Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
ilustrasi pembalut
Pexels/Karola G

Intinya sih...

  • Banyak mitos pembalut berakar dari kepercayaan budaya, seperti harus dicuci, dibakar, atau tidak boleh dibuang malam hari, padahal tidak memiliki dasar medis.

  • Secara ilmiah, pembalut tidak menyebabkan kanker, kemandulan, atau penularan penyakit. Risiko kesehatan justru muncul jika kebersihan tidak dijaga dengan benar.

  • Cara terbaik menjaga kesehatan saat menstruasi adalah mengganti pembalut setiap 4–6 jam, membuangnya dengan benar, dan tidak mudah percaya klaim produk tanpa bukti ilmiah.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menstruasi adalah proses alami yang dialami setiap perempuan. Namun sayangnya, masih banyak mitos seputar pembalut yang dipercaya turun-temurun tanpa dasar medis yang jelas. 

Mulai dari harus mencuci pembalut bekas, membakarnya, hingga anggapan bahwa pembalut bisa menyebabkan kanker atau kemandulan.

Oleh karena itu, penting untuk membedakan mana fakta kesehatan dan mana sekadar kepercayaan yang berkembang di masyarakat. Supaya tidak salah kaprah dan tetap menjaga kesehatan organ intim dengan benar.

Berikut Popmama.com rangkum informasi mengenai mitos pembalut yang masih banyak dipercaya.

1. Mencuci pembalut sekali pakai

Pexels/Karola G

Mitos mencui pembalut sekali pakai berakar kuat di budaya. Banyak orang mempercayai bahwa pembalut bekas pakai harus dicuci bersih dari darah agar tidak menarik perhatian makhluk halus atau digunakan untuk praktik ilmu hitam. Kepercayaan ini membuat banyak perempuan merasa wajib menyikat pembalut sekali pakai mereka hingga hancur sebelum dibuang ke tempat sampah.

Secara medis, mencuci pembalut sekali pakai justru sangat tidak dianjurkan karena struktur penyerapnya (gel atau kapas) akan hancur dan menyebarkan bakteri ke tangan serta area sanitasi. Menurut laporan kesehatan dari UNICEF, pembalut sekali pakai cukup dibungkus rapat dengan kertas atau plastik lalu dibuang di tempat sampah khusus untuk menjaga kebersihan lingkungan tanpa perlu dicuci.

2. Membakar pembalut bekas

Pexels/Karola G

Banyak orang percaya bahwa membakar pembalut adalah satu-satunya cara untuk memusnahkan kotoran secara total dan menjaga kesucian diri. Anggapan ini muncul dari keinginan untuk memastikan tidak ada sisa darah yang tertinggal di alam terbuka, yang dianggap bisa membawa sial atau penyakit.

Namun, praktik ini sangat berbahaya bagi kesehatan paru-paru dan lingkungan. World Health Organization (WHO) memperingatkan bahwa pembakaran produk sanitasi yang mengandung plastik dan bahan kimia pada suhu rendah dapat melepaskan dioksin ke udara. Gas ini bersifat karsinogenik yang dapat memicu kanker dan gangguan sistem reproduksi jika terhirup secara rutin.

3. Tidak boleh membuang pembalut di malam hari

Pexels/Karola G

Kepercayaan melarang membuang pembalut saat matahari sudah terbenam karena dianggap dapat mengundang energi negatif atau gangguan makhluk halus. Karena hal ini membuat perempuan menumpuk pembalut bekas di dalam kamar mandi selama semalam penuh sebelum dibuang keesokan paginya.

Padahal, membiarkan pembalut bekas terbuka di dalam ruangan justru memicu pertumbuhan bakteri dan bau tidak sedap. Mayo Clinic menekankan bahwa menjaga kebersihan selama menstruasi tidak mengenal waktu. Pembalut sebaiknya diganti dan dibuang setiap 4 hingga 6 jam sekali, kapan pun itu, untuk mencegah penumpukan kuman yang dapat menyebabkan infeksi saluran kemih.

4. Harus mencuci pembalut menggunakan kaki

Pexels/Karola G

Kepercayaan di beberapa daerah, anggapan bahwa tangan tidak boleh menyentuh darah haid karena dianggap sangat najis, sehingga pembalut harus diinjak-injak dengan kaki saat dibersihkan. Mitos ini memposisikan darah menstruasi sebagai sesuatu yang sangat kotor dan berbahaya secara spiritual.

Faktanya, darah haid hanyalah jaringan peluruhan dinding rahim yang normal dan tidak mengandung racun seperti dilansir Cleveland Clinic.

5. Membuang pembalut sembarangan bisa terkena penyakit tertentu

Pexels/Sora Shimazaki

Ada mitos yang mengatakan jika seseorang membuang pembalut sembarangan, akan terkena penyakit kulit yang tidak bisa disembuhkan secara medis atau "dikerjai" oleh makhluk gaib. Hal ini digunakan sebagai ancaman agar perempuan lebih berhati-hati dalam mengelola limbah menstruasinya.

