Mengutip dari laman Wionews, salah satu alasan tree hanging meditation menjadi perbincangan adalah karena praktik ini dianggap menyerupai terapi traksi leher.
Terapi traksi leher merupakan prosedur medis yang membantu menangani kondisi tertentu pada tulang belakang leher, termasuk beberapa kasus gangguan saraf atau nyeri leher.
Namun, terapi traksi yang dilakukan oleh tenaga kesehatan sangat berbeda dengan metode tree hanging meditation.
Dalam prosedur medis, besar gaya tarik, sudut tarikan, serta durasi terapi ditentukan dan disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Kondisi pasien juga perlu dinilai terlebih dahulu untuk memastikan prosedur tersebut sesuai dan aman.
Sebaliknya, ketika seseorang menggantungkan seluruh berat badannya dengan tumpuan pada kepala atau leher, tekanan yang diterima tulang belakang bisa menjadi sulit dikendalikan.
Gerakan mengayun atau tubuh yang berputar juga dapat meningkatkan risiko cedera, terutama jika posisi tubuh tidak stabil. Bahaya praktik ini bukan sekadar bualan semata.
Pada Mei 2024, seorang laki-laki berusia 57 tahun bernama Yang Xu dilaporkan meninggal dunia di Chongqing, China, saat mencoba latihan tree hanging meditation. Insiden ini menjadi pengingat bahwa metode yang dianggap sebagai latihan kebugaran oleh masyarakat belum tentu aman untuk dilakukan sendiri.
Oleh karena itu, apabila Mama mengalami nyeri leher atau memiliki keluhan pada tulang belakang, sebaiknya konsultasikan kondisi tersebut kepada dokter. Jangan mencoba menggantikan terapi medis dengan praktik menggantungkan tubuh yang belum terbukti aman.