOCD (16). Penetapan IWS sebagai tersangka ini dilakukan pada Minggu (23/2/2020).

Dikutip dari Bali Express, Iptu I Ketut Gede Oka Bawa selaku KASUBAG Humas Polres Badung mengatakan bahwa anggota unit reserse juga melakukan penyelidikan keberadaan pelaku, sehingga pelaku pun berhasil diamankan di rumahnya.

Bukan tanpa alasan, penetapan IWS menjadi tersangka sudah diproses oleh kepolisian dengan melakukan gelar perkara hingga menemukan alat bukti berupa 1 Unit HP serta pakaian milik korban.

Dalam interogasi yang dilakukan kepada IWS serta alat bukti, pelaku mengakui bahwa perbuatannya tersebut telah terjadi sejak Juli 2016 hingga Januari 2020. 

Jika diurutkan pada tahun 2016 lalu korban masih kelas 6 SD dan kini telah duduk di bangku di SMA kelas 10. Pemerkosaan yang dilakukan IWS tersebut terjadi selama 4 tahun. 

"Pelaku sudah tidak ingat berapa kali melakukan hubungan intim dengan korban. Korban disetubuhi di beberapa tempat, pernah di dalam ruang kepala sekolah salah satu SD Negeri tempat pelaku bertugas. Pernah juga di ruangan les milik tersangka, di dalam kamar di rumah pelaku di wilayah, Dalung, Kuta Utara, Badung. Bahkan pernah juga terjadi di beberapa penginapan, Kuta Utara," jelas Iptu Oka. 

Demi memenuhi nafsu birahinya sendiri, IWS tega memperkosa korban hingga beberapa kali. Pelaku pun juga sempat memotret korban ketika dalam keadaan telanjang. 

“Tersangka mengancam untuk menyebar foto tersebut jika korban menolak saat diajak berhubungan. Takut dengan ancaman tersebut, akhirnya korban pun menurut,” kata Iptu Oka.

Awal Mula Kasus Pemerkosaan Terungkap

Awal Mula Kasus Pemerkosaan Terungkap
Pexels/Pixabay

Kasus ini terungkap ketika sang Papa dari korban didatangi oleh salah satu guru Pembina Pramuka saat sedang berada di sekolah.

Pembina Pramuka tersebut menceritakan kepada orangtua korban kalau putrinya pernah bercerita kalau ia telah disetubuhi oleh tersangka. 

Informasi yang diterima membuat sang Papa dari korban menanyakan kebenaran cerita tersebut kepada anaknya. Akhirnya sang Putri pun mengaku telah menjadi korban dan disetubuhi oleh pelaku sejak kelas 6 SD.  

Dari kabar yang beredar IWS menyukai korban dan ingin menjadikan korban sebagai pacar. IWS pun terus merayu korban hingga siswinya tersebut dijadikan pacar.

Atas perbuatannya, pelaku pun terjerat pasal tentang Perlindungan Anak sehingga terancam hukuman minimal 5 tahun penjaara dan maksimal 15 tahun penjara.

Sementara itu, untuk menguatkan bukti akhitrnya korban melakukan visum et repertum di RSUD Mangusada. Pihak Polres Badung juga berkoordinasi dengan P2TP2A Kabupaten Badung untuk pemulihan fisik dan psikis korban.

Terkait pemulihan psikis korban pemerkosaan yang terjadi selama 4 tahun, maka perlu diketahui bahwa ada efek buruk untuk kesehatannya. 

Sebagai korban pemerkosaan yang berlangsung cukup lama, maka ada beberapa kondisi yang mungkin terjadi dan harus dilalui. Berikut rangkuman ringkasnya dari Popmama.com sebagai sebuah penjelasan serta informasi baru.

Editors' Picks

1. Depresi dan mampu menyalahkan diri sendiri 

1. Depresi mampu menyalahkan diri sendiri 
Freepik

Korban pelecehan seksual dan pemerkosaan tentu memiliki kondisi psikologis yang tidak stabil. Seringkali korban akan merasa suasana hatinya terus menurun hingga merasa putus asa, bahkan kehilangan minat pada segala bentuk aktivitasnya. 

