- Menggunakan masker saat berada di luar ruangan,
- Tidak menyapu abu vulkanik secara langsung,
- Memberishkan wajah dengan sabun muka yang sesuai,
- Tidak panik dengan bau khas erupsi,
- Mengalihkan aktivitas olahraga luar ruangan ke dalam ruangan.
5 Bahaya Abu Vulkanik bagi Kesehatan, Hindari Paparannya

Erupsi Gunung Anak Krakatau pada 6 September 2026 menyebarkan abu vulkanik ke wilayah Jabodetabek dan Lampung; partikelnya runcing seperti serpihan kaca atau batuan.
Paparan abu dapat mengiritasi mata, hidung, tenggorokan, dan saluran napas, memicu batuk, sesak, nyeri dada, bronkitis, serta meningkatkan risiko ISPA.
Penderita asma, PPOK, anak-anak, lansia, dan warga dengan paparan tinggi lebih rentan; gunakan masker serta pelindung mata, bilas dengan air bersih, dan hindari aktivitas luar ruangan.
Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat abu vulkaniknya menyebar di sejumlah wilayah Jabodetabek dan Lampung pada Minggu (6/9/2026). Paparan abu vulkanik ini tidak boleh disepelekan, sebab dapat berdampak serius terhadap kesehatan.
Berbeda dengan partikel debu biasa, abu vulkanik memiliki bentuk partikel runcing seperti serpihan kaca atau batuan. Paparan abu vulkanik juga berbahaya dan dapat memicu sejumlah gangguan kesehatan.
Masyarakat dihimbau untuk memahami bahaya paparan abu vulkanik dengan menggunakan masker, kaca mata pelindung, hingga membilas dengan air bersih.
Yuk simak beberapa bahaya abu vulkanik bagi kesehatan yang telah Popmama.com rangkum berikut ini!
Table of Content
1. Menimbulkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan

Ilustrasi mata iritasi (magnific.com/user18526052 Abu vulkanik memiliki partikel seperti serpihan kaca yang tajam dan dapat memicu iritasi di sejumlah bagian tubuh. Paparan abu vulkanik ini menimbulkan reaksi iritasi pada mata, seperti mata merah, berair, perih, dan gatal.
Bukan hanya itu, paparan abu vulkanik pada saluran pernapasan juga dapat menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan. Efeknya juga dapat memicu batuk kering hingga sesak atau nyeri dada.
2. Berdampak pada penderita ASMA dan penyakit paru lainnya

ilustrasi asma kambuh (magnific.com/krakenimages.com) Abu vulkanik dapat mengiritasi saluran napas sehingga memicu batuk, sesak napas, dada terasa berat, dan bunyi mengi. Pada penderita asma, paparan abu dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan asma.
Partikel abu yang terhirup dapat menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia juga mencatat bahwa abu vulkanik dapat memperberat kondisi Orang dengan PPOK (penyakit paru obstruktif kronis), bronkitis kronis, atau penyakit paru lainnya.
Paparan vulkanik ini dapat memicu PPOK mengalami peningkatan batuk, produksi lendir, sesak, dan penurunan kemampuan bernapas.
3. Memicu bronkitis atau infeksi saluran napas akut

ilustrasi penderita asma (freepik.com/Benzoix) Paparan abu vulkanik dalam jumlah tinggi atau terus-menerus dapat menyebabkan iritasi dan peradangan saluran pernapasan, sehingga memicu bronkitis dengan gejala seperti batuk, peningkatan dahak, tenggorokan tidak nyaman, dan sesak napas.
Paparan abu ini juga dapat mengganggu mekanisme pertahanan alami saluran pernapasan, sehingga tubuh lebih rentan terhadap infeksi dan dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Gejala yang sering muncul antara lain batuk, pilek, sakit tenggorokan, demam, dan kesulitan bernapas. Jika gejala ini terjadi setelah terpapar abu vulkanik, segera periksakan diri ke dokter, ya!
4. Berisiko lebih besar pada kelompok rentan

Ilustrasi sakit asma (freepik.com/freepik) Menurut paparan dari dr. Ibrahim Nur Insan Putra Dharmawan, Sp. P lewat laman Instagramnya, @dr.ibrahimparu, dampak dari bahaya abu vulkanik terhadap kesehatan dapat lebih besar pada kelompok rentan, di luar dari penderita penyakit saluran pernapasan.
Kelompok anak-anak, lansia, dan juga masyarakat yang terpapar tingkat tinggi, misalnya petugas kebersihan atau warga sekitar area erupsi berisiko mengalami masalah kesehatan akibat abu vulkanik.
5. Dapat mengganggu fungsi paru

Ilustrasi hasil paru-paru. (Pexels.com/Anna Shvets) Partikel abu yang terhirup dapat menumpuk di saluran napas dan paru-paru, sehingga proses bernapas menjadi kurang efektif. Kondisi ini dapat menyebabkan penurunan kapasitas dan fungsi paru, terutama jika paparan terjadi dalam jumlah banyak atau berlangsung berulang.
Paparan terus-menerus dalam waktu lama berisiko menyebabkan silikosis, yaitu jaringan parut permanen yang menurunkan fungsi paru.
Abu vulkanik tidak boleh dianggap sepele karena dampaknya berbahaya bagi kesehatan. Dokter sekaligus influencer, dr. Tirta Mandira Hudhi lewat media sosialnya juga membagikan cara menghadapi abu vulkanik, mulai dari:
Itu dia penjelasan mengenai bahaya abu vulkanik bagi kesehatan. Karena berbeda dengan partikel debu biasa, hindari paparan abu vulkanik selama erupsi, ya!
Sebisa mungkin, hindari aktivitas di luar ruangan, Ma.




















