Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
7 Perbedaan Bintik Merah DBD dan Campak, Kenali Ciri Khasnya!
Pexels/Ignacio Vazquez
  • Ruam DBD tampak seperti pulau putih di tengah lautan merah dan tersebar, sedangkan campak berbentuk makulopapular yang menyatu serta terasa sedikit menonjol saat diraba.
  • Campak biasanya dimulai dari wajah lalu menyebar ke tubuh, sementara DBD muncul acak di dada, perut, atau kaki tanpa pola penyebaran tertentu.
  • Bintik DBD tidak memucat saat ditekan karena perdarahan bawah kulit, sedangkan ruam campak memucat sesaat dan sering disertai batuk, pilek, serta mata merah.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Menemukan bintik merah di kulit saat sedang demam memang bisa membuat panik. Wajar saja, karena kondisi ini sering dikaitkan dengan dua penyakit yang cukup serius, yaitu demam berdarah dengue (DBD) dan campak

Sekilas, keduanya terlihat mirip. Sama-sama muncul ruam kemerahan di kulit dan juga disertai demam. Tapi sebenarnya, keduanya memiliki perbedaan yang cukup jelas jika diperhatikan lebih teliti.

Dengan mengenali ciri-cirinya sejak awal, Mama bisa lebih cepat mengambil langkah yang tepat sebelum kondisi semakin memburuk. Untuk itu, Popmama.com akan membahas 7 perbedaan bintik merah DBD dan campak yang perlu Mama ketahui.

1. Pola visual dan warna bintik

Pexels/Pavel Danilyuk

Kalau diperhatikan dengan saksama, tampilan bintik merah pada DBD dan campak sebenarnya berbeda. 

Dilansir dari Trishnanda Care Centre, ruam pada DBD sering digambarkan seperti pulau putih di tengah lautan merah. Artinya, kulit terlihat memerah, tapi masih ada titik-titik kecil yang tampak normal di antaranya.

Sementara itu, menurut World Health Organization (WHO), ruam campak biasanya berbentuk makulopapular, yaitu bintik merah yang cenderung menyatu dan membentuk bercak yang lebih besar. Bahkan, beberapa bagian bisa terasa sedikit menonjol saat diraba. 

Jadi, secara tampilan, campak terlihat lebih menyatu, sedangkan DBD cenderung lebih tersebar.

2. Lokasi awal dan arah penyebaran

Pexels/Gustavo Fring

Perbedaan berikutnya bisa dilihat dari mana bintik pertama kali muncul.

Sebagaimana dijelaskan oleh Valley Children’s Healthcare, ruam campak biasanya dimulai dari area wajah, terutama di sekitar garis rambut atau belakang telinga. Setelah itu, bintik akan menyebar ke leher, lalu turun ke tubuh hingga kaki dalam beberapa hari.

Berbeda dengan DBD, berdasarkan laporan dalam Journal of Travel Medicine Oxford Academic, bintik merah pada DBD lebih sering muncul di bagian tubuh seperti dada, perut, lengan, atau kaki tanpa pola penyebaran yang teratur. Tidak ada alur turun yang jelas seperti pada campak.

3. Reaksi saat ditekan

Pexels/cottonbro studio

Salah satu cara sederhana untuk membedakan keduanya adalah dengan menekan bintik tersebut. 

Melansir dari artikel yang dipublikasikan PubMed Central, bintik pada DBD biasanya berupa petekie, yaitu perdarahan kecil di bawah kulit. Karena itu, bintik ini tidak akan hilang atau memucat saat ditekan.

Sebaliknya, ruam campak umumnya akan memucat sesaat ketika ditekan. Hal ini terjadi karena ruam campak disebabkan oleh peradangan, bukan perdarahan di bawah kulit. 

Perbedaan ini cukup penting karena berkaitan langsung dengan kondisi medis yang terjadi di dalam tubuh.

4. Waktu munculnya ruam

Pexels/Tima Miroshnichenko

Merujuk pada Prince Court Medical Center, ruam campak biasanya muncul saat demam sedang tinggi-tingginya. Ketika kondisi tubuh sedang berada di fase yang cukup berat.

Sementara itu, pada DBD, ruam bisa muncul dalam dua tahap. Ada yang muncul di awal demam, dan ada juga yang muncul saat demam mulai turun yang justru lebih jelas terlihat. Fase ini sering disebut sebagai fase kritis, dan biasanya disertai rasa gatal, terutama di telapak tangan dan kaki.

5. Gejala penyerta yang berbeda

Pexels/Gustavo Fring

Selain bintik merah, gejala lain juga bisa membantu membedakan kedua penyakit ini. 

Dikutip dari jurnal publikasi ResearchGate, campak hampir selalu disertai dengan gejala yang dikenal sebagai “3C”, yaitu batuk (cough), pilek (coryza), dan mata merah atau berair (conjunctivitis).

Sebaliknya, DBD lebih sering ditandai dengan nyeri tubuh yang cukup hebat. Penderita DBD biasanya merasakan sakit di belakang mata, nyeri otot dan sendi, serta mual. Gejala seperti batuk dan pilek justru jarang ditemukan pada DBD.

6. Tanda khas di dalam mulut

Pexels/cottonbro studio

Penderita campak biasanya memiliki koplik’s spots, yaitu bintik putih kecil di bagian dalam pipi yang terlihat seperti butiran garam di atas latar kemerahan. Tanda ini sangat khas untuk campak dan tidak ditemukan pada DBD. 

Sebaliknya, pada DBD, kondisi yang mungkin muncul justru gusi yang mudah berdarah, bukan bintik putih seperti pada campak.

7. Kondisi kulit setelah sembuh

Pexels/SHVETS production

Setelah ruam menghilang, kondisi kulit penderita DBD dan campak juga bisa berbeda. 

WHO menjelaskan bahwa ruam campak biasanya akan berubah warna menjadi kecokelatan sebelum akhirnya memudar. Dalam beberapa kasus, kulit juga bisa sedikit mengelupas.

Sementara pada DBD, bintik merah umumnya menghilang tanpa meninggalkan bekas yang berarti. Kulit akan kembali seperti semula, kecuali jika terjadi komplikasi yang lebih serius.

Itu dia 7 perbedaan bintik merah DBD dan campak. Setelah memahami perbedaannya, penting untuk segera mendapatkan penanganan yang tepat sesuai dengan gejala yang diderita.

FAQ Tentang DBD dan Campak

1. Apakah campak membuat trombosit turun?

Ya, infeksi virus campak dapat menyebabkan trombosit turun (trombositopenia). Penurunan ini terjadi karena virus campak menyerang sumsum tulang atau memicu respon imun yang menghancurkan trombosit, mengakibatkan memar atau perdarahan ringan, meskipun kasus penurunan ekstrem lebih sering dikaitkan dengan demam berdarah (DBD).

2. Apa ciri-ciri fase kritis DBD?

Ciri demam berdarah (DBD) yang memasuki fase kritis (biasanya 24-48 jam setelah demam turun) meliputi nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, gusi/hidung berdarah, lemas ekstrem, hingga napas cepat.

3. Apa yang dirasakan jika trombosit turun?

Saat trombosit turun (trombositopenia), tubuh umumnya merasakan gejala perdarahan mudah terjadi, memar tanpa sebab jelas (warna biru/ungu), bintik merah kecil (petechiae) pada kulit, mimisan, gusi berdarah, kelelahan, dan menstruasi berat.

Editorial Team