Menyalahkan diri sendiri karena telah menjadi korban pelecehan seksual dan pemerkosaan kerap terjadi.

Tak bisa dipungkiri bahwa ini akan menjadi efek jangka panjang, sehingga mampu menghambat proses penyembuhan luka batin akibat telah menjadi korban pemerkosaan. 

Proses penyalahan diri sendiri karena telah menjadi korban pemerkosaan tak bisa dianggap remeh. Hal ini bukan sekadar kesedihan belaka saja, namun akan menjadi gangguan dalam mengubah cara berpikir, mengganggu kemampuan bekerja hingga tak dapat menikmati hidup. 

Perlu diketahui bahwa ada dua jenis penyalahan diri yang dapat terjadi pada fase ini, seperti: 

  • Penyalahan diri sendiri berdasarkan tindakan yang seharusnya dilakukan sebagai korban pemerkosaan. Ada sebuah anggapan bahwa seharusnya ia bisa menghindari kejadian buruk tersebut. 
  • Penyalahan diri sendiri berdasarkan karakter, sehingga merasa ia layak mendapatkan perlakuan seperti itu sebagai korban pemerkosaan.

Tanpa disadari perlahan-lahan fase penyalahan diri sendiri ini yang terjadi cukup lama akan menyebabkan seseorang masuk ke fase gangguan depresi. 

Jika korban sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda depresi, maka keluarga perlu sekali mencari bantuan profesional agar kondisi tersebut tidak sampai pada upaya bunuh diri. 

2. Muncul sindrom trauma perkosaan

2. Muncul sindrom trauma perkosaan
Freepik

Sindrom trauma perkosaan sering juga dikenal dengan istilah Rape Trauma Syndrome (RTS) yang termasuk bentuk turunan dari PTSD atau gangguan stres pasca trauma. 

Usai mengalami pemerkosaan pasti korban aja mengalami syok karena tak percaya dengan yang sedang terjadi padanya. Sebenarnya ini menjadi sebuah respons alami dari seseorang yang sehat secara psikologis dan fisik terhadap trauma perkosaan. 

Selain itu, ada juga beberapa gejala yang dialami, seperti: 

  • Mudah merasa kaget karena dipenuhi dengan perasaan takut dan cemas. 
  • Mengalami gangguan fisik, mulai dari sakit kepala, mual, muntah, insomnia bahkan mengalami mimpi buruk. 
  • Merasa kebingungan secara mental (disorientasi) terhadap semua yang sudah terjadi. 
  • Mengalami ketakutan akan seks, bahkan korban pemerkosaan masih denial kalau dirinya telah menjadi korban pemerkosaan. 
  • Kehilangan gairah dan minat seksual. 

Perlu diingat kembali bahwa ini bukan termasuk representasi dari gangguan atau penyakit kejiwaan ya, Ma. 

3. Disosiasi

3. Disosiasi
Freepik/Kwanchaichaiudom

Dalam pemahaman yang lebih sederhana disosiasi seringkali diartikan sebagai pelepasan dari realitas (kenyataan yang ada). 

Disosiasi pun menjadi salah satu bentuk pertahanan yang digunakan otak dalam mengatasi trauma akibat kekerasan seksual serta pemerkosaaan. 

Trauma ini umumnya terjadi dalam bentuk amnesia sebagian, berpindah-pindah tempat, memiliki identitas baru atau bahkan kepribadian ganda. Kondisi tersebut bisa terjadi usai menjadi korban pemerkosaan.

Itulah beberapa fakta terkait kasus pemerkosaan seorang siswi yang terjadi dari dirinya duduk di bangku SD hingga SMA. 

Semoga kasus serupa tidak lagi terjadi ya, Ma. 

Baca juga: 

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.