6 Penyebab Herpes Genital pada Perempuan yang Sering Disepelekan

- Kontak seksual dengan pasangan terinfeksi adalah penyebab utama herpes genital pada perempuan
- Seks oral dari pasangan yang membawa HSV-1 dapat menyebabkan herpes genital pada perempuan
- Kontak kulit-ke-kulit tanpa penetrasi juga dapat menularkan virus herpes pada perempuan
Herpes genital adalah infeksi menular seksual (IMS) yang disebabkan oleh virus Herpes Simplex (HSV), terutama tipe HSV-2, dan kadang HSV-1. Meskipun tidak selalu menimbulkan gejala, herpes genital tetap menular.
Virus ini menyerang area genital, termasuk vagina, vulva, penis, atau anus, dan dapat menimbulkan gejala seperti lepuhan kecil berisi cairan, rasa gatal, nyeri, atau perih saat buang air kecil.
Banyak perempuan masih salah kaprah mengira herpes hanya muncul karena kebersihan buruk, padahal penyebab utamanya adalah virus herpes simpleks (HSV) yang menular melalui kontak kulit atau cairan tubuh.
Untuk lebih jelasnya, Popmama.com akan memberikan 6 penyebab herpes genital pada perempuan yang sering disepelekan. Yuk simak!
1. Kontak seksual vaginal atau anal dengan pasangan terinfeksi

Menurut CDC (Centers for Disease Control and Prevention), penyebab utama herpes genital adalah kontak seksual vaginal atau anal dengan pasangan yang membawa virus HSV.
Virus dapat berpindah dari sel kulit atau mukosa genital pasangan ke area vagina, labia, atau sekitar vulva. Bahkan jika pasangan tidak menunjukkan gejala, virus tetap bisa aktif dan menular.
Pada perempuan, area genital lebih sensitif dan memiliki jaringan mukosa luas yang mudah ditembus virus, sehingga risiko penularan lebih tinggi. Kontak yang terjadi berulang kali atau dengan pasangan yang mengalami serangan aktif meningkatkan peluang infeksi.
Mengetahui riwayat pasangan seksual dan praktik seksual aman menjadi langkah awal penting bagi Mama.
2. Seks oral dari pasangan yang membawa HSV-1

Dulu HSV-1 identik dengan herpes mulut, tapi kini semakin banyak kasus herpes genital pada perempuan yang disebabkan HSV-1 akibat seks oral. Perempuan yang sebelumnya tidak terinfeksi HSV-2 tetap bisa mendapat HSV-1 di genital melalui cara ini.
Menurut Cleveland Clinic, virus bisa berpindah dari mulut pasangan ke area genital selama kontak oral, bahkan ketika pasangan tidak menunjukkan luka atau gejala.
Gejala bisa mirip dengan herpes genital HSV-2, seperti lepuhan kecil, nyeri, dan rasa panas di area genital. Inilah alasan mengapa praktik seks oral aman, misalnya menggunakan pelindung dental dam, sangat dianjurkan.
3. Kontak kulit-ke-kulit tanpa penetrasi

Herpes genital tidak selalu membutuhkan penetrasi seksual untuk menular. Menurut CDC, sentuhan kulit ke kulit di area vulva, selangkangan, atau pubis saja sudah cukup bagi virus untuk berpindah.
Misalnya, stimulasi genital atau kontak intim tanpa penetrasi tetap dapat menularkan HSV. Hal ini membuat herpes genital berbeda dari penyakit menular seksual lain yang hanya menular lewat cairan tubuh.
Risiko tetap ada meski Mama memakai kondom, karena kondom tidak menutupi seluruh permukaan kulit yang berisiko terinfeksi. Oleh karena itu, kehati-hatian dalam semua bentuk kontak intim tetap diperlukan.
4. Paparan virus saat pasangan sedang shedding

Virus herpes bisa aktif di kulit meski tidak ada luka atau lepuhan. Fase ini disebut viral shedding dan sering terjadi tanpa gejala (asymptomatic shedding).
Menurut WHO, sekitar 70–90% penularan herpes genital terjadi saat pasangan sedang shedding, bukan ketika ada lepuhan aktif. Pada fase ini, virus ada di permukaan kulit atau selaput lendir dan dapat menular ke perempuan.
Hal ini menjadi salah satu tantangan terbesar karena Mama mungkin terpapar tanpa menyadari risiko. Memahami fenomena viral shedding membantu Mama lebih waspada terhadap infeksi meski pasangan tampak sehat.
5. Sistem kekebalan tubuh menurun

Perempuan dengan imun lemah lebih rentan terinfeksi atau mengalami serangan ulang herpes. Faktor yang mempengaruhi imun termasuk stres berkepanjangan, kurang tidur, penyakit kronis, atau konsumsi obat imunosupresif.
Menurut Cleveland Clinic, virus HSV yang sebelumnya dorman dapat aktif kembali ketika daya tahan tubuh turun. Pada kondisi ini, gejala muncul lebih cepat, intensitas nyeri lebih tinggi, dan proses penyembuhan bisa lebih lama.
Oleh karena itu, menjaga pola hidup sehat, makan bergizi, dan mengelola stres sangat penting bagi Mama untuk mencegah kekambuhan.
6. Riwayat banyak pasangan seksual

Menurut WHO, semakin banyak pasangan seksual, semakin besar kemungkinan paparan terhadap HSV. Ini bukan soal moral, tapi probabilitas virus bertemu kulit atau mukosa yang rentan.
Baik HSV-1 maupun HSV-2 dapat menular melalui kontak kulit-ke-kulit, sehingga riwayat seksual berpengaruh signifikan pada risiko infeksi. Perempuan yang berganti-ganti pasangan tanpa praktik seks aman berisiko lebih tinggi terinfeksi virus yang sama maupun berbeda jenisnya.
Herpes genital pada perempuan paling sering disebabkan kontak seksual dengan pasangan terinfeksi, seks oral, kontak kulit, viral shedding, imun menurun, dan riwayat banyak pasangan.
Dengan mengetahui 6 penyebab herpes genital pada perempuan ini, Mama bisa lebih waspada, mencegah infeksi, dan menjaga kesehatan diri dengan lebih baik.



















