Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ternyata Abu Vulkanik Bisa Mengiritasi Kulit, Pemilik Eksim Wajib Hati-Hati
Freepik
  • Abu vulkanik dapat mengiritasi kulit karena partikelnya keras dan abrasif, terutama jika digosok atau menempel terlalu lama.

  • Orang dengan eksim, kulit sangat kering, luka terbuka, atau kulit yang sedang iritasi perlu lebih berhati-hati karena lapisan pelindung kulitnya lebih rentan.

  • Jika terkena abu, bilas dengan air bersih, cuci secara lembut, keringkan tanpa menggosok, lalu gunakan pelembap tanpa pewangi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ketika hujan abu vulkanik terjadi, lapisan tipis berwarna abu-abu dapat menempel di wajah, tangan, rambut, pakaian, hingga berbagai permukaan di rumah. Karena sekilas tampak seperti debu biasa, abu vulkanik mungkin langsung diseka menggunakan tangan atau handuk.

Padahal, cara tersebut justru dapat membuat kulit semakin teriritasi.

Abu vulkanik bukanlah abu hasil pembakaran biasa. Material ini terdiri dari pecahan batuan, mineral, dan kaca vulkanik berukuran sangat kecil. Partikelnya bersifat keras dan abrasif sehingga dapat mengiritasi kulit, mata, maupun saluran pernapasan.

Menurut U.S. Geological Survey (USGS), iritasi kulit akibat abu vulkanik memang bukan keluhan yang umum. Namun, kondisi tersebut tetap dapat terjadi, terutama ketika abu memiliki sifat asam.

Lantas, siapa saja yang lebih rentan mengalami iritasi kulit akibat abu vulkanik dan bagaimana cara membersihkannya dengan aman? Berikut Popmama.com rangkum informasi selengkapnya.

1. Bagaimana abu vulkanik bisa mengiritasi kulit?

Pexels/Jenna Hamra

Ada beberapa mekanisme yang dapat membuat abu vulkanik menyebabkan rasa tidak nyaman pada kulit.

Pertama, partikel abu memiliki permukaan yang tajam dan bersifat abrasif. Ketika menempel pada kulit kemudian digosok, partikel tersebut dapat meningkatkan gesekan dan menyebabkan iritasi. USGS menjelaskan bahwa abu vulkanik terdiri dari pecahan kecil batuan dan kaca vulkanik yang keras, abrasif, serta sedikit korosif.

Kedua, abu yang baru saja terbentuk dapat memiliki lapisan zat yang berasal dari gas vulkanik. Pada kondisi tertentu, permukaan abu dapat bersifat asam karena adanya senyawa yang terbentuk dari gas seperti sulfur dioksida serta hidrogen klorida dan hidrogen fluorida.

Sifat kimia abu dapat berbeda-beda bergantung pada karakteristik erupsi. Jadi, warna atau ketebalan abu saja tidak bisa digunakan untuk menentukan seberapa mengiritasi material tersebut.

Keluhan pada kulit yang mungkin muncul antara lain:

  • Kulit terasa gatal atau perih.

  • Kemerahan atau perubahan warna kulit.

  • Sensasi terbakar atau menyengat.

  • Kulit menjadi kering dan terasa tertarik.

  • Muncul ruam atau peradangan.

  • Penyakit kulit yang sudah ada sebelumnya dapat mengalami kekambuhan.

International Volcanic Health Hazard Network (IVHHN) juga menyebutkan bahwa iritasi dan kemerahan kulit merupakan salah satu efek yang dapat terjadi setelah paparan abu vulkanik, meski bukan merupakan efek yang umum. Menggaruk area yang teriritasi juga dapat meningkatkan risiko infeksi sekunder.

2. Orang dengan eksim mungkin lebih rentan

Freepik

Orang yang memiliki eksim atau dermatitis atopik perlu lebih memperhatikan kondisi kulit selama terjadi hujan abu.

Pada dermatitis atopik, fungsi pelindung kulit dapat terganggu sehingga kulit lebih mudah kehilangan kelembapan dan bereaksi terhadap berbagai iritan.

American Academy of Dermatology (AAD) menyebutkan bahwa orang dengan kondisi yang melemahkan fungsi pelindung kulit, termasuk dermatitis atopik, memiliki risiko lebih tinggi mengalami dermatitis kontak.

Hal tersebut juga didukung oleh penelitian yang dilakukan setelah erupsi Gunung Etna di Italia pada Agustus 2024. Penelitian retrospektif terhadap 67 pasien dermatitis atopik menemukan bahwa 26,9 persen pasien melaporkan gejala kulit yang memburuk setelah terpapar abu vulkanik. 

Peneliti juga menemukan peningkatan skor Eczema Area and Severity Index (EASI), yaitu salah satu ukuran tingkat keparahan dermatitis atopik. Namun, hasil penelitian tersebut belum berarti abu vulkanik menjadi satu-satunya penyebab memburuknya eksim. Faktor lingkungan lain selama erupsi juga dapat berperan. 

Selain orang dengan eksim, mereka yang memiliki kulit sedang iritasi atau mengalami gangguan pada lapisan pelindung kulit juga sebaiknya membatasi kontak dengan abu sebanyak mungkin.

