Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Mengenal Highside dan Lowside pada MotoGP, Ini Penyebab dan Perbedaanya
Wikimedia Commons/Franc
  • Highside terjadi saat ban belakang kehilangan lalu tiba-tiba mendapatkan traksi kembali, membuat motor terpental dan pembalap bisa terlempar keras hingga berisiko cedera parah.
  • Lowside terjadi ketika ban kehilangan cengkeraman total tanpa kembali menempel, menyebabkan motor tergelincir ke sisi bawah dan pembalap terseret di aspal dengan risiko cedera lebih ringan.
  • Faktor pemicu kecelakaan meliputi kesalahan kontrol, suhu ban belum optimal, kondisi lintasan buruk, serta masalah teknis; pencegahan dilakukan lewat warm-up lap, teknik halus, sistem elektronik, dan posisi tubuh tepat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menghabiskan waktu akhir pekan dengan menemani keluarga menonton ajang balap kuda besi bergengsi, MotoGP, memang selalu menghadirkan sensasi yang seru dan mendebarkan. 

Di balik adu kecepatan laju motor yang bikin jantung berdebar, olahraga ekstrem ini tentu tidak lepas dari yang namanya risiko kecelakaan di lintasan. 

Saat ada pembalap yang kehilangan kendali dan terjatuh, komentator tayangan balap biasanya sering menyebutkan istilah-istilah teknis khusus. Dari sekian banyak istilah, yang paling sering mampir di telinga kita adalah insiden highside dan lowside.

Lalu, apa makna dari kedua istilah tadi? Buat kamu yang penasaran, berikut Popmama.com membahas tentang mengenal istilah highside dan lowside pada MotoGP. Yuk, simak sampai habis!

Pengertian Kecelakaan Highside

Wikimedia Commons/Steffen Prößdorf

Bagi para pembalap, highside adalah salah satu jenis kecelakaan yang paling mengerikan dan sebisa mungkin mereka hindari. 

Mengutip dari laman MotoGP Glossary, highside terjadi ketika ban belakang motor kehilangan daya cengkeram (traksi) pada aspal saat menikung, namun secara tiba-tiba ban tersebut kembali mendapatkan traksinya dalam waktu yang sangat cepat.

Perubahan mendadak dari kondisi selip menjadi mencengkeram aspal ini menciptakan efek lontaran atau tendangan balik yang luar biasa kuat dari suspensi motor. 

Hasilnya, motor akan berontak hebat dan membuat tubuh pembalap terpental melayang ke udara melewati bagian atas motor. 

Melansir dari IDN Times, kecelakaan ini sangat fatal dan berbahaya karena pembalap bisa terhempas keras ke aspal dari ketinggian. Benturan vertikal ini berpotensi menyebabkan patah tulang, rasa sakit luar biasa, hingga cedera parah yang bisa merenggut nyawa.

Sebagai gambaran, insiden yang dialami oleh Luca Marini pada sesi latihan bebas Moto2 di Prancis tahun 2020 lalu bahkan sampai dijuluki "monster highside" karena saking dahsyatnya efek lemparan tersebut.

Pengertian Kecelakaan Lowside

Wikimedia Commons/Sandrasaez

Berbeda dengan highside yang dramatis dan melontarkan pembalap ke udara, kecelakaan lowside memiliki mekanisme jatuhnya motor yang sedikit berbeda. 

Dikutip dari MotoGP Glossary, lowside adalah insiden yang terjadi ketika ban depan, ban belakang, atau bahkan kedua ban motor kehilangan daya cengkeramnya secara total saat sedang merebah di tikungan, dan traksi tersebut tidak kembali lagi.

Karena tidak ada cengkeraman yang tiba-tiba menahan laju motor, kuda besi ini akan langsung tergelincir ke sisi bawah (sisi yang miring ke arah aspal). 

Efeknya, motor akan menyapu jalanan dan pembalap biasanya akan terseret atau meluncur di atas aspal hingga masuk ke area pinggir lintasan (gravel). 

Walaupun secara visual terlihat menyeramkan karena percikan api yang sering muncul akibat gesekan motor dan aspal, lowside umumnya dianggap lebih ringan dibandingkan highside. Pembalap biasanya hanya meluncur mendatar. 

