Kabar duka datang dari dunia seni Indonesia. Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada Sabtu (26/9) pukul 04.16 WIB di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, dalam usia 73 tahun.
Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia, Ini Perjalanan dan Prestasinya

Guruh Soekarnoputra meninggal pada Sabtu, 26 September, pukul 04.16 WIB di RS MRCCC Siloam Semanggi, Jakarta, dalam usia 73 tahun setelah sempat dirawat karena kondisi kesehatan menurun.
Putra bungsu Soekarno dan Fatmawati ini menekuni seni sejak kecil, lalu berkiprah sebagai pencipta lagu, komposer, koreografer, penata musik, serta penggagas pertunjukan seni.
Melalui Guruh Gipsy, Swara Maharddhika, lagu-lagu populer, dan pertunjukan kolosal, Guruh memadukan unsur tradisional dengan modern; karyanya terus dibawakan lintas generasi.
Sebelum meninggal dunia, Guruh sempat menjalani perawatan di rumah sakit karena kondisi kesehatannya menurun.
Namun, hingga kabar kepergiannya disampaikan, belum ada keterangan resmi mengenai penyakit atau penyebab meninggalnya Guruh Soekarnoputra.
Putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati ini dikenal sebagai sosok yang memiliki perjalanan panjang di dunia seni.
Guruh tidak hanya menciptakan lagu, tetapi juga aktif sebagai komposer, koreografer, penata musik, hingga penggagas berbagai pertunjukan seni.
Lantas, seperti apa perjalanan Guruh Soekarnoputra hingga dikenal sebagai salah satu seniman penting di Indonesia?
Berikut Popmama.com rangkum informasi tentang Guruh Soekarnoputra meninggal dunia, ini perjalanan dan prestasinya. Simak di bawah!
Table of Content
1. Mengenal seni sejak usia dini

unsplash.com/lorenzo-spoleti Kecintaan Guruh terhadap seni ternyata sudah terlihat sejak kecil. Ia mempelajari berbagai tarian tradisional, mulai dari Jawa, Sunda, Bali, Minang, hingga kesenian dari sejumlah daerah lainnya.
Saat duduk di sekolah dasar, Guruh juga beberapa kali tampil di TVRI bersama kelompok musik yang dibentuknya. Memasuki usia remaja, ia mulai menciptakan lagu dan pada 1965 membentuk kelompok musik The Beat-G.
2. Melahirkan eksperimen musik Guruh Gipsy

Mtv.it/Guruh Soekarno Putra Salah satu karya yang menjadi bagian penting dalam perjalanan musik Guruh adalah Guruh Gipsy. Setelah kembali dari Belanda pada 1975, ia mulai bereksperimen memadukan gamelan Bali dengan musik Barat bersama kelompok Gipsy.
Eksperimen tersebut kemudian menghasilkan album Guruh Gipsy yang dirilis pada 1976. Beberapa karya di dalamnya, seperti “Indonesia Maharddhika”, “Smaradhana”, dan “Janger 1897 Saka”.
Karya tersebut memperlihatkan bagaimana Guruh memadukan musik modern dengan unsur tradisional Indonesia.
3. Ciptakan lagu hingga pertunjukan kolosal

Instagram.com/guruh_sukarno_putra Kiprah Guruh tidak berhenti di dunia musik. Pada 1977, ia mendirikan Swara Maharddhika sebagai wadah kreativitas anak muda di bidang seni. Dari sinilah berbagai gagasan tentang musik, tari, dan pertunjukan kemudian berkembang.
Guruh juga melahirkan sejumlah pertunjukan besar, seperti “Untukmu Indonesiaku”, “Cinta Indonesia”, dan “Gilang Indonesia Gemilang”.
Dalam pertunjukan tersebut, ia memadukan musik, tari, koreografi, busana, hingga tata panggung sebagai satu kesatuan.
4. Karyanya terus dikenal lintas generasi

Dok. IDN Times/ Rani Asnurida Semasa berkarya, Guruh menciptakan banyak lagu yang dikenal masyarakat, di antaranya “Galih dan Ratna”, “Gita Cinta”, “Anak Jalanan”, “Lenggang Puspita”, “Sendiri”, dan “Marlina”.
Lagu “Renjana” bahkan memenangkan Festival Lagu Populer Tingkat Nasional pada 1976 dan membawa nama Indonesia ke World Popular Song Festival di Tokyo.
Karya Guruh kemudian terus diperkenalkan kepada generasi berikutnya. Pada 2014, sebanyak 25 lagu ciptaannya dibawakan dalam konser “Salute to Guruh Soekarno Putra”.
Enam tahun kemudian, sejumlah musisi lintas generasi kembali membawakan karya-karyanya dalam album Puspa Ragam Karya Guruh Sukarno Putra 2020.
Jejak karya tersebut juga masih terlihat dalam pertunjukan musik beberapa tahun terakhir. Pada Synchronize Fest 2025, Guruh Gipsy kembali tampil bersama Keenan Nasution dan Abadi Soesman.
Mereka membawakan sejumlah karya dari proyek tersebut, seperti “Smaradhana”, “Janger 1897 Saka”, “Barong Gundah”, dan “Indonesia Maharddhika”.
Penampilan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa karya Guruh masih memiliki ruang untuk dinikmati lintas generasi, bahkan puluhan tahun setelah pertama kali diperkenalkan.
Itu dia informasi tentang Guruh Soekarnoputra meninggal dunia. Karya dan kontribusinya di dunia seni menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia.
Selamat jalan, Guruh.





















