Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Apakah Vitamin Harus Diminum pada Jam yang Sama Setiap Hari?

4 min read
Apakah Vitamin Harus Diminum pada Jam yang Sama Setiap Hari?
Pexels.cocottonbro studio
  • Waktu minum vitamin tidak selalu harus persis sama setiap hari; konsistensi dosis dan petunjuk konsumsi lebih penting.

  • Jenis vitamin dan hubungannya dengan makanan turut menentukan waktu konsumsi yang sesuai.

  • Interaksi dengan obat atau mineral lain perlu diperhatikan, dan dosis yang terlewat tidak perlu digandakan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Minum vitamin sering dianggap harus dilakukan pada waktu yang sama setiap hari agar manfaatnya maksimal. Tidak sedikit orang yang bahkan menetapkan jam tertentu, misalnya selalu setelah sarapan atau sebelum tidur.

Padahal, untuk sebagian besar vitamin, tidak ada kewajiban harus diminum pada jam yang persis sama setiap hari.

Hal yang lebih penting justru adalah jenis vitaminnya, apakah perlu dikonsumsi bersama makanan, potensi interaksi dengan obat atau suplemen lain, serta konsistensi agar dosisnya tidak sering terlewat.

Berikut Popmama.com rangkum hal yang perlu diperhatikan saat menentukan waktu minum vitamin.

  1. 1. Vitamin tidak selalu harus diminum pada jam yang sama

    Vitamin tidak selalu harus diminum pada jam yang sama
    Unsplash/Madara

    Untuk kebanyakan vitamin dan suplemen, tubuh tidak mengharuskan konsumsi dilakukan pada jam yang sama persis setiap hari. Jadi, jika biasanya minum vitamin pukul 08.00 lalu suatu hari baru sempat pukul 10.00, hal tersebut umumnya bukan masalah.

    Karena yang lebih penting adalah mengikuti dosis yang dianjurkan dan mengonsumsinya secara konsisten sesuai petunjuk.

    Cleveland Clinic menjelaskan bahwa waktu terbaik minum vitamin lebih banyak berkaitan dengan jenis vitamin dan apakah dikonsumsi bersama makanan, bukan sekadar pagi atau malam hari.

    Jadwal yang tetap tetap boleh dibuat, terutama jika membantu agar tidak lupa. Namun, jadwal tersebut lebih berfungsi sebagai kebiasaan, bukan karena vitamin hanya bekerja optimal pada satu jam tertentu.

  2. 2. Jeda waktu minum vitamin dan makanan lebih penting daripada jamnya

    Jeda waktu minum vitamin dan makanan lebih penting daripada jamnya
    Pexels/Polina Tankilevitch

    Beberapa vitamin lebih dipengaruhi oleh kondisi perut dibandingkan waktu pada jam.

    Vitamin A, D, E, dan K termasuk vitamin larut lemak. Artinya, penyerapannya dapat lebih baik ketika dikonsumsi bersama makanan yang mengandung lemak.

    Penelitian dalam Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics menemukan bahwa penyerapan vitamin D3 lebih tinggi ketika dikonsumsi bersama makanan yang mengandung lemak dibandingkan makanan tanpa lemak.

    Karena itu, daripada terpaku pada aturan “harus pukul sekian”, lebih bermanfaat memperhatikan apakah vitamin tersebut sebaiknya diminum bersama makanan.

  3. 3. Vitamin larut air biasanya lebih fleksibel untuk diminum, perhatikan hal ini!

    Vitamin larut air biasanya lebih fleksibel untuk diminum, perhatikan hal ini!
    Pexels/KATRIN BOLOVTSOVA

    Vitamin B dan vitamin C termasuk vitamin larut air. Kelompok ini umumnya lebih fleksibel soal waktu konsumsi.

    Vitamin tersebut dapat diminum pada pagi, siang, ataupun malam hari, tergantung kenyamanan masing-masing. Jika menyebabkan mual ketika diminum saat perut kosong, mengonsumsinya bersama makanan bisa menjadi pilihan yang lebih nyaman.

    Meski demikian, tidak berarti semakin banyak vitamin larut air yang diminum akan semakin baik. Tubuh tetap memiliki batas kebutuhan, sehingga dosis berlebihan tidak dianjurkan.

  4. 4. Multivitamin biasanya lebih nyaman diminum bersama makanan

    Multivitamin biasanya lebih nyaman diminum bersama makanan
    Magnific

    Multivitamin mengandung campuran berbagai vitamin dan mineral. Karena bisa berisi vitamin larut air sekaligus larut lemak, multivitamin umumnya lebih nyaman dikonsumsi bersama makanan.

    Cara ini juga dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman pada lambung yang terkadang muncul ketika suplemen diminum saat perut kosong.

    Jadi, bila ingin membuat rutinitas, mengaitkannya dengan waktu makan seperti setelah sarapan atau makan siang sering kali lebih praktis daripada harus menetapkan jam tertentu setiap hari.

  5. 5. Beberapa suplemen perlu diberi jarak dari obat atau mineral lain

    Beberapa suplemen perlu diberi jarak dari obat atau mineral lain
    Unsplash/laura adai

    Meski jam yang sama tidak selalu penting, jarak waktu antara suplemen dan obat tertentu justru sebaliknya. Hal ini karena beberapa mineral dapat saling memengaruhi penyerapan. Kalsium dan zat besi, misalnya, sebaiknya tidak selalu diminum bersamaan dalam dosis tinggi karena dapat bersaing dalam proses penyerapan.

    Suplemen tertentu juga dapat berinteraksi dengan obat. Vitamin K, misalnya, perlu diperhatikan pada orang yang menggunakan obat pengencer darah tertentu karena perubahan besar dalam asupan vitamin K dapat memengaruhi kerja obat.

    Dalam kondisi seperti ini, petunjuk dokter atau apoteker lebih penting daripada aturan umum soal pagi atau malam.

  6. 6. Kalau lupa minum vitamin, tidak perlu langsung menggandakan dosis

    Kalau lupa minum vitamin, tidak perlu langsung menggandakan dosis
    Magnific

    Lupa minum vitamin satu kali bisa terjadi. Namun, umumnya tidak perlu menggandakan dosis pada waktu berikutnya hanya untuk mengganti dosis yang terlewat. Mengonsumsi dua kali lipat dosis justru dapat meningkatkan risiko asupan berlebihan, terutama pada vitamin larut lemak yang dapat disimpan di dalam tubuh.

    Lebih aman melanjutkan konsumsi sesuai jadwal berikutnya, kecuali dokter memberikan petunjuk berbeda.

  7. 7. Jadwal tetap berguna agar tidak lupa, tidak harus di jam tertentu

    Jadwal tetap berguna agar tidak lupa, tidak harus di jam tertentu
    Pexels/Nataliya Vaitkevich

    Kesimpulannya, membuat jadwal tetap untuk minum vitamin tetap menjadi kebiasaan yang baik jika membantu konsistensi.

    Namun, alasan utamanya bukan karena tubuh harus menerima vitamin pada jam yang sama setiap hari. Yang lebih penting adalah jenis vitamin, dosis, cara konsumsi, hubungannya dengan makanan, serta kemungkinan interaksi dengan obat atau suplemen lain.

    Jadi, tidak masalah jika waktu minum vitamin sedikit berubah dari hari ke hari. Selama cara konsumsi dan dosisnya tetap sesuai anjuran, manfaatnya tidak otomatis hilang hanya karena diminum satu atau dua jam lebih lambat.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More