3. Apakah abu vulkanik bisa membakar kulit?

Pexels/kaboompics

Rasa perih atau panas pada kulit setelah terkena abu vulkanik tidak selalu berarti kulit mengalami luka bakar akibat suhu panas.

Abu yang telah terbawa angin dan jatuh di area permukiman umumnya bukan material panas seperti yang berada sangat dekat dengan sumber erupsi. Risiko luka bakar akibat suhu tinggi lebih berkaitan dengan material vulkanik panas, seperti aliran piroklastik atau material erupsi yang masih memiliki suhu tinggi.

Sementara itu, iritasi akibat abu dapat terjadi karena sifat abrasif partikelnya atau karena adanya senyawa asam pada permukaannya. USGS mencatat bahwa abu vulkanik yang baru terbentuk dapat memiliki lapisan senyawa asam dari gas vulkanik.

Paparan gas vulkanik juga perlu dibedakan dari paparan abu. Misalnya, sulfur dioksida (SO₂) dapat mengiritasi kulit, mata, dan saluran pernapasan. WHO juga memasukkan iritasi kulit dan mata akibat hujan asam sebagai salah satu dampak kesehatan yang dapat terjadi dalam erupsi gunung berapi.

Karena itu, jangan mendekati zona bahaya untuk mengetahui apakah material vulkanik masih panas. Ikuti informasi dan arahan resmi dari pihak berwenang mengenai wilayah yang aman untuk dihuni atau dimasuki.

4. Jangan langsung menggosok abu yang menempel

Unsplash/Zach Lucero

Ketika abu vulkanik menempel di wajah atau tangan, refleks pertama mungkin ingin segera mengusapnya.

Namun, sebaiknya jangan menggosok abu dalam kondisi kering. Partikel abu yang keras dan abrasif dapat meningkatkan gesekan pada kulit. Cara yang lebih aman adalah mengurangi kontak langsung dan membersihkannya secara perlahan dengan air.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyarankan masyarakat menghindari kontak dengan abu sebanyak mungkin dan menutupi kulit untuk mengurangi risiko iritasi.

5. Cara membersihkan kulit dari abu vulkanik

Magnific

Jika abu vulkanik menempel di kulit, hindari menggosoknya agar tidak memperparah iritasi. Bersihkan secara perlahan dengan langkah berikut:

  • Bilas dengan air bersih untuk mengangkat partikel abu dari permukaan kulit

  • Cuci dengan lembut menggunakan pembersih ringan tanpa pewangi. Hindari air terlalu panas dan sabun yang keras

  • Keringkan dengan menepuk perlahan, bukan menggosok menggunakan handuk

  • Gunakan pelembap tanpa pewangi setelah kulit dibersihkan untuk membantu menjaga lapisan pelindung kulit

Hindari menggunakan scrub, loofah, atau bahan abrasif untuk mengangkat abu dari kulit. Pakaian yang terkena abu juga sebaiknya dilepas dan dicuci sebelum digunakan kembali.

6. Lindungi kulit saat harus berada di luar rumah

Pexels/Ketut Subiyanto

Cara terbaik untuk mencegah iritasi adalah mengurangi paparan abu.

Jika harus keluar rumah atau membersihkan endapan abu, tutupi kulit dengan pakaian lengan panjang, celana panjang, sarung tangan, dan sepatu tertutup. CDC juga menganjurkan penggunaan pelindung yang sesuai ketika berada di area dengan abu vulkanik.

Namun, perlindungan kulit bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Abu vulkanik juga dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan. Karena itu, masyarakat sebaiknya mengikuti petunjuk resmi terkait penggunaan masker atau respirator dan menghindari aktivitas di luar ruangan ketika paparan abu sedang tinggi.

Pakaian yang terkena abu sebaiknya dilepas sebelum masuk ke area utama rumah dan dibersihkan sebelum digunakan kembali. Abu yang sudah mengendap juga dapat kembali beterbangan ketika tertiup angin atau terganggu oleh aktivitas manusia.

7. Kapan perlu diperiksa dokter?

Pexels/Gustavo Fring

Iritasi ringan dapat membaik setelah paparan dihentikan dan kulit dibersihkan dengan benar. Namun, jangan mengabaikan keluhan yang semakin berat. Segera periksakan diri jika ruam tidak membaik, semakin luas, terasa sangat nyeri, atau mengganggu tidur dan aktivitas sehari-hari.

Pertolongan medis juga diperlukan jika muncul lepuhan yang luas, pembengkakan pada wajah, luka yang mengeluarkan cairan atau nanah, demam, maupun kemerahan yang terus menyebar.

Jika keluhan muncul setelah terkena material vulkanik yang masih panas atau cairan yang diduga sangat asam, jangan mencoba menanganinya sendiri. Segera cari pertolongan medis.

Pada akhirnya, abu vulkanik memang bukan penyebab iritasi kulit yang paling umum. Namun, partikel yang abrasif dan kemungkinan adanya senyawa asam membuat kulit tetap perlu dilindungi selama hujan abu.

Terutama bagi orang dengan eksim atau kondisi kulit yang sedang terganggu, mengurangi paparan dan membersihkan abu dengan cara yang lembut menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan kulit.

Curated For You

Editorial Team

Related Article