Dampak negatif membuang pembalut sembarangan memang nyata, tetapi ditinjau dari sisi kesehatan publik alasannya berbeda. Journal of Environmental and Public Health menjelaskan bahwa limbah pembalut yang tidak dikelola dengan benar dapat mencemari sumber air dan menjadi vektor penyakit menular.

6. Pembalut sekali pakai menyebabkan kanker serviks

Pexels/Cliff Booth

Kekhawatiran mengenai bahan pemutih (klorin) pada pembalut yang dianggap bisa meresap ke dalam rahim dan memicu kanker serviks sangat sering beredar di media sosial. Hal ini menimbulkan ketakutan massal bagi pengguna pembalut pabrikan dan membuat mereka beralih ke metode lain tanpa dasar medis yang kuat.

Informasi ini telah dibantah secara tegas oleh banyak ahli. American Cancer Society menyatakan bahwa penyebab utama kanker serviks adalah infeksi virus HPV (Human Papillomavirus) yang biasanya menular melalui aktivitas seksual.

7. Penularan kanker melalui sampah pembalut

Freepik

Mitos ini menyebutkan bahwa jika kita tidak sengaja menyentuh sampah pembalut milik pengidap kanker, maka kita akan tertular penyakit yang sama. Kepercayaan ini membuat banyak orang merasa jijik dan takut secara berlebihan terhadap limbah menstruasi di tempat sampah umum.

Kanker bukanlah penyakit menular seperti flu atau infeksi bakteri. Menurut National Institutes of Health (NIH), kanker disebabkan oleh mutasi genetik dalam sel tubuh seseorang dan tidak dapat berpindah melalui kontak fisik dengan limbah atau darah haid.

8. Bahan kimia pembalut menyebabkan kemandulan

Pexels/Kaboompics.com

Banyak perempuan khawatir bahwa paparan zat kimia seperti phthalates dalam pembalut sekali pakai dapat merusak sel telur atau mengganggu kesuburan dalam jangka panjang. Ketakutan ini sering kali digunakan untuk memasarkan produk alternatif yang diklaim "organik" namun belum tentu memiliki izin edar resmi.

Penelitian dalam jurnal BJOG (International Journal of Obstetrics & Gynaecology) memang mencatat adanya jejak kimia dalam produk menstruasi, namun kadarnya pada produk yang tersertifikasi masih dalam batas aman. Selama pembalut memiliki izin resmi dari otoritas kesehatan, risiko terhadap sistem reproduksi sangatlah rendah dibandingkan faktor gaya hidup dan genetik.

9. Pembalut beraroma menghilangkan bau darah haid

Pexels/Kaboompics.com

Strategi pemasaran pembalut beraroma bunga atau daun sirih menciptakan persepsi bahwa vagina yang sehat saat haid harus berbau harum. Hal ini membuat wanita merasa tidak percaya diri dengan aroma alami tubuhnya dan memilih produk dengan pewangi tambahan.

Penggunaan pewangi pada pembalut justru sangat berisiko. Healthline menjelaskan bahwa bahan kimia pewangi dapat mengganggu keseimbangan pH vagina dan memicu dermatitis kontak atau iritasi parah. Darah haid yang sehat memang memiliki aroma logam yang khas, dan cara terbaik mengatasinya adalah dengan rutin mengganti pembalut.

10. Perekat pembalut menjadi pemicu keputihan

Pexels/Kaboompics.com

Beberapa anggapan menyebutkan bahwa lapisan lem atau perekat di bagian bawah pembalut dapat menghambat sirkulasi udara di area kewanitaan dan menyebabkan keputihan yang parah.

Padahal fungsi perekat hanyalah untuk menjaga posisi pembalut agar tidak bergeser dari celana dalam. Harvard Health Publishing mencatat bahwa keputihan abnormal biasanya disebabkan oleh pertumbuhan jamur atau bakteri akibat kelembapan tinggi, bukan karena lem perekat.

11. Pembalut herbal bisa mengobati penyakit kronis

Unsplash/The Female Company

Di Indonesia, sempat viral tren pembalut herbal yang diklaim mengandung berbagai ekstrak tumbuhan untuk menyembuhkan kista, miom, hingga melancarkan peredaran darah. Banyak masyarakat percaya bahwa menghirup aroma atau memakai pembalut jenis ini dapat mendetoksifikasi rahim dan mengeluarkan "darah kotor" yang membeku sebagai tanda kesembuhan.

Secara medis, klaim ini sangat menyesatkan dan tidak memiliki dasar ilmiah. Mayo Clinic menjelaskan bahwa fungsi utama pembalut hanyalah sebagai alat penyerap eksternal, bukan media pengobatan atau detoksifikasi rahim. 

Itulah tadi deretan mitos pembalut yang masih banyak dipercaya. Mana mitos yang paling sering kamu dengar di sekitar?

Editorial Team