Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
For
You

Sejarah Rujak Bebeg dan Perjalanan Kuliner Khas Sunda

Sejarah Rujak Bebeg dan Perjalanan Kuliner Khas Sunda
Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI
Intinya Sih

  • Rujak Bebek berasal dari tradisi Sunda dan menggunakan teknik menumbuk bahan makanan secara kasar dengan alu kayu, memanfaatkan hasil kebun sebagai camilan rumahan.

  • Rujak Bebek memiliki kedudukan istimewa dalam upacara adat masyarakat Jawa dan Sunda, dipercaya sebagai pertanda jenis kelamin bayi di dalam kandungan.

  • Komposisi bahan Rujak Bebek terdiri dari buah mentah yang keras dan rasa sepat, ditumbuk bersama bumbu inti seperti terasi, gula merah, garam, cabai rawit, dan air asam jawa.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Pernahkah Mama dan Papa mendengar bunyi ritmik "tuk-tuk-tuk" dari alu kayu yang beradu dengan lumpang kecil di pinggir jalan?

Rujak Bebek atau sering disebut Rujak Bebeg adalah kuliner tradisional khas masyarakat Sunda, Jawa Barat, yang namanya diambil dari proses pembuatannya yaitu "dibebeg" atau ditumbuk hingga lumat dan bumbunya meresap sempurna.

Di tengah gempuran camilan modern di awal tahun 2026 ini, Rujak Bebek tetap menjadi primadona karena sensasi rasa asam, manis, dan pedasnya yang mampu membangkitkan semangat seketika.

Untuk lebih dalam mengetahuinya, Popmama.com telah merangkum sejarah Rujak Bebek, hingga perjalanan kuliner khas Madura. Yuk simak penjelasannya dibawah ini.

Table of Content

Akar Tradisi dari Tanah Pasundan

Akar Tradisi dari Tanah Pasundan

Sejarah Rujak Bebek dan Perjalanan Kuliner Khas Sunda
Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Secara historis, Rujak Bebek merupakan warisan kuliner asli masyarakat Sunda yang sudah ada sejak zaman dahulu sebagai camilan rumahan yang memanfaatkan hasil kebun.

Kata "Bebeg" dalam bahasa Sunda merujuk pada teknik menghancurkan bahan makanan dengan cara ditumbuk secara kasar menggunakan mortar dan pestle kayu.

Tradisi ini dulunya sering dilakukan oleh para ibu di pedesaan saat berkumpul di siang hari, di mana mereka saling berbagi buah-buahan mentah hasil petikan sendiri.

Mama dan Papa bisa melihat bahwa hingga saat ini, keaslian teknik menumbuk dalam lumpang kayu tetap dipertahankan oleh para penjual keliling karena diyakini mampu mengeluarkan sari buah secara maksimal dibandingkan jika hanya diiris.

Filosofi Ritual dalam Upacara Adat

Sejarah Rujak Bebek dan Perjalanan Kuliner Khas Sunda
Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Lebih dari sekadar camilan pinggir jalan, Rujak Bebek memiliki kedudukan istimewa dalam upacara adat masyarakat Jawa dan Sunda, terutama dalam tradisi Tujuh Bulanan atau Naloni Mitoni.

Konon, rasa dari rujak yang dibuat dalam acara tersebut dipercaya sebagai pertanda jenis kelamin sang bayi di dalam kandungan.

Jika hasil tumbukan rujaknya terasa sangat pedas, banyak orang tua zaman dulu percaya bahwa bayinya akan lahir laki-laki, sedangkan jika rasanya cenderung manis atau segar, maka bayinya adalah perempuan.

Mama dan Papa tentu setuju bahwa mitos unik ini menambah nilai sakral dan kegembiraan tersendiri dalam merayakan kehadiran anggota keluarga baru.

Komposisi Bahan yang "Menantang" Lidah

Sejarah Rujak Bebek dan Perjalanan Kuliner Khas Sunda
Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Keunikan utama Rujak Bebek terletak pada pemilihan buahnya yang cenderung mentah, keras, dan memiliki rasa sepat, seperti pisang batu (pisang klutuk), jambu air, kedondong, hingga ubi ungu.

Bahan-bahan ini ditumbuk bersama bumbu inti yang terdiri dari terasi, gula merah, garam, cabai rawit, dan sedikit air asam jawa.

Penggunaan pisang klutuk di sini bukan tanpa alasan, selain memberikan tekstur, pisang ini berfungsi sebagai penyeimbang rasa agar perut tidak kaget saat menerima sensasi asam dan pedas yang kuat.

Papa mungkin sering merasakan bahwa justru kombinasi rasa sepat dan pedas inilah yang membuat Rujak Bebek terasa sangat nagih dibandingkan rujak potong biasa.

Simbol Kebersamaan dan Kesederhanaan

Sejarah Rujak Bebek dan Perjalanan Kuliner Khas Sunda
Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Dahulu, Rujak Bebek adalah simbol kerukunan antar tetangga karena proses pembuatannya yang dilakukan secara gotong royong di teras rumah.

Bahan buah-buahan biasanya berasal dari sumbangan setiap orang yang ikut berkumpul, kemudian ditumbuk bersama-sama dalam satu lumpang besar untuk dinikmati bersama.

Mama bisa merasakan bahwa setiap suapan Rujak Bebek membawa memori akan suasana pedesaan yang asri dan kehangatan interaksi antar warga yang kini mulai jarang ditemukan di kota besar.

Adaptasi di Era Modern dan Kelestarian Rasa

Sejarah Rujak Bebek dan Perjalanan Kuliner Khas Sunda
Popmama.com/Nita Ayu Amalia/AI

Di tengah modernisasi alat dapur, Rujak Bebek adalah satu dari sedikit kuliner yang menolak penggunaan mesin blender atau food processor.

Para penjual setuju bahwa gesekan antara alu dan buah dalam lumpang kayu menciptakan suhu dan tekstur tertentu yang menjaga aroma buah tetap autentik.

Di tahun 2026, Rujak Bebek juga mulai masuk ke menu-menu kafe bertema tradisional sebagai sajian pencuci mulut yang eksotis dan sehat karena kaya akan serat alami.

Papa dan Mama kini bisa menemukan variasi Rujak Bebek yang lebih higienis, namun dengan teknik pembuatan yang tetap setia pada pakem leluhur demi menjaga warisan rasa Pasundan.

Ternyata di balik bunyi tumbukannya yang khas, Rujak Bebek menyimpan filosofi mendalam tentang tradisi keluarga dan kearifan lokal dalam mengolah hasil alam.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Denisa Permataningtias
EditorDenisa Permataningtias
Follow Us

Latest in Life

See More