Namun, tentu saja, jika tergelincir dalam kecepatan yang sangat tinggi dan menabrak pembatas jalan, insiden ini tetap bisa mengakibatkan cedera serius bagi para atlet.

Berbagai Faktor Pemicu Hilangnya Keseimbangan di Lintasan

Wikimedia Commons/Willtron

Mengutip informasi dari IDN Times, ada sejumlah faktor kompleks yang memicu hilangnya keseimbangan motor para pembalap, antara lain:

  • Kesalahan kontrol: Di kecepatan lebih dari 300 km/jam, sedikit saja kesalahan pembalap dalam menarik tuas gas terlalu agresif atau mengerem tidak optimal di tengah tikungan bisa membuat ban seketika kehilangan cengkeramannya.

  • Suhu ban yang belum pas: Ban balap MotoGP terbuat dari material khusus yang baru bisa bekerja maksimal pada suhu panas tertentu. Jika pembalap memaksakan manuver tajam saat ban masih dingin, risiko selip sangatlah besar.

  • Kondisi lingkungan sirkuit: Faktor eksternal seperti cuaca buruk, aspal yang basah dan licin, adanya debu dan kotoran, atau bahkan ceceran oli dari motor lain bisa secara drastis mengacaukan traksi.

  • Masalah teknis: Pengaturan motor yang kurang pas, seperti rebound suspensi belakang yang terlalu cepat atau sistem kelistrikan yang bermasalah, juga bisa membuat motor bergerak liar di luar kendali.

Cara Pencegahan yang Dilakukan

Wikimedia Commons/Alex Simonini

Untuk menekan sekecil mungkin risiko kecelakaan di atas lintasan, berikut adalah cara pencegahan yang rutin mereka lakukan:

  • Memaksimalkan putaran pemanasan: Sebelum balapan dimulai secara resmi, para pembalap wajib melakukan warm-up lap atau putaran pemanasan. Mereka akan memacu motor dengan ritme menyilang tertentu untuk memastikan suhu ban sudah mencapai titik panas paling optimal sebelum balapan sebenarnya dimulai.

  • Pengendalian gas dan rem yang mulus: Kunci utama dari keselamatan di atas motor balap adalah kehalusan teknik berkendara. Transisi saat membuka tuas gas atau melepas rem harus dilakukan secara progresif oleh jari pembalap, terutama saat motor sedang dalam posisi miring yang paling rentan.

  • Mengandalkan bantuan elektronik yang akurat: Tim mekanik dan insinyur telemetri selalu bekerja keras memetakan (mapping) tata letak sirkuit untuk mengatur besaran Traction Control yang tepat di setiap tikungan yang berbeda. Saat ban mulai terdeteksi kehilangan traksi, sistem pintar ini akan otomatis memotong suplai tenaga mesin untuk mencegah ban kembali sliding yang menyebabkan highside.

  • Menjaga postur dan keseimbangan tubuh (Body Positioning): Teknik posisi tubuh sang pembalap sangatlah vital. Pembalap harus tahu kapan harus memindahkan berat badannya dan menggantungkan tubuhnya keluar dari jok motor agar motor tidak perlu memiringkan sasis terlalu ekstrem untuk bisa berbelok tajam.

Pembalap MotoGP yang Pernah Mengalami Insiden Ini

Wikimedia Commons/Box Repsol

Dilansir dari IDN Times, figur pembalap papan atas yang pernah merasakan kerasnya kecelakaan highside maupun lowside antara lain sang legenda Valentino Rossi, Marc Marquez, Jorge Martin, Alex Marquez, hingga Marco Bezzecchi. 

Pembalap-pembalap muda seperti Veda Ega dan Guido Pini pun tak luput dari daftar pengalaman menegangkan ini.

Bagi penonton setia, kecelakaan highside yang dialami Marc Marquez di Sirkuit Jerez pada tahun 2020 mungkin menjadi salah satu yang paling membekas di ingatan. 

Insiden brutal tersebut membuatnya mengalami patah tulang lengan kanan yang sangat parah dan memengaruhi jalan kariernya selama beberapa musim setelahnya. 

Hal ini membuktikan bahwa sehebat apa pun reputasi seorang juara, balap motor tetaplah olahraga yang penuh risiko.

Itulah pembahasan mengenal highside dan lowside pada MotoGP. Semoga bermanfaat! 

Editorial Team

Related Article