Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Pasien ICU Rentan Kebal Antibiotik, Ini Kata Spesialis Anestesi!

Pasien ICU Rentan Kebal Antibiotik, Ini Kata Spesialis Anestesi!
Unsplash/Richard Catabay
Share Article

Perawatan ICU (Intensive Care Unit) merupakan bentuk perawatan medis intensif yang diberikan kepada pasien yang mengalami kondisi medis serius atau mengancam jiwa.

Melansir Journal of Pharmacy Practice tahun 2011 berjudul Infectious Diseases in the Critically Ill Patients, sekitar 7 dari 10 orang yang dirawat di ICU menerima antibiotik sebagai salah satu terapi utama untuk menyembuhkan infeksi.

Sayangnya, pasien ICU rentan terhadap ancaman kebal antibiotik atau resistansi antimikroba (AMR) seperti yang diungkapkan oleh dr. Vannesi T. Silalahi, Sp.An, MSc, KIC, dokter spesialis anestesi konsultan perawatan intensif.

Bagaimana penjelasanya? Berikut Popmama.com telah merangkum informasi seputar pasien ICU rentan kebal antibiotik, ini kata spesialis anestesi!

  1. 1. Apa itu resistensi antimikroba (AMR)?

    Unsplash/freestocks
    Unsplash/freestocks

    Menurut World Health Organization (WHO), AMR merupakan singkatan dari antimicrobial resistance atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai resistensi antimikroba.

    "AMR sebetulnya bahasa Inggrisnya itu antimicrobial resistance atau resisten terhadap antimikroba. Jadi, kalau orang awam taunya cuma antibiotik, tapi sebenarnya ini diubah menjadi antimikroba," tutur dokter Vannesi dalam Seminar Peran Nakes dan Keluarga Pasien dalam Mewujudkan Tata Laksana Penggunaan Antimikroba yang Bijak & Rasional di ICU: Tepat Waktu, Tepat Pasien, Tepat Guna, pada Rabu (6/9/2023).

    Dokter Vannesi menambahkan, antimikroba bisa diakibatkan oleh bakteri, virus, dan jamur. Masing-masing penyebab ini diberikan obat khusus baik antiobiotik, antijamur, atau antivirus.

    Di sisi lain, AMR juga bisa dialami oleh siapa saja, namun yang paling rentan terkena ialah pasien ICU karena memiliki kekebalan tubuh kompromi. 

  2. 2. Pasien ICU lebih rentan terkena AMR

    Unsplash/National Cancer Institute
    Unsplash/National Cancer Institute

    Pasien ICU sering kali menerima antibiotik untuk mengobati atau mencegah infeksi. Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat memicu perkembangan resistensi antimikroba, di mana bakteri menjadi resisten atau kebal terhadap efek antibiotik.

    "Risiko terjadinya AMR karena penggunaan antimikroba tidak tepat pasien, tidak tepat guna, (dan) tidak tepat waktunya," tutur dokter Vannesi. 

    Dokter Vannesi selaku spesialis anestesi menambahkan, pasien ICU lebih rentan terkena AMR karena daya tahan tubuh yang telah rendah. Pasien ICU juga seringkali menerima obat yang lebih kuat untuk mengatasi infeksi serius.

    "Kita perlu harus antibiotik atau antimikroba yang jitu yang benar-benar tepat guna, indikasinya pas, timing-nya pas," tambahnya. 

  3. 3. Pasien kebal antibiotik

    Unsplash/Dina Polekhina
    Unsplash/Dina Polekhina

    Pasien ICU sering kali menghabiskan waktu yang lebih lama di rumah sakit dibandingkan dengan pasien yang dirawat di unit lain.

    Lama waktu perawatan ini dapat meningkatkan eksposur pasien terhadap berbagai jenis antibiotik dan memicu perkembangan resistensi atau kekebalan terhadap antibiotik atau antimikroba.

    Untuk itu, kita tidak dianjurkan untuk sembarangan mengonsumsi antibiotik. WHO telah mengidentifikasi beberapa faktor yang berkontribusi pada resistensi antimikroba, termasuk penggunaan yang berlebihan atau tidak tepat.

    "Kalau obat itu udah resisten dengan tubuhnya pasien kebal, maka itu udah enggak mempan lagi," ungkap dokter Vannesi.

    "Jadi, ini yang sangat ditakuti karena WHO aja udah bilang tahun 2019 bahwa gara-gara resistensi terhadap antimikroba ini menyebabkan kematian sampai 1,27 juta," tambahnya. 

  4. 4. Tepat waktu pemberian antibiotik

    Unsplash/National Cancer Institute
    Unsplash/National Cancer Institute

    Perlu Mama ketahui, ketika antibiotik diberikan tepat waktu dan hanya pada kasus-kasus yang memang memerlukannya, penggunaan antibiotik menjadi lebih efisien.

    Ini berarti antibiotik digunakan hanya pada infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan bukan pada infeksi yang disebabkan oleh virus atau kondisi lain yang tidak merespons antibiotik.

    Seperti yang sudah dijelaskan dokter Vannesi, jika penyebab infeksi karena virus, maka perlu diberikan antivirus, sedangkan infkesi karena jamur perlu diberikan antijamur. Tentunya, kondisi ini perlu ditangani oleh dokter.

    Dokter Vannesi juga menambahkan, ada hubungan yang erat antara sepsis atau infeksi yang merajalela dalam tubuh dengan AMR.

    "Memang banyak sekali hal yang menggunakan antimikroba terutama sepsis, itu 70% kalau sepsis syok menyebabkan kematian," tuturnya.

  5. 5. Pentingnya dukungan keluarga

    Freepik/tirachardz
    Freepik/tirachardz

    Apakah keluarga Mama tengah berada di ICU? Jika iya, perlunya dukungan psikologis dari keluarga untuk pasien ICU karena memiliki dampak yang signifikan pada perjalanan penyembuhan. 

    "Pertama, psikologis keluarga itu sangat membuat pasien bisa sembuh," tutur dokter Vannesi.

    "Kedua, komunikasi itu sangat membuat pasien sembuh. Mungkin kita tidak bisa bicara langsung dengan pasien, tapi keluarga ini yang perlu tahu dan kalau keluarganya merasa nyaman, entah bagaimana itu ketransfer ke pasien," tambahnya.

    Dalam beberapa situasi, keluarga juga dapat berperan dalam pengambilan keputusan medis yang kritis. Dukungan dari keluarga dapat membantu pasien dan tim medis dalam merencanakan perawatan yang sesuai.

    Nah, itu dia informasi seputar pasien ICU rentan kebal antibiotik, ini kata spesialis anestesi! Semoga bermanfaat.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More